the's posts with tag: my head

What are tags? You can give your posts a "tag", which is like a keyword. Tags help you find content which has something in common. You can assign as many tags as you wish to each post.
View posts by people in your network with tag my head
Blog Entrygombal yang serius atau serius yang gombal?Jul 4, '08 2:07 PM
for everyone
gombal. lantas saya ngakak sambil mengetikan kata yang sama di laptop putih ini. ngakak tak karuan membaca sekelibat kalimat menggoda tentang rayuan. rayuan lama yang sebetulnya memang gombal belaka. setidaknya itu menurut saya. gombal yang serius. ujarnya. tawa saya mereda sejenak.

serius. lantas saya terdiam mengetik kata yang sama di laptop putih ini. terdiam kala membaca sekelibat kalimat yang menggambarkan keseriusan tanpa rayuan. rayuan lama yang sebetulnya dibutuhkan kala keseriusan seperti itu terkatakan. serius yang gombal. ujar teman-teman saya. dalam keterdiaman saya menyesal.



jakarta, serius... ini gombal!


Blog Entrysayang, aku peduli. mari berbagi ranjang!Jul 4, '08 4:06 AM
for everyone
pernikahan adik saya sebentar lagi akan dilangsungkan. kemarin saya dan ibu sudah disibukan dengan pemilihan kain untuk membuat kebaya keluarga. ditengah kesibukan kami saya bertanya-tanya dalam hati. apakah melangsungkan pernikahan memang selalu sesibuk ini? apakah perayaan penyatuan 2 cinta harus dilaksanakan dengan pesta seperti ini?

saya tergelitik dengan pertanyaan saya sendiri. lalu timbul 1 pertanyaan untuk adik laki-laki saya yang sedang berbahagia itu. apa yang membuat dia yakin bahwa perempuan yang akan mendampinginya di pelaminan nanti adalah perempuan terakhir dan terbaik untuk dia? saya belum pernah bertanya seperti ini, namun mungkin nanti beberapa hari sebelum pernikahannya saya ingin meluangkan waktu untuk mendengar jawabnya - semoga tidak membuat dia berubah pikiran tiba-tiba setelahnya :)

rasa sayang. jika ditanyakan kepada ibu saya pertanyaan yang sama maka jawabnya demikian. bukan cinta? saya ingat ibu terdiam sejenak. rasa peduli. lantas ia menjawab. rasa sayang dan kepedulian. bukan cinta. titik. saya kini yang terdiam. mencerna ujaran ibu yang kala itu masih asing terdengar oleh saya yang duduk di bangku kelas 2 SMU. saya memang selalu awam bila bicara soal cinta. tapi saya yakin, ibu DULU cinta kepada ayah saya hingga memutuskan untuk menikahinya. mungkin juga sampai sekarang - hanya saja teredam oleh luka lamanya.

rasa sayang. rasa peduli. setelah besar saya baru pahami. setelah menemukan seseorang saya baru mengerti. apa arti sayang. apa arti peduli. kepada mereka. terutama mereka yang saya cintai. toh tidak saya cintaipun saya tetap sayang dan peduli. semuanya adalah tentang berbagi.

dulu saya berpikir bahwa jika menikah nanti saya harus bisa menjadi orang bertoleransi tinggi. karena saya akan menghabiskan sisa hidup berdua saja dengan si dia yang saya cintai. yaitu hidup berbagi. berbagi tempat tinggal. berbagi kamar. berbagi ranjang. berbagi selimut. berbagi segelas kopi di pagi hari. berbagi kamar mandi. berbagi channel TV. berbagi hati. berbagi masalah. berbagi tangis. berbagi tawa. berbagi ciuman sebelum tidur. berbagi orgasme. dan banyak lagi berbagi yang lainnya yang membutuhkan toleransi tinggi. saya yang egois ini akhirnya berpikir berulang kali dan menunda untuk menikah.

rasa sayang. rasa peduli. sekali lagi saya kembali merasakan itu kepada dia yang saya cintai dan mereka yang berada di sekitar saya. berpikir tentang rasa sayang. berpikir tentang rasa peduli. berpikir tentang berbagi. saya melakukan itu kepada mereka semua. saya melakukan itu kepada dia yang saya cinta. dan untuk berbagi saya tidak butuh menikah... tapi saya butuh lebih dari rasa sayang dan kepedulian untuk berbagi atas nama cinta dalam pernikahan. saya butuh cinta itu sendiri...

cinta. mungkin itu yang adik saya rasakan kepada calon istrinya. semoga...




jakarta, menikah karena cinta


Blog Entrytentang bermusikJun 24, '08 1:32 AM
for everyone
Sejak kecil saya sudah hobby sekali mendengarkan musik. Mempunyai pojok khusus di ruang tengah dengan alat pemutar musik dan headphone kebesaran bertengger di kepala. Mendengarkan Chica Koeswoyo atau Yoan Tanamal di sore hari, kadang Soundtrack film The Sound of Music, kadang tembang lawas dari penyanyi-penyanyi cilik yang kurang terkenal. Sedikit menggoyangkan kepala sambil mengamati Ibu tercinta membuatkan makan malam atau membaca majalah. Mengundang senyum beliau yang jarang. Kemudian sore hari setelah mandi itu selalu menjadi sore yang membahagiakan bagi si kecil Maya yang berumur 3 tahun.

Kesukaan saya akan musik di masa kecil mungkin menjadi salah satu yang membentuk pribadi saya saat ini – setidaknya itu pernah saya baca di majalah tentang efek musik klasik terhadap bayi dalam kandungan. Entah mengapa setiap malam sebelum tidur lelap saya meminta Ibu untuk memutarkan lagu-lagu klasik dari tape di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar saya. Hanya sayup-sayup saja. Denting piano klasik dari Richard Clayderman. Dari Pour Ellise sampai Love Story. Dengan volume tepat. Dalam ketenangan yang berpendar tiba-tiba. Si kecil Maya yang berusia 5 tahun berkhayal memainkan pianonya sendiri setiap malam. Hingga terlelap.

