the's posts with tag: my anger
 kenapa kita tidak saling berpaling dan pergi? karena aku lelah dengan semumu...
kenapa kita tidak berhenti saja? karena aku lelah menunggumu... jakarta, karena aku lelah
 Begini rasanya. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang terbuang. Mungkin tak cukup hanya begini. Mungkin seharusnya sekalian kuakhiri. Semua yang sejak awal kutau. Semua yang semula tak ingin diawali. Sebuah awal yang kembali menghancurkan hatiku. Dan ini rasanya. Hanya begini saja. Tak ada yang istimewa. Tak ada yang terluapkan. Mungkin tak seharusnya hanya demikian. Mungkin semestinya kuhancurkan semua. Semua yang sejak pertama kumengerti. Semua yang dulu tak pernah ingin kuawali. Sebuah awal yang mengiris hatiku lagi. Begini rasanya. Tak juga istimewa. Tak juga ada yang terbuang. Walau kurasa cukup begini saja. Mungkin akhirnya semua yang kuakhiri tak ada artinya. Semua yang sejak awal kutau. Semua yang dulu pernah kucoba mengerti. Semua yang dulu kita awali. Awal yang kutiadai dengan cara membunuhmu. Untuk yang kesekian kali. Jakarta, membunuhmu sekali lagi
 "you know what hurts the most in the world?" LIES even if i knew i don't have the rights to hear all about the truth it still hurts maybe because we knew that afterall "this relationship is base on lies" and now i don't feel like i want to be a liar forever so, i rest my case jakarta, to whom it may concern
 aku perempuan... hadapi aku dengan sabarmu, bukan sadarmu ingini aku dengan tulusmu, bukan perhitunganmu peluk aku dengan pengertianmu, bukan logikamu bicara denganku lewat perhatianmu, bukan penilaianmu aku perempuan... cintai aku dengan hatimu, bukan otakmu! jakarta, aku perempuan
 dan tertawalah seperti mereka mentertawaiku. lantang. jumawa. tak beraturan. katanya tentang berkelakar. liar tak terkendali. tanpa henti. hingga menyakiti. lontarkan semua seperti muntah yang tersembur kala mabuk mengendalikanmu seperti yang lalu. terus sampai terkuras dari perut melalui mulut kotormu. kemudian hingarkan sombong itu. bingarkan keangkuhanmu. puaskan egomu dengan iri yang menghembusi setiap pori tubuhmu. hingga aksara membentang begitu luas tanpa makna lagi. kecuali tentang yang buruk. kecuali tentang yang busuk. dan ketika itu pula hilang semua yang jujur tentangmu. tanpa bekas. nihil. kosong. nol. itulah dirimu yang tertawa itu.
jakarta, mu yang tertawa
 now i remember why i choose to be an anti-social person. it's because i don't trust "the fake nice people" like you and them which is all over the world now jakarta, faking it - people
