Because I'm a Schizoid

Blog Entrygombal yang serius atau serius yang gombal?Jul 4, '08 2:07 PM
for everyone
gombal. lantas saya ngakak sambil mengetikan kata yang sama di laptop putih ini. ngakak tak karuan membaca sekelibat kalimat menggoda tentang rayuan. rayuan lama yang sebetulnya memang gombal belaka. setidaknya itu menurut saya. gombal yang serius. ujarnya. tawa saya mereda sejenak.

serius. lantas saya terdiam mengetik kata yang sama di laptop putih ini. terdiam kala membaca sekelibat kalimat yang menggambarkan keseriusan tanpa rayuan. rayuan lama yang sebetulnya dibutuhkan kala keseriusan seperti itu terkatakan. serius yang gombal. ujar teman-teman saya. dalam keterdiaman saya menyesal.



jakarta, serius... ini gombal!


Blog Entrysayang, aku peduli. mari berbagi ranjang!Jul 4, '08 4:06 AM
for everyone
pernikahan adik saya sebentar lagi akan dilangsungkan. kemarin saya dan ibu sudah disibukan dengan pemilihan kain untuk membuat kebaya keluarga. ditengah kesibukan kami saya bertanya-tanya dalam hati. apakah melangsungkan pernikahan memang selalu sesibuk ini? apakah perayaan penyatuan 2 cinta harus dilaksanakan dengan pesta seperti ini?

saya tergelitik dengan pertanyaan saya sendiri. lalu timbul 1 pertanyaan untuk adik laki-laki saya yang sedang berbahagia itu. apa yang membuat dia yakin bahwa perempuan yang akan mendampinginya di pelaminan nanti adalah perempuan terakhir dan terbaik untuk dia? saya belum pernah bertanya seperti ini, namun mungkin nanti beberapa hari sebelum pernikahannya saya ingin meluangkan waktu untuk mendengar jawabnya - semoga tidak membuat dia berubah pikiran tiba-tiba setelahnya :)

rasa sayang. jika ditanyakan kepada ibu saya pertanyaan yang sama maka jawabnya demikian. bukan cinta? saya ingat ibu terdiam sejenak. rasa peduli. lantas ia menjawab. rasa sayang dan kepedulian. bukan cinta. titik. saya kini yang terdiam. mencerna ujaran ibu yang kala itu masih asing terdengar oleh saya yang duduk di bangku kelas 2 SMU. saya memang selalu awam bila bicara soal cinta. tapi saya yakin, ibu DULU cinta kepada ayah saya hingga memutuskan untuk menikahinya. mungkin juga sampai sekarang - hanya saja teredam oleh luka lamanya.

rasa sayang. rasa peduli. setelah besar saya baru pahami. setelah menemukan seseorang saya baru mengerti. apa arti sayang. apa arti peduli. kepada mereka. terutama mereka yang saya cintai. toh tidak saya cintaipun saya tetap sayang dan peduli. semuanya adalah tentang berbagi.

dulu saya berpikir bahwa jika menikah nanti saya harus bisa menjadi orang bertoleransi tinggi. karena saya akan menghabiskan sisa hidup berdua saja dengan si dia yang saya cintai. yaitu hidup berbagi. berbagi tempat tinggal. berbagi kamar. berbagi ranjang. berbagi selimut. berbagi segelas kopi di pagi hari. berbagi kamar mandi. berbagi channel TV. berbagi hati. berbagi masalah. berbagi tangis. berbagi tawa. berbagi ciuman sebelum tidur. berbagi orgasme. dan banyak lagi berbagi yang lainnya yang membutuhkan toleransi tinggi. saya yang egois ini akhirnya berpikir berulang kali dan menunda untuk menikah.

rasa sayang. rasa peduli. sekali lagi saya kembali merasakan itu kepada dia yang saya cintai dan mereka yang berada di sekitar saya. berpikir tentang rasa sayang. berpikir tentang rasa peduli. berpikir tentang berbagi. saya melakukan itu kepada mereka semua. saya melakukan itu kepada dia yang saya cinta. dan untuk berbagi saya tidak butuh menikah... tapi saya butuh lebih dari rasa sayang dan kepedulian untuk berbagi atas nama cinta dalam pernikahan. saya butuh cinta itu sendiri...