Suatu waktu di ruang keluarga saudara sepupu. Saya menemukan piano sungguhan. Suaranya benar-benar berdenting. Begitu klasik. Seklasik wangi kayu yang khas. Tuts hitam putih yang begitu anggun tertata. Saya tergoda untuk menyentuhnya. Saya ingin memilikinya. Begitu saya ternganga menatap benda yang suaranya setiap malam mengiringi tidur saya. Ibu pun bertanya, “kamu benar-benar ingin belajar main piano?”. Mata saya berbinar. Saya menganggukan kepala kencang-kencang. Saya ingin memainkan Pour Ellise saya sendiri. Saya ingin mendentingkan nada-nada Love Story saya sendiri. Saya ingin jari-jari mungil ini berloncatan lincah seperti jari-jari Richard Clayderman yang saya lihat di TV memainkan karya-karya Bethoven, “Tapi kamu masih umur 5 tahun, masih terlalu kecil… nanti tulang jari kamu tumbuh bengkok!” kata Ibu lagi. Tapi saya memaksa. Tapi saya bersikeras. Tapi saya tak peduli jari-jari ini kelak tumbuh bengkok. Saya hanya ingin main piano.

Pojok dengan alat pemutar musik dan headphone besar sore itu digeser ke ruang bermain. Kini menjadi singgasana piano saya. Piano berukuran sedang berwarna coklat. Begitu klasik. Seklasik wangi kayunya yang khas. Tuts hitam putihnya juga begitu anggun tertata. Piano yang mirip dengan kepunyaan sepupu saya. Yang ini punya saya. Punya saya sendiri. Seperti pojok musik yang dulu, ini pun milik saya khusus! Ibu juga memanggil guru les piano privat yang datang setiap hari Senin dan Rabu. Lalu setiap habis makan malam ibu akan duduk manis mendengarkan saya berlatih penuh semangat. Betapa saya cinta kepada Ibu dan sebaliknya.

10 tahun kemudian. Maya kecil kini sudah berumur 16 tahun. Saya tumbuh menjadi gadis pembangkang penyuka musik berdistorsi. Berbekal gitar kopong milik adik laki-laki dan buku cara belajar bermain gitar, saya sempat fasih “menggenjrengkan” alat musik tersebut. Latihan di studio musik dan bergabung dengan band sekolah. Belagak keren. Karena trend anak band. Perempuan bergitar terdengar mentereng. Sempat membuat Ibu jengkel karena acara belajar main gitar selalu saya lakukan di malam hari. Malam-malam yang biasanya Ibu luangkan untuk mendengarkan saya bermain piano. Ibu protes. Ibu mengancam menjual piano. Saya diam. Saya tak ingin kehilangan alat musik yang anggun itu. Tapi saya sedang senang main gitar. Toh setelah 10 tahun belajar saya sudah apal luar kepala cara memainkan Pour Ellise dan Love Story. Sekarang saya ingin memainkan lagu-lagu The Cure; Letter to Ellise dan Love Song salah satunya. Toh judul keduanya terdengar sama…

13 tahun kemudian. Maya remaja kini sudah berusia 29 tahun. Saya tumbuh menjadi perempuan lajang idealis dan romantis. Penat oleh pekerjaan dan kemacetan lalu lintas. Menulis prosa dan puisi tentang cinta, hidup atau luka. Berhenti bermain gitar dan merindukan piano tua yang terpajang kaku di rumah Ibu. Saya pun kangen Ibu, juga kegiatan bermain piano setelah makan malam. Ketika pulang ke rumah beberapa waktu lalu saya membuka tutup piano dan menyentuh tuts hitam putih yang masih anggun dan kokoh itu. Suaranya memang tidak senyaring dentingnya yang dulu. Butuh service sana sini. “Terlalu lama tidak dimainkan…” kata Ibu sambil duduk di samping saya, di bangku piano yang warna joknya sudah diganti. Jari-jari bengkok saya kaku memainkan Pour Ellise.  Saya bahkan tidak bisa memainkan Love Story sampai habis. Ternyata saya tidak lagi se-apal dulu, setidaknya 5 tahun lalu ketika terakhir kali saya menyentuh alat musik klasik itu. Tiba-tiba saya ingin belajar main piano lagi. Seperti halnya belajar mencintai Ibu saya kembali, setelah perbedaan pendapat yang berkepanjangan kemarin.




Jakarta, tentang efek musik dan ibu


Blog Entryapakah ini saat yang tepat?Jun 22, '08 6:54 AM
for everyone


"terima kasih untuk datang di saat yang tak tepat dan menjadikan sesaat itu seperti saat yang tepat..."

hanya ada 2 macam "saat yang tepat" yang sebetulnya terjadi. yaitu saat yang tertunda dan saat yang terjadinya begitu cepat hingga terlewat. bagaimana dengan saat ini?

"saat ini bukan keduanya..."

bagaimana mungkin? karena hanya ada 2 pilihan. tertunda atau terlalu cepat. tertunggu atau terlewatkan. ini semua hanya tentang waktu, bukan?

"bukan. ini soal takdir."

takdir bukan urusan kita. untuk urusan-Nya. saat ini ya saat ini. tertunda atau terlewatkan. tidak ada yang bisa begitu tepatnya seperti yang kamu bilang.

"bisa. seperti saat ini. semuanya tepat. walau datangnya di saat yang tak tepat."

apa maksudnya?

"kamu. kamu yang datang di saat tak tepat dan menjadikan semuanya seolah-olah tepat...."

walau sebetulnya tak tepat? bukan karena tertunda atau terlewatkan?

"bukan... semata hanya karenamu..."

untuk apa aku begitu? aku tidak kenal kamu

"itu urusan-Nya... bukan begitu?"

tidak bisakah kita bertanya kepada-Nya tentang saat yang tak tepat dan saat yang tepat ini?