 mengapa saya terlalu sombong untuk sekedar mengakui
bahwa selama ini saya sakit jakarta, saya sakit
**Maya is listening to Half Alive and sing it out loud with Second Hand Saranade while enjoying the pain...
 | wet cam | Feb 18, '08 7:33 AM for everyone |
 sesal itu datang bukan karena aku menyesal. semata karena kesal yang menggugah bersamaan dengan rasa bersalah. merasa bersalahpun tidak membuatku menyesal. tetapi ini memang sesal. uh, kesal! ketika aku menjatuhkan kamera digital di dalam kamar mandi yang basah. terlalu narsis bukan satu hal yang harus disesali. tetapi menjadi kesal karena kamera digital yang basah, hhhh.... itu sesal! Jakarta, tentang sesal
 tak ada yang tersisa dari kemarin kecuali sebuah cap yang tak mungkin hilang itulah hidup jakarta, stereotyped
 Alcohol. Euphoria. Laughter. Passionate. Lust. Adventurous. Sex. Broken. Drain. Empty. Nothing. Us. Just. That. Jakarta, just
 mungkin kau pulang mungkin kau hilang mungkin kau kembali mungkin kau pergi mungkin kau luluh mungkin kau keluh mungkin kau tangis mungkin kau sinis mungkin kau lebam mungkin kau dentam mungkin kau lelah mungkin kau pasrah mungkin kau terlalu mungkin kau berlalu mungkin kau habis mungkin kau iblis mungkin kau berpeluk mungkin kau tertubruk mungkin kau tertidur mungkin kau melindur mungkin mungkin mungkin tapi tak mungkin jakarta, mungkin
 every time you said you need me, one bruise will appear. every time you said you miss me, one piece of my heart falls every time you said you love me, i'm bleeding... every time, is this the way you showed me love? by hurting... Jakarta, is this the way
 you're NOT INNOCENT you're just pretending to be NAIVE and that's GUILTY! jakarta, guilty
 | you | Dec 23, '07 1:05 AM for everyone |
 people come and go. loving me. leaving me. no one stays and one of them is... you. jakarta, you
dan berkali-kali kubiarkan penasaranku membunuh rasa yang selama ini kusimpan. mencari tau kemudian menyesal ketika mengetahui. berburu kenangan lalu yang nyatanya hanya sekedar onggokan sampah bagimu. membodohi hati lantas menangisi kebodohan yang terjadi. berkali-kali kutemukan catatan gelap tentang sosokmu hingga harus kuakui kamu tak lagi sempurna. dan berulang-ulang pula aku membohongi logikaku melalui cerita lama kita yang mungkin sudah membusuk di kuburan hati matimu. namun entah mengapa, walau seperti biasa penasaranku membunuh asa yang selama ini masih terus kubiarkan berkembang menjadi benci... aku tau, aku tak akan pernah bisa membencimu. Jakarta, mati karena penasaran
 "kalo sudah besar kamu mau jadi apa?" "bunuh diri..." "hah? memangnya kamu tau bunuh diri itu apa?" "membunuh diri sendiri..." "masa sih cita-cita kamu begitu?" "iya... tapi bunuh dirinya nanti kalo udah besar, rame-rame sama temen di sekolah..." ini adalah sekelumit pembicaraan saya dengan seorang anak berumur 6 tahun, di sebuah lokasi shooting iklan beberapa waktu lalu. saya terperanjat mendengar jawaban dari anak perempuan berperawakan kecil dan sangat lincah tersebut, seperti halnya beberapa orang lain yang turut mendengarnya. saya berusaha tidak menanggapinya secara serius, maklumlah... namanya juga anak kecil, mungkin ia mendengar soal bunuh diri dari tayangan di tv atau lingkungan sekitarnya. namun di sisi lain ada sekelibat kekhawatiran yang sampai hari ini masih berputar-putar di kepala saya. seorang anak perempuan berusia 6 tahun mempunyai cita-cita bunuh diri bersama teman-teman di sekolahnya! di usia 6 tahun seorang keponakan perempuan saya dengan cerianya akan menjawab "jadi princess!" ketika saya bertanya ingin jadi apa ia kelak. atau seperti keponakan laki-laki, yang dengan malu-malu menjawab "jadi pilot dan tinggal di mars" ketika saya mengajukan pertanyaan yang sama. dan saya ingat, diusia 6 tahun saya pernah bercita-cita menjadi guru, hanya karena saya tidak suka cara guru saya mengajar. maksudnya sih, kalo saya jadi guru maka saya akan mengajar dengan cara yang lebih asyik! hahahahah... di usia 6 tahun seorang keponakan saya sedang senang-senangnya les melukis, les piano dan nonton DVD Barbie atau sekedar ikut-ikutan berdandan bersama tante-tantenya di kamar. seperti juga saya, di usia yang sama saya sedang asyik dengan melukis juga les piano dan ikut lomba renang, atau sekedar marah-marah dan menyuruh teman-teman saya pulang karena saya bosan bermain bersama mereka di rumah. yang terakhir memang agak aneh, tapi setidaknya saya tidak punya keinginan bunuh diri. kembali ke anak perempuan yang bercita-cita bunuh diri... karena penasaran saya mencoba bertanya sekali lagi tentang cita-citanya. dan jawabannya masih sama. anehnya, orangtuanya yang ikutan mendengar jawaban anak tersebut hanya tertawa-tawa saja menanggapi keganjilan cita-cita sang anak. justru saya dan beberapa orang teman yang belum pernah punya anak, yang lebih khawatir dengan perkembangan anak tersebut. heran. apakah orangtua jaman sekarang cenderung terlalu bebas dengan keinginan anak-anaknya ya? hingga bercita-cita untuk bunuh diri pun dianggap sebagai sebuah keadaan yang biasa, sekedar ekspresi diri yang "normal" untuk anak-anak jaman sekarang. bahkan di usia yang baru menginjak 6 tahun. jakarta, cita-citaku... bunuh diri!