cinta. mungkin itu yang adik saya rasakan kepada calon istrinya. semoga...




jakarta, menikah karena cinta


Blog Entryteriakan saja!Jun 30, '08 4:26 PM
for everyone
saya hanya ingin teriak


teriak di depan mukanya


teriak sampai bisa pecahkan gendang telinganya yang tersumpal ipod


teriak hingga mata sedihnya terpana dan terbuka


teriak hingga seluruh pori yang ada ditubuhnya semerta bisa mendengar



teriak hingga bingar yang tercipta sanggup lepaskan ikatan dihatinya



teriakan demi teriakan yang kemudian akan hancurkan diri saya sendiri



saya ingin dia



saya mau dia



saya cinta...


dia (?)



lalu?



saya teriak



dalam hati saja...







Jakarta, teriak saja!


Blog EntryMelody berhentiJun 29, '08 11:25 AM
for everyone
"jika kehilanganmu bisa membuat aku lebih tenang, mungkin itu jalan yang terbaik..."

Melody berbisik ditelinga Langit. Langit membuka matanya yang terpejam. Hari sudah mulai terang. Ia menatap mata Melody yang sedang menatapnya. Mereka bertatap-tatapan. Lama. Menghentikan waktu sejenak. Sunyi. Tanpa suara. Kosong. Tanpa rasa.

"terbaik untuk siapa?"

Langit bertanya. Datar. Sinis. Dingin. Melody tergetar walau enggan untuk gentar. Ia memandang Langit dengan mata lelahnya. Ia merekam Langit dengan mata sedihnya. Lelah. Sedih. Bahagianya memudar bersamaan dengan kalimat yang ia lontarkan dalam bisikan.

"terbaik untuk ... kita."

Sudah. Kembali meng-kita-kan yang bukan tentang kita lagi. Melody mengutuk dirinya sendiri. Langit tersenyum datar. Ia mencari kebenaran di mata Melody yang semakin sedih. Gelap. Hampa. Lelah. Langit bangun dari tidurnya dan menjauhi Melody. Tubuh telanjangnya tersiram sinar matahari. Indah. Laki-laki itu mengenakan pakaiannya membelakangi Melody.

"tidak pernah ada kita, Melody..."

Titik. Sudah sangat dimengerti. Sudah dipahami betul. Sudah sangat sadar. Sudah tau sekali. Melody ingin memaki. Tak perlu kalimat itu ia dengar sekali lagi. Walau ingin sekali kalimat itu tak pernah terdengar. Terutama dari bibir Langit yang seringkali berpagutan dengan bibirnya di malam-malam sepi. Melody hanya ingin henti. Tanpa harus memaki. Tanpa menjadi benci.

"mau berhenti?"

Hanya itu yang terucap oleh Melody. Menahan maki yang siap muntah dari mulutnya. Langit mendekati raga mungil Melody. Menatap mata perempuan itu sekali lagi. Tak ada sinar lagi di sana. Gelap kembali menguasai. Hitam kembali mewarnai. Langit menghela napas. Mengecup pipi Melody. Beranjak pergi.

"itu pertanyaan atau pernyataan?"

Satu pertanyaan dari Langit mendobrak hati Melody. Hancur. Kembali terkeping. Kembali tersepih. Terserak dalam gelap. Melody terluka.

"itu permintaan..."

Melody tidak menangis. Terlalu getir. Terlalu sinis. Terlalu lelah. Terlalu hancur.

"dikabulkan..."

Langit menjawab tegas. Laki-laki itu pergi.

Melody diam. Mengumpulkan kepingan dan serpihan hatinya yang tersisa dan menyimpannya kembali di dalam peti es yang terkunci rapat lalu menyembunyikannya di pojok gelap rahasianya.