"aku selalu bertanya... setiap saat!"

terjawabkah? menjawabkah Dia?

"Dia selalu menjawab melalui saat tepat dan tak tepat lainnya..."

lalu?

"tidak ada. kita hanya bisa menjalani semuanya. semakin mengajukan pertanyaan. semakin membingungkan..."

takdir?

"kamu, dia, saya dan mereka bukan kebetulan. dan hidup bukan cuma soal saat yang tepat atau saat yang tak tepat... tapi soal menjalani semua tepat dan tak tepat itu dengan lapang dada..."

aku termangu mendengarmu, teman!






Jakarta, saat yang tepat



Blog EntrypositivityJun 14, '08 2:01 AM
for everyone
positivity

lagu lama dari Suede sedang menggaung terus-terusan ditelinga saya. entah mengapa. padahal saya juga tidak sedang atau habis mendengarkan. tapi lirik lagu itu terus ada di kepala saya. dan itu terjadinya tiba-tiba, tanpa sadar. walau momentnya memang pas dengan yang terjadi kepada saya, juga tanpa sadar.

you say what you want to say
your diamonds are drops of rain
your smile is your credit card
and your currency is your love


ya, saya memang sedang ingin mengeluarkan isi hati dan kepala saya tanpa takut "dinilai" ini dan itu. sedang menikmati indahnya dunia dengan hanya tersenyum lebih banyak dan melihat segalanya dari luar, dari atas dan sejajar. saya sedang mencoba melihat hidup dari semua sisi. dan saya menemukan kesenangan di sana. sebuah kepuasan yang mungkin bisa mengalahkan orgasme persetubuhan.

and the morning is for you
and the air is free
and the birds sing for you
and your positivity

watch out



ada 1 kalimat dari seorang teman yang membuat saya sedikit terkesiap. sebuah kalimat tentang hujan ketika saya sedang mengungkapkan kecintaan saya akan hujan kala turun begitu deras di satu malam:

"saya juga suka hujan. karena hujan gratis! coba kalo bayar. kebayang ngga gimana jadinya kamu, mereka, saya dan dunia?"

sebuah pemikiran sederhana yang artinya begitu dalam. begitu sederhana caranya bersyukur. begitu tulus dan lugas dia berbicara tentang nikmat Tuhan. tentang hujan. tentang matahari. tentang udara. tentang bintang. tentang bulan. semua gratis. cuma itu. dan begitu masuk akal.

lantas saya bicara tentang perut yang lapar karena udara dingin di hari berhujan. banyak jenis makanan yang saya sebutkan dan tak satupun membuat selera makan tergugah. walau lapar. walau maagh mulai menjerit-jerit. ingin ini. ingin itu. mau ini. mau itu. karena hujan. karena bosan. karena enggan keluar. mungkin sebetulnya hanya karena malas makan.

dan sekali lagi sang teman melontarkan kalimat sederhana:

"hujan-hujan begini kamu maunya banyak yah... saya sih cuma mau masuk surga!"

saya tertawa. dia tertawa. bukan mentertawakan ujarannya. tapi mentertawakan diri sendiri. merasa tersindir. merasa kecil. merasa sempit. merasa kurang bersyukur. mungkin kala itu Tuhan juga sedang mentertawakan kami berdua dari tempat-Nya sambil mengganti chanel TV  dan ngemil kentang goreng.


so you play where you want to play
on the main streets where
the creeps all pray
and you can feel like
you're in dynasty
and you can be what you want to be


bersyukur. itu yang sedang "marathon" saya lakukan karena untuk yang satu itu saya sudah ketinggalan jauh. terlalu banyak mengeluhkan hidup. terlalu sering meratapi hati yang patah. terlalu memanjakan diri dengan banyak permintaan yang kerap kali berlebihan. dan saya tidak pernah ada puasnya ketika permintaan itu dikabulkan.

ketika tanpa disadari sudah banyak sekali doa dan harapan saya yang dikabulkan begitu cepatnya. tanpa tanda. tanpa susah. tanpa "menangis darah". begitu saja. tiba-tiba ada di depan mata. tiba-tiba datang. tiba-tiba yang menyenangkan. tiba-tiba yang seringkali lupa untuk sekedar di-alhamdulillah-kan.

yes the morning is for you
yes the air is free
and yes the world spins for you
and your positivity

positivity

dunia masih terus berputar. walau realita hidup tidak ada yang gratis, saya bersyukur masih terbangun dari tidur dan mengisi rongga dada saya dengan udara tanpa harus bayar seperti kala masuk UGD. saya juga masih bisa menguatkan tulang punggung - modal utama kerjakeras- dengan berjemur di bawah sinar matahari yang setiap hari diberikan-Nya secara gratis. saya masih bisa termenung di depan jendela memandangi indahnya rinai hujan dan sejuk yang dibawanya dengan gratis. saya juga masih diperbolehkan menikmati pemandangan priceless yang terbuat dari langit gelap dan kilau bintang yang bertaburan dari atap rumah secara gratis kala saya sedang gundah. saya senang masih diijinkan mengamati bentuk bulan yang berubah-ubah setiap harinya secara gratis lalu menceritakannya sebagai pengetahuan kepada keponakan saya. saya menikmati betul angin gratisan yang berhembus menerpa rambut saya yang tertata rapi atau menerbangkan daun-daun kering di jalanan hingga berantakan, kala sedang lelah menunggu kendaraan.

saya percaya ketika semua hal dilihat dari segi positif, maka tidak ada hal negatif yang mampu membuat kita berhenti mensyukuri apapun yang terjadi kepada kita.






