
"kenapa kamu tidak menangis?" sebuah suara kecil bertanya dengan lirih.
"kenapa saya harus menangis?" jawab saya seraya bercermin.
"karena kamu baru saja melalui sesuatu yang membuatmu sedih..." ujar suara lirih itu lagi.
"bagian mana yang sedih menurutmu?" tanya saya sambil memandangi pupil mata saya yang gelap.
"bukankah justru kamu yang paling tau soal itu?" jawab si lirih agak sinis
"lantas apakah sedih harus diekspresikan dengan tangis?" tanya saya lagi kali ini mengamati mata sedih yang terpantul dikaca.
"biasanya kamu menangis kala sedih..." bisiknya terdengar mendekat di telinga
"juga kala marah... kala bahagia... kala jatuh cinta..." kata saya kembali sok romantis
"kamu memang romantis... tapi romantis yang gelap!" seru si lirih kembali sinis
"menjadi romantis bukan berarti menjadi cengeng, bukan?" ujar saya sambil berusaha tersenyum pada satu sosok di cermin.
"senyummu tak bisa tutupi sedihmu..." bisik suara kecil itu memojokan.
"aku memang sedang sedih, tapi aku menolak untuk menangis..." elak saya berusaha tegar.
"kenapa? menangislah... sampai sedih itu tertumpah ruah, terkuras dan meninggalkan ragamu yang rapuh itu..." desak si lirih tak juga menyerah
"aku tidak ingin menangis... lagi..." jawab saya perlahan.
"seharusnya kamu tidak perlu berusaha sekuat itu!" suara lirih yang terdengar kesepian itu kembali menyahut dalam sunyi kamar.
"aku tidak ingin menangisi dia..." kata saya semakin pelan.
"kenapa? jika dia begitu berarti, seharusnya kamu menangisinya..." suara lirih itu terdengar meredam kecewa yang mendalam.
"mungkin dia tidak sebegitu berarti, tidak seperti yang dulu..." kali ini saya berbisik seraya menatap kelu pada cermin yang kotor itu, ada air menggenang di sudut mata sedih yang saya kenal di sana.
Jakarta, berjanji untuk tidak menangis lagi