Jakarta, Melody berhenti

Blog Entrykarena aku lelah...Jun 29, '08 10:27 AM
for everyone

kenapa kita tidak saling berpaling dan pergi?

karena aku lelah dengan semumu...


kenapa kita tidak berhenti saja?

karena aku lelah menunggumu...






jakarta, karena aku lelah



Blog Entryme & my sleeping pillsJun 28, '08 6:45 AM
for everyone
my sleeping pills keep on comforting me

my sleeping pills keep creating dreams

my sleeping pills keep me in silence

like the way it supposed to work...






jakarta, me & my sleeping pills

Blog Entrykangen pulangkuJun 26, '08 4:20 AM
for everyone

aku ingin pulang dan memelukmu yang tertidur karena lama menungguku pulang



jakarta, kangen






*Maya is listening to her heart

Blog EntryI wanna be the place you call homeJun 25, '08 6:47 AM
for everyone

I don't wanna be adored

Don't wanna be first in line

Or make myself heard

I'd like to bring a little light

To shine a light on your life

To make you feel loved



No, don't wanna be the only one you know

I wanna be the place you call home



I lay myself down

To make it so, but you don't want to know

I give much more

Than I'd ever ask for



Will you see me in the end

Or is it just a waste of time

Trying to be your friend

Just shine, shine, shine

Shine a little light

Shine a light on my life

Warm me up again



Fool, I wonder if you know yourself at all

You know that it could be so simple



I lay myself down

To make it so, but you don't want to know

You take much more

Than I'd ever ask for



Say a word or two to brighten my day

Do you think that you could see your way



To lay yourself down

And make it so, but you don't want to know

You take much more

Than I'd ever ask for



Hamburg Song by. Keane






**Maya is writing down her thoughts listening to this lovable song...





Blog Entrysebelum sekarangJun 25, '08 2:49 AM
for everyone
Ketika kita belum tiba di sekarang. Siapa kamu. Siapa aku. Kita asing. Kamu tidak kenal aku. Aku tidak kenal kamu. Kita bahkan tidak pernah bertemu. Kita bahkan belum pernah berpapasan di jalan. Kita mungkin tetap asing jika tidak ada satu waktu itu. Waktu yang hanya beberapa menit itu. Waktu yang tergulir tanpa rencana untuk mengenalmu. Waktu yang digulirkan tanpa ada yang tau kita akan bertemu. Kemudian kenal. Dan sampai di sekarang yang rancu.

Ketika kita belum ada di sekarang. Dimana kamu. Dimana aku. Kita asing. Kamu dengan sibukmu. Aku dengan sibukku. Kita bahkan tidak pernah bertatap muka. Kita bahkan belum pernah tau bahwa kita saling ada. Mungkin kita akan tetap begitu. Bila tidak ada satu waktu itu. Waktu yang berjalan tak sesuai inginku. Waktu yang terbuang tak seperti rencanamu. Kemudian bertemu. Lantas kenal. Dan tiba di sekarang yang masih mengabur.

Ketika kita belum tiba di sekarang. Kemana kamu. Kemana aku. Kita yang asing. Kamu tak tau aku. Aku tak tau kamu. Kita bahkan tak pernah tau akan bertemu. Kita bahkan tak pernah mengira mendapati mata beradu. Kita mungkin tidak di sini jika tak ada satu waktu itu. Waktu yang singkat. Waktu yang memikat. Kemudian kata saling menyapa. Kemudian angan saling berpelukan. Lalu berbagi nyamannya pagutan. Dan tiba di sekarang yang tak juga terjelaskan.




Jakarta, ketika kita belum tiba di sekarang


Blog Entrykamu terlambat, sayang...Jun 25, '08 2:00 AM
for everyone
Kamu tiba-tiba ada. Ketika kukira semuanya sudah berakhir. Kamu membawakan senyummu. Ketika aku sudah bisa tersenyum. Dengan senyum yang lain. Kamu merayu dengan pelukan. Yang tak lagi kuharapkan. Karena kini aku memeluk. Pelukan yang lain. Kamu mencumbuku. Dengan hati yang kutunggu. Dulu. Sebelum aku mencumbu hati yang lain. Kamu memberi kecupmu. Saat aku mulai mengecup. Bibir lain. Kamu bilang cinta. Ketika aku sudah percaya. Kepada cinta yang lain. Yang cintai aku. Kamu terlambat. Datang ketika hatiku sudah tertambat. Dengan yang lain. Bukan lagi denganmu.




