
saya menghela napas. berat. malam ini saya rindu sepi. saya kangen menyendiri. berkencan dengan sunyi atau berselingkuh dengan galau di tengah keriaan yang terjadi. kemudian berselisih dengan kegiatan yang menyibukan setiap hari. saya menghela napas lagi. masih berat. tanpa tenang. ada rasa yang membuncah dan mendorong saya untuk berteriak lantang tentang keinginan untuk tenang. saya ingin sendirian! saya tidak ingin ada kalian! saya ingin tak ada orang-orang! namun itu hanya pekikan yang terpendam. dan saya menelantarkan rasa lelah yang menyumbat setiap pori di tubuh saya. saya membiarkan tekanan demi tekanan mendera kepala saya yang siap meledak karena begitu banyak manusia di sekeliling saya. saya ingin mengadu. saya ingin menagis. saya ingin menyerang mereka semua dengan aksara yang sarkastik. saya ingin menyiksa telinga mereka dengan makian saya yang berisik. saya ingin menembaki kepala mereka semua hingga otak mereka tercecer menggenangi kaki saya yang letih. lalu kosong. kemudian hening. tak ada lagi mereka. tak ada lagi keriaan. hanya ada saya dan tenang. lalu saya bisa bernapas lega dan memeluk sepi kembali. atau sekedar berselingkuh dengan galau. bahkan bercinta dengan sunyi. saya kembali menghela napas. berat. ah, seandainya saja saya bisa segelap itu...
jakarta, saya ingin bisa segelap itu