Jakarta, tentang bersyukur



Blog Entrymembaca JakartaJun 7, '08 7:01 AM
for everyone
Sore. Perjalanan menuju sebuah gedung di daerah Sudirman untuk Meeting Produksi menghentikan kepenatan saya pada padatnya Jakarta di hari kerja. Menyumbat telinga dengan earphone. Bersenandung bisu bersama Morrissey yang karyanya tengah mengisi setiap relung telinga saya di menit tersebut. Kemudian terdiam. Kemudian memperhatikan. Saya yang autist. Kata mereka. Mereka yang merasa mengerti saya. Masa bodoh. Saya terlanjur jatuh cinta dengan keterdiaman tiba-tiba ketika memperhatikan apa-apa yang sedang terjadi di sekitar saya. Sebuah ketertarikan yang membekukan waktu.

Saya memandangi pergerakan yang terjadi di luar jendela mobil yang bening. Mobil-mobil yang mengantri tak teratur. Bis kota yang “menyerang dan membuyarkan” sekelompok kendaraan yang sedang tertib mengantri. Lalu lewat. Lalu sedikit lancar. Pohon-pohon berkejaran di pinggir trotoar. Manusia-manusia yang menunggu dengan tatapan bosan di antara laju lalu lintas yang semrawut. Lalu henti. Lampu merah penentu. Kemudian kelu. Kecuali suara Thom York dengan Karma Police di telinga. Pemandangan di luar seperti beku. Tak ada lagi yang bergerak. Tak hidup. Tapi tak mati. Mungkin sekarat.

Di bawah lampu merah itu segerombolan anak kecil memandangi mobil yang satu persatu berhenti karena lampu. Beberapa tertawa. Beberapa mulai berakting meminta iba. Saya masih memperhatikan. Dan saya menemukan seorang dari mereka memakai handphone Nokia keluaran terbaru, lengkap dengan headset yang menyumbat telinga yang tersembunyi di antara helai rambut merah jagungnya. Gadis kecil itu bertelanjang kaki. Duduk jongkok tepat di bawah lampu merah dan tertawa-tawa dengan seorang pemuda yang tampaknya lebih tua beberapa tahun darinya. Tampak tanpa beban. Tampak senang-senang. Dengan kaki telanjangnya.

Perhatian saya terbuyarkan sejenak kala seorang anak kecil muncul di depan jendela mobil. Wajahnya menghiba. Ia adalah salah satu dari mereka yang tadinya tertawa senang-senang di bawah lampu merah. Saya mengerjap. Saya mengedip. Tak mungkin salah. Walau berharap salah. Benar saja si anak dengan handphone keluaran terbarunya itu masih ada di pojok yang sama. Dan ketika mobil-mobil mulai banyak yang mengantri di perempatan ini, si anak melepaskan headset dari telinganya, memasukannya ke dalam kantung celana, lalu mengemis dengan wajah menghiba di antara jendela-jendela kendaraan yang memantulkan langit Jakarta yang abu-abu. Saya termenung. Saya tercenung. Di sore yang mendung. Membaca sekelibat Jakarta dan sekarat yang makin menggerogotinya.




Jakarta, membaca Jakarta


Blog Entrykenapa saya harus ketemu dan kenal sama kamu?May 30, '08 4:57 AM
for everyone
kenapa saya harus ketemu dan kenal sama dia?

pertanyaan itu pernah berada di kepala ketika saya patah hati dulu. menyesal bertemu dengan dia yang mematahkan bagian terapuh dari diri saya. menyesal pernah terlibat dalam hubungan percintaan yang begitu sempurna. menyesal pernah membuatnya menjadi bagian terindah dalam hidup saya. dan memang setelah saat itu, semua tentang dia menjadi penyesalan bukan lagi yang indah-indah. walaupun itu semua hanyalah merupakan penyangkalan atas rasa kehilangan saya.

kenapa saya harus ketemu dan kenal sama kamu?

pertanyaan yang masih terlontar setiap harinya ketika saya bertemu dan kenal dengan orang baru. terus begitu. walau nampaknya sederhana, toh jawabannya menjadi rumit. kecuali bila ingin gampang, maka jawab saja: tidak tahu. setidaknya itu adalah sebuah jawaban juga. sebuah jawaban sederhana, jujur dan apa adanya.

jawaban yang tak menjawab itu terus-terusan membuat saya berpikir tentang setiap mereka yang pernah datang ke hidup saya. si anu yang kenal di sebuah bimbingan belajar ternyata menjadi si anu yang menjodohkan saya dengan pacar pertama saya di bangku SMA. karena ternyata si anu itu adalah teman satu komplek sang pacar pertama tersebut. itu hanya 1 contoh. contoh lainnya, satu waktu saya punya teman dekat perempuan yang iseng-iseng mengajak saya casting. tak dinyana ternyata saya keterima casting lantas ikutan shooting. dari shooting itu saya semakin tertarik dengan dunia produksi. lantas berentetan perkenalan dengan orang baru diikuti dengan serentetan kejadian-kejadian menarik yang kemudian membawa saya hingga di menit ini. di satu tempat berkesibukan yang menyenangkan. dan di setiap harinya mengantar saya ke banyak pengalaman dan pribadi-pribadi menarik lainnya. itu hanya segelintir contoh yang saya tanpa sadari membantu saya untuk mendewasa setiap menitnya.

jadi kenapa saya harus ketemu dan kenal sama kamu?

untuk beberapa menit, beberapa jam, beberapa hari, beberapa minggu, bahkan beberapa bulan ke depan mungkin saya tidak menemukan jawabannya. tapi mungkin di akhir tahun atau tahun depan atau bahkan bertahun-tahun berikutnya saya baru menyadari, bahwa jika saya tidak ketemu dan kenal sama kamu, dia atau mereka... saya tidak akan pernah sampai di satu titik yang saya idam-idamkan, entah itu tentang cara berpikir, berkarir, kedewasaan, percintaan, bahkan jodoh dan kematian. siapa tau...




Jakarta, kenapa kita harus saling kenal?