Jakarta, kamu terlambat


Blog Entrykita lukaJun 24, '08 1:33 AM
for everyone
Kamu dan aku.
Kita adalah luka.
Semakin bersama semakin terluka.
Saling melukai dengan cinta.
Cinta yang bukan untuk kita.
Kita yang punya kisah tak sempurna



Jakarta, bukan untuk kita


Blog Entrytentang bermusikJun 24, '08 1:32 AM
for everyone
Sejak kecil saya sudah hobby sekali mendengarkan musik. Mempunyai pojok khusus di ruang tengah dengan alat pemutar musik dan headphone kebesaran bertengger di kepala. Mendengarkan Chica Koeswoyo atau Yoan Tanamal di sore hari, kadang Soundtrack film The Sound of Music, kadang tembang lawas dari penyanyi-penyanyi cilik yang kurang terkenal. Sedikit menggoyangkan kepala sambil mengamati Ibu tercinta membuatkan makan malam atau membaca majalah. Mengundang senyum beliau yang jarang. Kemudian sore hari setelah mandi itu selalu menjadi sore yang membahagiakan bagi si kecil Maya yang berumur 3 tahun.

Kesukaan saya akan musik di masa kecil mungkin menjadi salah satu yang membentuk pribadi saya saat ini – setidaknya itu pernah saya baca di majalah tentang efek musik klasik terhadap bayi dalam kandungan. Entah mengapa setiap malam sebelum tidur lelap saya meminta Ibu untuk memutarkan lagu-lagu klasik dari tape di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar saya. Hanya sayup-sayup saja. Denting piano klasik dari Richard Clayderman. Dari Pour Ellise sampai Love Story. Dengan volume tepat. Dalam ketenangan yang berpendar tiba-tiba. Si kecil Maya yang berusia 5 tahun berkhayal memainkan pianonya sendiri setiap malam. Hingga terlelap.

Suatu waktu di ruang keluarga saudara sepupu. Saya menemukan piano sungguhan. Suaranya benar-benar berdenting. Begitu klasik. Seklasik wangi kayu yang khas. Tuts hitam putih yang begitu anggun tertata. Saya tergoda untuk menyentuhnya. Saya ingin memilikinya. Begitu saya ternganga menatap benda yang suaranya setiap malam mengiringi tidur saya. Ibu pun bertanya, “kamu benar-benar ingin belajar main piano?”. Mata saya berbinar. Saya menganggukan kepala kencang-kencang. Saya ingin memainkan Pour Ellise saya sendiri. Saya ingin mendentingkan nada-nada Love Story saya sendiri. Saya ingin jari-jari mungil ini berloncatan lincah seperti jari-jari Richard Clayderman yang saya lihat di TV memainkan karya-karya Bethoven, “Tapi kamu masih umur 5 tahun, masih terlalu kecil… nanti tulang jari kamu tumbuh bengkok!” kata Ibu lagi. Tapi saya memaksa. Tapi saya bersikeras. Tapi saya tak peduli jari-jari ini kelak tumbuh bengkok. Saya hanya ingin main piano.

Pojok dengan alat pemutar musik dan headphone besar sore itu digeser ke ruang bermain. Kini menjadi singgasana piano saya. Piano berukuran sedang berwarna coklat. Begitu klasik. Seklasik wangi kayunya yang khas. Tuts hitam putihnya juga begitu anggun tertata. Piano yang mirip dengan kepunyaan sepupu saya. Yang ini punya saya. Punya saya sendiri. Seperti pojok musik yang dulu, ini pun milik saya khusus! Ibu juga memanggil guru les piano privat yang datang setiap hari Senin dan Rabu. Lalu setiap habis makan malam ibu akan duduk manis mendengarkan saya berlatih penuh semangat. Betapa saya cinta kepada Ibu dan sebaliknya.

