
"kapan kamu tidak sedih lagi?"
satu pertanyaan selingan di antara 2 cangkir kopi di sore hari menyeruak tak nyaring namun menuding. saya menyeruput caramel machiatto di genggaman sangat perlahan.
"kapan saya tampak tidak sedih?"
satu jawaban saya lontarkan. walau bukan jawaban sungguhan, hanya sebuah pertanyaan pelarian atas jawaban yang sesungguhnya.
"kapan kamu akan menjawab semuanya dengan jujur?"
satu lagi pertanyaan dia lontarkan tak nyaring namun masih menuding. sebuah sindiran atas gundahnya hati dan semunya hidup yang saya pilih.
"kapan saya tidak jujur soal hati?"
satu jawaban bias kembali saya berikan. pada dasarnya saya memang tidak mempunyai jawaban atas semua pertanyaan yang dia lontarkan di sore hari yang mendung ini.
"jadi hati kamu sedih terus?"
tanyanya sekali lagi tentang sedih yang kerap menyelimuti saya di tengah keramaian. sebuah pertanyaan yang sarkastik. antara ingin mengerti dan ingin mengejek. saya kembali menyeruput kopi yang tinggal 1/2 gelas grande ini mencoba mencari kalimat tepat untuk menjawab pertanyaannya.
"menurutmu?"
akhirnya hanya satu kata yang terucap. kata yang tepatnya kembali berupa sebuah pertanyaan.
"menurut saya, kamu tidak sesedih itu... kamu hanya senang berada di sana."
dia kembali menuding dengan tak nyaring. sebuah kalimat yang diucapkan dengan tenang sekedar memberi penilaian yang tak bernada menghakimi. tapi saya tetap merasa bahwa saya tengah dihakimi. dihakimi karena selalu terlihat sedih. apakah ada "hukuman" yang setimpal?
"apa yang membuatmu perpikir demikian?"
saya tidak membela diri. saya hanya ingin tau apa yang membuatnya berpikir demikian.
"kamu terlalu menyenangkan untuk terus merasa sedih..."
jawabnya. singkat. jelas. membuat saya justru semakin terseret ke dalam gelap yang sebelumnya saya ciptakan berhari-hari yang lampau.
"kamu terlalu indah untuk terus menangisi yang lalu..."
ujarnya. sekali lagi. membuat saya semakin mundur ke dalam hitam yang melindungi. satu persatu keping hati ini kembali berjatuhan. satu persatu sakitnya tak tertahankan.
"jangan bicara lagi!"
pinta saya menahan air mata yang tiba-tiba menggenang. dia menggenggam tangan saya erat. dia menatap mata saya dengan matanya yang begitu gelap. tak berujung. tak bertepi. begitu hampa. begitu sepi. begitu rapuh. begitu dingin. begitu... sedih.
"jadi kapan kamu tidak sedih lagi?"
tanyanya sekali lagi. saya memejamkan mata. tak ingin melihat matanya lagi.
"saya tidak akan sedih lagi ketika kamu juga tidak sedih lagi..."
jawab saya lirih. jujur. kali ini.
Jakarta, kapan tidak sedih?