Blog Entrymembaca mayaMay 28, '08 11:29 AM
for everyone
beberapa hari terakhir ini beberapa teman sekerja saya sedang sibuk-sibuknya meng-upload foto-foto liburan Bali mereka ke facebook, flicker, friendster, dan beberapa image hosting lainnya di dunia maya. lantas berkali-kali pun mereka mencoba memancing saya untuk merasa menyesal karena tidak bisa ikut bergabung bersama mereka ke Pulau Dewata yang selalu mampu membuat saya menangis karena kenangan-kenangan lama, dengan cerita-cerita heboh seputar liburan mereka.

2 hari setelah kepergian mereka saya memang sempat menyesal. karena ketika mereka tengah menghitamkan kulit di pantai Kuta, saya sedang menghitamkan kulit karena cek lokasi shooting di Jakarta. ketika mereka sedang  menikmati sunset di Tanah Lot, saya sedang "menikmati" sunset dari dalam ruangan kantor yang dingin. ketika mereka sedang asyik minum anggur merah di muka horizon jingga, saya justru menenggak air putih hangat akibat flu berat yang melanda. sebersit ada penyesalan yang menghantui hari-hari kerja saya dan berharap pintu kamar mandi kantor berubah menjadi pintu Doraemon yang bisa langsung mengantar saya ke Hotel Harris Bali, tempat mereka menginap.

tapi beberapa hari terakhir menjelang shooting penyesalan itu hilang. tim produksi saya kali ini benar-benar baru. maksudnya semua yang terlibat dalam shooting kali ini belum pernah bekerja dengan PH tempat saya bekerja. maka itu saya di daulat untuk menjadi "penjembatan" antara budaya kerja di PH ini dengan mereka, agar pekerjaan bisa lancar. bertemu orang-orang baru dengan kepribadian-kepribadian yang seru dan menyenangkan. dari mulai menghadapi cara kerja mereka yang agak berbeda hingga mempelajari sifat-sifat mereka semua. sangat menarik. karena di antara keasingan kami, ternyata saya menemukan betapa sebetulnya kami semua sejenis. manusia-manusia idealis dan romantis yang terperangkap dalam rutinitas publik dan realita sinis.

dari 2 minggu kebersamaan siang dan malam, dalam suka dan duka dunia pre produksi, saya mendapat banyak cerita dan pengalaman hidup yang sangat menarik dari setiap mereka. dari mulai cerita tentang kost yang kebanjiran, sampai perjalanan spiritual seorang location manager. mereka pun ternyata diam-diam mengamati saya.

kebiasaan saya menulis di multiply ternyata menarik perhatian mereka. membaca "maya". katanya. lantas berpendapat tentang maya dan dunianya. "maya" yang dalam dunia nyata tidak segitu maya-nya. "maya" yang suram dalam dunia maya, tapi dalam dunia nyata terlalu cerah untuk terlihat sebagai seseorang yang kerap menulis tentang kegelapan. "maya" yang sedih dalam dunia maya, nyatanya begitu penuh tawa di dunia nyata. "maya" yang pesimis romantis di dunia maya, ternyata terlalu realistis sehari-harinya. "maya" yang begitu maya di dunia maya. dan saya ternganga mendengarnya.

sebuah tawaran membuat skrip film membuat hati saya berbunga-bunga. bahkan lebih berbunga-bunga daripada ketika saya jatuh cinta. menulis skrip film dengan bahasa saya. bahasa maya. bahasa maya dengan dunia suramnya. bahasa suram dari journal multiply seorang maya. dan saya masih ternganga saat mendengar tawarannya.

tidak menyesal tidak pergi ke Bali sekarang. tidak menyesal tidak bisa menikmati matahari tenggelam di pantai Kuta. tidak menyesal tidak membenamkan kaki di pasir basah sambil minum anggur merah. tidak menyesal tidak jalan-jalan di Legian untuk menyusuri jejak kenangan. tidak menyesal tidak bisa membuat kenangan baru di indahnya Nusa Dua. tidak menyesal karena tidak ada yang sia-sia di dunia, ketika pilihan demi pilihan terpampang untuk di jalankan salah satunya. lalu konsekwensinya adalah menjadi sesuatu yang bukan untuk disesali, tetapi dinikmati. maka di titik inilah saya kini. menikmati dan menunggu konsekwensi yang indah karena tidak jadi pergi ke Bali.




jakarta, konsekwensi pekerjaan yang indah


Blog Entryhidup... tanpa sayaMay 3, '08 3:58 AM
for everyone
satu waktu sambil menyeruput vanilla latte dingin di sebuah tempat makan 24 jam yang lumayan cozy dan baru bersama beberapa orang teman di pukul 2 pagi, tiba-tiba terlintas sekelibat pemikiran tentang hidup saya. hidup saya, tanpa saya.

berpikir tentang hidup saya, ketika kelak saya sudah tidak ada di dunia. mencoba membayangkan apa yang dirasakan oleh ibu saya tercinta, apakah beliau akan menangisi saya seperti kebanyakan orangtua lainnya. memikirkan ayah saya yang jarang saya temui, apakah beliau kemudian menyesal tidak pernah begitu mengenal saya selama ini. membayangkan kakak saya yang cepat terharu mungkin akan menangis meraung-raung, dan adik saya hanya terpaku kaku dengan wajah bekunya. atau mungkin adik laki-laki saya tersebut yang justru akan meraung-raung?

membayangkan benda-benda milik saya yang kelak tak punya pemilik lagi. membayangkan sms yang terkumpul di handphone saya kemudian dibaca oleh mereka, hingga mungkin dari sana mereka menemukan banyak kejutan tentang saya, kegiatan dan orang-orang yang selama ini dekat dengan saya. membuka file yang tersimpan rapi di dalam laptop saya, dari mulai urusan kerja, tulisan tentang rasa hingga foto-foto yang sengaja tidak pernah saya perlihatkan kepada siapa-siapa. mungkinkah mereka justru akan lebih mengenal saya justru ketika hidup sudah berjalan tanpa sosok saya?