10 tahun kemudian. Maya kecil kini sudah berumur 16 tahun. Saya tumbuh menjadi gadis pembangkang penyuka musik berdistorsi. Berbekal gitar kopong milik adik laki-laki dan buku cara belajar bermain gitar, saya sempat fasih “menggenjrengkan” alat musik tersebut. Latihan di studio musik dan bergabung dengan band sekolah. Belagak keren. Karena trend anak band. Perempuan bergitar terdengar mentereng. Sempat membuat Ibu jengkel karena acara belajar main gitar selalu saya lakukan di malam hari. Malam-malam yang biasanya Ibu luangkan untuk mendengarkan saya bermain piano. Ibu protes. Ibu mengancam menjual piano. Saya diam. Saya tak ingin kehilangan alat musik yang anggun itu. Tapi saya sedang senang main gitar. Toh setelah 10 tahun belajar saya sudah apal luar kepala cara memainkan Pour Ellise dan Love Story. Sekarang saya ingin memainkan lagu-lagu The Cure; Letter to Ellise dan Love Song salah satunya. Toh judul keduanya terdengar sama…

13 tahun kemudian. Maya remaja kini sudah berusia 29 tahun. Saya tumbuh menjadi perempuan lajang idealis dan romantis. Penat oleh pekerjaan dan kemacetan lalu lintas. Menulis prosa dan puisi tentang cinta, hidup atau luka. Berhenti bermain gitar dan merindukan piano tua yang terpajang kaku di rumah Ibu. Saya pun kangen Ibu, juga kegiatan bermain piano setelah makan malam. Ketika pulang ke rumah beberapa waktu lalu saya membuka tutup piano dan menyentuh tuts hitam putih yang masih anggun dan kokoh itu. Suaranya memang tidak senyaring dentingnya yang dulu. Butuh service sana sini. “Terlalu lama tidak dimainkan…” kata Ibu sambil duduk di samping saya, di bangku piano yang warna joknya sudah diganti. Jari-jari bengkok saya kaku memainkan Pour Ellise.  Saya bahkan tidak bisa memainkan Love Story sampai habis. Ternyata saya tidak lagi se-apal dulu, setidaknya 5 tahun lalu ketika terakhir kali saya menyentuh alat musik klasik itu. Tiba-tiba saya ingin belajar main piano lagi. Seperti halnya belajar mencintai Ibu saya kembali, setelah perbedaan pendapat yang berkepanjangan kemarin.




Jakarta, tentang efek musik dan ibu


Blog Entrysenandung rancukuJun 24, '08 1:31 AM
for everyone
Sepi. Sendu. Senandung yang rancu. Lalu desah. Resah. Gumamkan gelisah. Kemudian menepi. Aku masih sendiri. Rentan karena hati yang terserpih. Pedih. Galauku bernyanyi. Tak bernyali. Tak lantang tekankan rasa. Tertekan asa. Keterlaluan. Berlebihan. Terisak aku seperti yang lalu. Sedih. Lalu tangis. Persis. Seperti yang lampau. Yang tak terjangkau. Melemah. Enggan menjamah. Lalu apa? Ada yang membentak di dalam. Muram. Temaram. Hitam. Pekat yang memeluk. Impian muluk. Tentangmu. Kembalikan kamu-ku! Kembali kepadaku. Aku jengah. Tengadah. Meminta hingga malam menjamah. Sunyi. Sepiku berdiri. Tinggi. Sama seperti harapan. Terlalu sama dan  semakin tak terungkapkan. Bosan. Masih yang lama. Masih drama. Masih tentang rasa. Masih tentang asa. Selalu tentang cinta. Amarah yang teredam. Rindu yang menghujam. Ingin yang tertikam. Lalu apa? Ada hampa yang menghujat. Dingin. Tak lagi ingin. Kembali ingin. Lalu tak ingin. Begitu terus. Hingga muak menggerus. Kemudian beku. Kelu dan berdebu. Seperti hatiku. Begitu usang. Begitu luang. Begitu lengang. Sepi. Sendu. Bersenandung rancu. Tanpamu.