 hari ini saya seperti bernapas di dalam ruang eksekusi terpidana mati. tau kan, ruangan untuk "menghukum" terpidana mati yang berisi asap gas beracun, sehingga beberapa menit saja si terpidana dimasukan ke dalamnya, ia pun menjadi tak lagi bernyawa. nah... seperti itulah (extreme-nya) tempat saya berada sekarang ini. dari 8 orang yang berada di dalam ruangan berukuran 4x5 meter ini 7 diantaranya adalah perokok. mengapa saya berada di dalam 1 ruangan yang tak seberapa besar ini bersama mereka? karena sedang ada meeting produksi. yang mana jika sedang meeting maka ruangan ini ditutup rapat-rapat dengan AC yang dinginnya bisa bikin sakit kepala. yang memperparah adalah, 7 orang perokok bersamaan membakar berbagai merk rokok yang berbeda-beda dan membuangnya di 3 asbak yang berbeda pula. lalu saya... sesak napas! mengapa tidak membuka jendela? sudah... tapi ditutup kembali karena suara kendaraan yang lalu lalang di depan kantor sangat mengganggu konsentrasi. memangnya tidak ada "eksos" fan? tidak... karena sebetulnya ruangan ini adalah ruangan bebas rokok, yang saat ini diartikan sebagai ruangan bebas (untuk me-) rokok bagi ke 7 perokok di dalamnya. dan akhirnya, sebagai satu-satunya manusia yang tidak merokok, saya pun mengalah. menjadi minoritas di sebuah tempat yang semestinya saya adalah mayoritasnya. entahlah... saat ini, tidak merokok sudah menjadi minoritas, karena bahkan banyak orang yang lebih kaget ketika mendengar pernyataan "saya tidak merokok..." dibandingkan dengan "minta rokoknya dooong!" di satu ruangan ber-AC. Jakarta, saya tidak merokok

memangnya kenapa kalo saya ingin seperti ini? memangnya ada yang salah dengan saya yang sekarang? memangnya saya harus menjadi sempurna di mata kalian? memangnya menjadi diri sendiri mampu menyakiti kalian? memangnya ke-apaada-an saya menyinggung ya? memangnya salah siapa kalau saya lahir seperti ini? memangnya kesendirian saya mengganggu kalian? memangnya menjadi berbeda adalah suatu dosa? memangnya apa yang saya lakukan selama ini ngga normal? memangnya menjadi normal mampu membuat saya bahagia? memangnya kenapa kalo saya tidak seperti kalian? memangnya kenapa? kenapa? kenapa? haaahhh?????!?!? jakarta, memangnya kenapa kalo saya marah?
 kadang aku benci dendamku. sebuah keadaan yang memaksaku untuk menjadi jahat. tidak secara harafiah namun tersirat sangat jelas. lalu tidak ada lagi yang bisa berbuat. atau sekedar berkata nista kepadaku. lupakan saja bila ingin berdusta. karena aku akan segera tau. dan balasannya akan segera datang. dengan tiba-tiba dan bertubi-tubi. walau yang kulakukan hanya mengunci mulutku. namun tak akan ada balasnya bila aku memaafkan pun memafkan lebih mudah, daripada melupakan. pun dimaafkan terkadang masih menuai balasan. aku kini enggan bicara menggunakan hati. aku takut mengadu lagi. aku takut dendam ini kelak mampu membunuhmu. bila kau tetap lakukan semua itu. Jakarta, bicara tentang dendamku

saya sedang bosan. bosan dengan keadaan ketika semua orang menganggap diri saya "beda". saya tidak pernah berbeda dengan orang-orang lain. mungkin saya hanya terlalu berani mengungkapkan sisi sarkastik saya sendiri terhadap apa yang terjadi di dunia. atau saya hanya terlalu menjadi diri sendiri hingga dianggap kurang bertoleransi terhadap perasaan orang lain. saya adalah seorang saya dengan segala pemikiran dan opini pribadi yang tidak sepenuhnya benar ataupun harus disukai oleh orang banyak. adakalanya keadaan seperti membuat saya bosan terhadap dunia luar yang terlalu statis. statis seperti hati saya yang kembali beranjak menuju mati. sebuah kematian perlahan yang dikarenakan keadaan stagnant. mati karena bosan. jakarta, sedang bosan
| |