memikirkan siapa yang akan membuka, meng-update atau menghapus profile Friendster saya. mencoba membayangkan siapa yang akan mengubah status di Facebook saya dari tentang kegiatan atau perasaan saya hari-hari lalu, menjadi hanya : "die romantic" ? memikirkan Yahoo Messenger yang tak akan pernah lagi aktif dengan puluhan daftar ID Yahoo yang menunggu sia-sia  "teguran" saya yang biasanya cukup mengganggu aktifitas mereka. lantas memikirkan siapa orang yang paling tepat yang akan saya serahi password dan tulisan terakhir saya untuk di upload ke Multiply.

berpikir tentang teman sekamar yang nantinya harus kembali terbiasa tidur sendiri dan mengatasi rasa kesepian juga ketakutannya pada alam gaib tanpa saya. berpikir tentang sahabat perempuan tempat curhat saya yang mungkin akan terlepas dari beban cerita-cerita rahasia atau justru akan kehilangan kecerewetan saya. berpikir tentang beberapa teman laki-laki yang biasa saya "culik" untuk menemani saya menyeruput kopi di tengah malam buta dan kemungkinan mereka bisa tidur pulas atau terjaga karena kangen ajakan saya yang tak akan ada lagi. berpikir tentang dia yang biasa memeluk dan dipeluk hingga kami tertidur pulas, yang mungkin dengan mudah akan mengganti pelukan-pelukan itu dengan pelukan orang lain atau justru merasa ada yang hilang dari malam-malam lelahnya.

entahlah. dalam keramaian seperti semalam, saya justru mendapati diri saya membayangkan dan memikirkan tentang bagaimana nantinya hidup saya, tanpa saya. sebuah pemikiran yang tiba-tiba membuat saya berpikir tentang menjadi lebih hidup sebelum Tuhan meminta saya untuk hidup di alam yang lain.





Jakarta, hidup (saya) tanpa saya



Blog Entry...daripada saya pecandu narkoba?!May 3, '08 12:13 AM
for everyone
belakangan ini saya lebih banyak menghabiskan waktu di kantor daripada (bahkan) tidur di rumah. dari 24 jam yang digulirkan waktu dalam 1 hari, hampir rata-rata 16 jam saya habiskan di kantor, 7 hari dalam seminggu! melakukan apa? melakukan banyak hal yang bisa dikerjakan sesuai pekerjaan saya di Rumah Produksi tentunya. mengapa sampai begitu panjang waktunya? entah. terkadang jadwal yang berubah mendadak, departemen-departemen yang terlambat mengumpulkan materi, jawaban dari email yang menghancurkan jadwal hari ini, internet yang lamban hingga membuat semua berita tertunda dalam pengiriman, atau tim kerja yang tiba-tiba sakit hingga tidak sanggup menyelesaikan tugasnya dan saya yang harus mengerjakan pekerjaan tersebut!

lantas banyak yang bertanya-tanya tentang kehidupan sosial saya. tentang kapan saya bertemu ibu saya tercinta, kapan saya berbincang dengan teman lama, kapan saya pergi berkencan dengan teman pria (mengingat alarm usia menikah sudah berteriak-teriak), kapan saya ada waktu menyeruput kopi di cafe favorit bersama sahabat, kapan saya sempat berbelanja baju yang sedang digandrungi seantero Jakarta, kapan saya bisa memeluk keponakan yang kangen, kapan saya menonton dvd-dvd yang menumpuk di lemari tv, kapan saya menyalurkan hobbi menggambar lagi, kapan saya berolahraga untuk kesehatan jantung dan mata, kapan saya sekedar duduk diam dan membaca di sudut cafe favorit saya lagi... kapan ini... kapan itu... kapan? kapan-kapan, dong!

dan mereka pun menyarankan saya untuk mencari pekerjaan atau kegiatan yang lebih menyenangkan. lebih menyenangkan yang seperti apa? yang jam kerjanya jelas, yang tidak harus menghabiskan sepanjang waktu saya di kantor, yang tidak membuat mata saya tak sempat terpejam, yang masih mengijinkan saya untuk ngupi-ngupi di sore hari, yang membolehkan saya bertemu laki-laki untuk dikencani, yang masih menyisakan waktu untuk sekedar menonton dvd kesukaan di akhir minggu... tentunya sebelum tengah malam menyergap hari.

saya hanya tertawa. buat saya tidak ada yang lebih menyenangkan dari pekerjaan yang saya lakukan sekarang. ritme kerjanya, jam kerja, teman kerja, tekanan kerja, yang dikerjakan, hingga hasil akhirnya. saya suka semuanya! kadang saya memang lelah. tapi saya menikmati kelelahan itu. kadang saya kangen kehidupan sosial yang biasa dulu saya jalani. tapi saya lebih kangen pekerjaan ini ketika saya sedang (berusaha) bersosialisi bersama orang-orang di luar kantor. kemudian kalian pun ramai-ramai berteriak di telinga saya: "KAMU ADALAH PECANDU KERJA!" lalu saya hanya akan tersenyum simpul dan menjawab: "DARIPADA SAYA PECANDU NARKOBA?!" sambil meninggalkan keriaan sementara itu dan kembali bekerja seperti sebelumnya. ambil semua dari segi positifnya saja, teman-teman!