Jakarta, senandung rancuku


Blog Entryaku ingin kamu di siniJun 24, '08 1:29 AM
for everyone
Aku ingin kamu ada di sini. Aku ingin kamu ada di sini di sisi. Aku ingin kamu ada di sini di sisi kiriku. Aku ingin kamu ada di sini di sisi kiriku dekat denyut jantungku. Aku ingin kamu ada di sini di sisi kiriku dekat denyut jantungku yang masih berdetak. Aku ingin kamu ada di sini di sisi kiriku dekat denyut jantungku yang masih berdetak mencintaimu. Aku ingin kamu ada di sini di sisi kiriku dekat denyut jantungku yang masih berdetak mencintaimu hingga akhir waktu. Aku ingin kamu ada di sini di sisi kiriku dekat denyut jantungku yang masih berdetak mencintamu hingga akhir waktu, mencintaiku.




Jakarta, aku ingin kamu ada


Blog Entrymembunuhmu lagi, kesekian kaliJun 23, '08 5:46 AM
for everyone
itu bukan aku. bukan aku yang menahanmu pergi. bukan aku yang memelukmu malam-malam lalu. bukan aku yang menciummu tanpa taboo setiap pagi di tempat tidur itu. bukan aku yang berbagi orgasme berkali-kali dulu. bukan aku yang berkegiatan romantis bersamamu kala itu. bukan aku yang bicarakan hati setiap malam sebelum tidur itu. bukan aku yang memabukanmu dengan cinta selama ini. tapi aku sosok usang yang membunuhmu dengan kenangan lama itu.





jakarta, membunuh dengan kenangan

Blog Entryapakah ini saat yang tepat?Jun 22, '08 6:54 AM
for everyone


"terima kasih untuk datang di saat yang tak tepat dan menjadikan sesaat itu seperti saat yang tepat..."

hanya ada 2 macam "saat yang tepat" yang sebetulnya terjadi. yaitu saat yang tertunda dan saat yang terjadinya begitu cepat hingga terlewat. bagaimana dengan saat ini?

"saat ini bukan keduanya..."

bagaimana mungkin? karena hanya ada 2 pilihan. tertunda atau terlalu cepat. tertunggu atau terlewatkan. ini semua hanya tentang waktu, bukan?

"bukan. ini soal takdir."

takdir bukan urusan kita. untuk urusan-Nya. saat ini ya saat ini. tertunda atau terlewatkan. tidak ada yang bisa begitu tepatnya seperti yang kamu bilang.

"bisa. seperti saat ini. semuanya tepat. walau datangnya di saat yang tak tepat."

apa maksudnya?

"kamu. kamu yang datang di saat tak tepat dan menjadikan semuanya seolah-olah tepat...."

walau sebetulnya tak tepat? bukan karena tertunda atau terlewatkan?

"bukan... semata hanya karenamu..."

untuk apa aku begitu? aku tidak kenal kamu

"itu urusan-Nya... bukan begitu?"

tidak bisakah kita bertanya kepada-Nya tentang saat yang tak tepat dan saat yang tepat ini?

"aku selalu bertanya... setiap saat!"

terjawabkah? menjawabkah Dia?

"Dia selalu menjawab melalui saat tepat dan tak tepat lainnya..."

lalu?

"tidak ada. kita hanya bisa menjalani semuanya. semakin mengajukan pertanyaan. semakin membingungkan..."

takdir?

"kamu, dia, saya dan mereka bukan kebetulan. dan hidup bukan cuma soal saat yang tepat atau saat yang tak tepat... tapi soal menjalani semua tepat dan tak tepat itu dengan lapang dada..."

aku termangu mendengarmu, teman!






Jakarta, saat yang tepat



Blog Entrydalam satu kecupanJun 20, '08 4:56 AM
for everyone

beri aku satu kecupan lagi. karena dalam satu kecupan aku mengingatmu.
bukan lagi ingatan yang rancu.




jakarta, beri aku 1 kecupan lagi

Blog Entrykamu punyaku, walau ada diaJun 20, '08 1:33 AM
for everyone
Aku ingin tidur, sayang. Tidur dipelukanmu seperti dulu. Seperti ketika segalanya masih baik-baik saja. Ketika kita masih bersama. Ketika masih tentang kita. Ketika cinta masih membara. Ketika belum ada dia. Pun ada dia aku tak peduli lagi. Aku hanya ingin tidur dipelukmu. Berbagi malam panjang berdua saja. Seperti kala itu. Ketika hanya ada kita. Ketika belum ada dia. Pun aku tau adanya dia karena jenuhmu kepadaku. Pun aku tau kamu khianati kita. Dan kamu lebih memilih dia. Tapi aku tak peduli. Hingga hari inipun aku tak peduli. Kamu punyaku, sayang. Seperti ketika kita masih bersama, Ketika semua masih tentang cinta. Ketika hasratmu belum terletihkan. Ketika perhatianmu belum terbagi. Bagiku segalamu adalah masih kita. Bagiku hatimu masih aku. Bagiku cintamu hanya untuk aku. Meski aku tau tidak ada lagi kita. Meski aku mengerti semua kini tentang dia. Meski aku sadar kita tak lagi bersama. Lebih baik kita mati bersama, sayang. Lebih baik kubunuh kamu malam ini, sayang. Bila kamu tidak mau tidur memelukku seperti yang lalu. Karena malam ini aku ingin tidur, sayang. Tidur dipelukanmu seperti dulu.




Jakarta, kamu punyaku walau ada dia





**maya is thinking about a girlfriend and writing her life in silence


Blog Entrymembunuhmu sekali lagiJun 20, '08 1:29 AM
for everyone
Begini rasanya. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang terbuang. Mungkin tak cukup hanya begini. Mungkin seharusnya sekalian kuakhiri. Semua yang sejak awal kutau. Semua yang semula tak ingin diawali. Sebuah awal yang kembali menghancurkan hatiku.

Dan ini rasanya. Hanya begini saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang terluapkan. Mungkin tak seharusnya hanya demikian. Mungkin semestinya kuhancurkan semua. Semua yang sejak pertama kumengerti. Semua yang dulu tak pernah ingin kuawali. Sebuah awal yang mengiris hatiku lagi.

Begini rasanya. Tak juga istimewa. Tak juga ada yang terbuang. Walau kurasa cukup begini saja. Mungkin akhirnya semua yang kuakhiri tak ada artinya. Semua yang sejak awal kutau. Semua yang dulu pernah kucoba mengerti. Semua yang dulu kita awali. Awal yang kutiadai dengan cara membunuhmu. Untuk yang kesekian kali.




Jakarta, membunuhmu sekali lagi



Blog Entrysweet liesJun 18, '08 2:37 PM
for everyone
Baby, I can't figure it out
Your kisses taste like honey
Sweet lies don't gimme no rise up
Fool, what you're trying to do

Livin' on your cheatin'
and the pain grows inside me
It's enough to leave me crying in the rain
Love you forever but you're driving me insane
And I'm hanging on
Oh, oh, oh, oh

I'll wait, I'll never give in
Our love has got the power
Too many lovers in one lifetime
Ain't good for you
You treat me like a vision in the night
Someone there to stand behind you
When your world ain't working right
I ain't no vision, I'm the girl
who loves you inside and out
Backwards and forwards with my heart hanging out
I love no other way
What are we gonna do if we lose that fire?

Wrap myself up and take me home again
Too many heartaches in one lifetime ain't good for me
You figure it's the love that keeps you warm
Let this moment be forever
We won't ever feel the storm
I ain't no vision, I'm the girl
Who loves you inside and out
Backwards and forwards with my heart hanging out
I love no other way
What are we gonna do if we lose that fire?

Don't try to tell me that it's over
I can't hear a word I can't hear a line
No girl could love you more
And that's what I'm cryin' for
You can't change the way I feel inside

You're the reason for my laughter and my sorrow
Blow out the candle I will burn again tomorrow
No man on earth can stand between my loving arms
And no matter how you hurt me, I will love you till I die

I ain't no vision, I'm the girl
Who loves you inside and out
Backwards and forwards with my heart hanging out
I love no other way
What are we gonna do if we lose that fire?

Loves you inside and out
Backwards and forwards with my heart hanging out
I love no other way
What are we gonna do if we lose that fire




inside and out by.feist / beegees







**maya is singing along whilst working at 1am, thinking about you :)

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help