Jakarta, saya pecandu kerja

Blog Entrywaktu yang egoisApr 29, '08 10:14 AM
for everyone
waktu adalah ciptaan-Nya yang paling hebat. sebuah ciptaan yang paling individual bila tidak bisa dikatakan egois. ia bergerak terus ke depan. tidak pernah terlalu cepat. tidak ingin bergerak melambat. ketika 86.400 detik, 1.440 menit, 24 jam, apapun yang terjadi di dalamnya adalah mutlak. tidak bisa di ubah kecuali dengan proses menuju ke depan, bukan ke belakang seperti keinginan manusia kebanyakan. 

waktu tidak menunggu. ia bisa terlihat berjalan santai di mata orang yang hidupnya tidak banyak tantangan. dan ia terkesan berlari di lingkungan mereka yang kesibukannya menumpuk. hingga  berkali-kali keluhan tentang tidak cukupnya 24 jam sehari menjadi makanan sehari-hari. dan waktu tentu saja hanya menuli. diam seperti ia tercipta. namun waktu mengetahui semuanya. tak ada yang terlewat darinya.

menghentikan waktu adalah mimpi manusia. membekukan detik. menghalau menit bergerak lagi. mengendapkan jam sesaat untuk berbagi lebih banyak dengan mereka yang tercinta. seseorang, keluarga, pekerjaan, hobby, pemandangan, kenangan...

nyatanya waktu memang egois. tak peduli kebutuhan deadline di setiap pekerjaan. tak peduli airmata yang mengalir atas harapan mengulang kenangan. tak peduli senyum yang terpudar karena penyesalan. tak peduli angan tentang momentum yang bisa terulang. tak peduli kesempatan yang terlewatkan.

Tuhan menciptakan waktu untuk dinikmati. pun andai Tuhan menciptakan waktu yang bisa dimundurkan, apakah manusia benar-benar bisa menggunakan sebaik-baiknya? dan apakah dunia akan menjadi tempat yang lebih baik, atau justru hancur karena kerap bergerak ke belakang, bukan ke depan? karena setiap kita pasti lebih sibuk memperbaiki kesalahan daripada belajar dari kesalahan...





Jakarta, tentang waktu yang egois



Blog Entrycinta itu melelahkanApr 24, '08 12:21 PM
for everyone
"cinta itu melelahkan..."

terlontar dari mulut seorang teman perempuan yang kerap bercerita tentang betapa cinta membuatnya merasa lebih hidup. saya menajamkan pendengaran sambil mengganti posisi duduk saya menjadi lebih nyaman. ini mungkin bisa membutuhkan waktu yang sangat panjang.

"kenapa gitu?"

tanya saya sedikit penasaran atas pernyataannya yang kali ini bertolak belakang dengan cerita lalunya yang indah-indah. apa yang membuatnya berubah pikiran? satu pertanyaan "kenapa" lantas memancing muntahan dasyat tentang kemuakannya kepada cinta. membanjirlah makian demi makian atas cinta. hingga cerita lalunya soal cinta yang begitu indah kini terasa seperti kebohongan.

cinta itu melelahkan karena... tidak bersyarat, tidak berbatas, tidak memiliki, tidak beralasan. realitanya dalam hidup semuanya tidak mungkin. dunia selalu mempunyai syarat. manusia mempunyai banyak keterbatasan. setiap orang pasti selalu mempunyai hasrat untuk memiliki. dan untuk menjadi rasional kita harus punya alasan untuk apapun. walau toh nyatanya cinta memang tidak rasional. cinta bukan lagi rasa yang sempurna ketika ketidaksempurnaan menjadi tembok yang memisah 2 hati. cinta hanyalah sebuah ilusi... bukan rasa. kalaupun cinta adalah rasa... ia rasa yang sementara. sesuatu yang emosional. sebuah euphoria. sebuah keriaan sesaat. serangkaian konspirasi hati untuk memusuhi otak atas nama reaksi kimia di antara sepasang manusia.

lalu sepi. mulut saya terkunci. dia berhenti menerangkan. lalu tertawa. bukan tertawa gembira. tapi tertawa untuk menutupi sakit hatinya. tertawa begitu lepas berusaha melupakan airmatanya yang mulai menggenang di sudut matanya yang kini tak lagi berbinar. saya masih diam mencoba menelaah apa yang sudah dialaminya. dulu ia bicara atas nama cinta dengan begitu banyak warna. kini ia bicara atas nama cinta dengan begitu gelapnya. sinis. sarkastic. begitu bertolak belakang dengan dia yang dulu. begitu kosong. begitu lelah.

lalu kembali sepi. saya menghela napas. ia kini menangis. walau tetap berkata berkali-kali bahwa bukan cinta yang ia tangisi. tapi kesalahannya... yaitu percaya kepada cinta. bukan cinta yang ia ratapi. tapi kebodohannya... yaitu berharap cinta bisa membuat hidupnya lebih indah. saya mengusap punggungnya, berharap saya bisa mengeluarkan beberapa pernyataan untuk membela cinta. tapi saya tidak bisa. karena buat saya cinta itu seperti pelangi. datang karena perpaduan 2 materi yang berbeda, membentuk sebuah fenomena alam yang begitu indah, namun tak bertahan karena akhirnya perlahan-lahan hilang tak berbekas... entah mengapa mendengar pernyataan teman perempuan itu senyum saya kembali mengembang.




Jakarta, cinta memang melelahkan




**maya is listening to Peterpan "hari yang cerah (untuk jiwa yg sepi)" ... a guilty pleasure!

Blog Entrymba Kartini apakabarnya?Apr 21, '08 2:48 AM
for everyone
21 April 2008

Pertama-tama karena hari ini adalah hari ulangtahun almarhumah Nenek saya, maka saya ingin mengucapkan : Selamat Ulang Tahun, mbah... dimanapun mbah berada, semoga selalu bahagia!

Kedua saya juga akan mengucapkannya kepada alamarhumah RA Kartini : Selamat Hari Ulang Tahun! apa kabar? semoga sudah tidak perlu memperjuangkan emansipasi wanita di sana... seperti halnya kami di sini...

Ketiga saya ingin berkomentar sedikit tentang tayangan infotainment yang dari jam 7 pagi sudah gembar-gembor soal Hari Kartini dengan cara mempertanyakan soal emansipasi wanita kepada para selebritis. jawabannya memang bermacam-macam. ada yang masih terus berjuang, ada yang sudah tidak memikirkan, ada juga yang merasa sudah cukup setara dengan pria, tapi ada pula yang kebablasan... yah, masih seperti tahun-tahun sebelumnya!

Apakah perempuan benar-benar masih harus memperjuangkan nasibnya di jaman ini? Buat saya perjuangan perempuan Indonesia sudah cukup hingga kesetaraan yang ada begitu terasa di segala bidang kehidupan. beberapa teman saya tidak begitu setuju dengan hal itu. mereka masih merasa perempuan di Indonesia masih tertindas. masih banyak kekerasan rumah tangga, masih ada penjualan perempuan, masih banyak TKI perempuan disiksa di negara lain, jumlah perempuan di kancah perpolitikan dan bejibunan masalah-masalah tentang perempuan lainnya. bagi saya masalah yang sekarang ada tinggal dikembalikan ke masing-masing individunya. seberapa besar mereka ingin berkembang. seberapa kuat mereka menghadapi jaman. dan sampai sebatas apa kebebasan yang mereka inginkan. di luar itu "kedudukan" perempuan Indonesia sudah semakin sejajar dengan prianya.

Kadang saya berpikir... bila masih banyak perempuan yang membuang bayi hanya karena takut aib akibat hamil di luar nikah, maka mereka yang demikian sama saja meruntuhkan sendiri keinginan kesetaraan dan kebebasan yang mereka bangun. dibanding bermasalah dengan kesetaraan gender, perempuan di Indonesia justru lebih mempunyai masalah dengan dirinya sendiri. teriak-teriak soal kesetaraan namun tetap menomorsatukan kalimat "... aku kan perempuan!" jika sudah terpojok. menyerukan soal perempuan dan kebebasan memilih, tapi enggan memilih laki-laki yang paling pantas mendampingi hidup dan "memilih" untuk menunggu dan dipilih - walau itu juga pilihan sih! menangis sesungukan dan meminta dibela ketika dicolek laki-laki iseng kala sedang di tempat umum dengan pakaian terbuka, hingga menghasilkan perkelahian antar "jagoan" kandang.

Perempuan. Saya, kamu, kita dan mereka masih punya banyak PR yang menyangkut arti emansipasi yang dipionirkan Kartini di masa lalu, yang harus dikembalikan ke dalam diri masing-masing, bukan diserukan kepada kaum laki-laki...


Selamat Hari Kartini!





Jakarta, selamat hari Kartini



Blog Entrycinta itu pilihanApr 11, '08 6:29 AM
for everyone
obrolan panjang tengah malam dengan seorang teman laki-laki mengetuk rumah kaca tempat saya berlindung dengan keras. untung saja kaca-kaca di kotak kubik ini tidak sampai berserakan hanya tergetar seperti terkena gempa. kembali bicara tentang cinta. cinta dia dan cinta saya, tapi bukan tentang cinta kita. tidak ada kita semalam, hanya dia, saya dan cinta.

memilih. katanya mencintai adalah tentang memilih. karena cinta adalah pilihan. ketika satu waktu cinta mendatangi kita, di sana terpampang 2 pilihan : mengambil atau membiarkan. malam itu saya kurang setuju dengan teman laki-laki tersebut. karena menurut saya, kita tidak bisa memilih siapa dan kapan kita jatuh cinta. dan cinta selalu datang tiba-tiba tanpa tanda, hanya rasa. dan sang teman laki-laki tertawa sambil mengatakan bahwa saya adalah mahluk romantis yang naif. menurutnya semua hal dalam hidup adalah pilihan, termasuk cinta. menurutnya manusia "dibuatkan" otak oleh Tuhan untuk berpikir dan memilih. padahal menurut saya cinta diciptakan Tuhan hanya untuk dirasa, bukan dipilih kepada siapa akan kita bagi. dan teman saya yang rasional tapi mengaku galau itu kembali mentertawai "ke-naif-an" saya.

bagaimana kalau orang yang kita pilih untuk dicintai tidak mencintai kita? ini adalah salah satu argumen saya. "we don't always get what we want. but we can always do the right thing..." jawab laki-laki anti rokok itu. pengalaman pribadi katanya. pernah memilih untuk mencintai orang yang tepat tapi dalam situasi yang salah. tapi kemudian memilih untuk membenarkan situasi dengan beranjak pergi meninggalkan si orang yang tepat tersebut. "saya memilih untuk menjadi benar walau artinya tidak mendapatkan apa yang saya mau." ujarnya. ah... seperti ada yang menusuk hati saya saat mendengar pernyataannya.

walau demikian saya dan sisi gelap yang katanya naif ini tetap dengan pendiriannya. "jika mencintai dia adalah sebuah kesalahan, saya tidak ingin menjadi benar..." kata saya mengutip kalimat indah yang lupa pernah saya baca dimana. si teman laki-laki itu kembali tertawa, bukan mentertawai saya tapi mentertawakan sisi romantis saya yang senang dikelabui dan dibutakan oleh cinta itu. "kamu boleh aja jatuh cinta... tapi ngga boleh buta. ayo lah... kemana sisi rasional kamu?" ujarnya - sebetulnya dalam bahasa inggris - dengan tegas. saya terdiam. kadang saya benci apa yang saya rasa. saya tidak suka berada di sini. dalam satu keadaan yang membuat saya harus memilih antara menikmati situasi yang salah ini atau kembali menjadi rasional dan pergi.

"hidup adalah selalu tentang memilih. demikian juga dengan cinta. sebuah pilihan" kata teman saya beberapa saat sebelum kami menyudahi pembicaraan lewat telephon semalam.

dan saya berbaring dengan mata yang susah terpejam hingga pagi menjelang kubik kaca yang mulai retak ini.






Jakarta, cinta itu pilihan



Blog EntryObsesiMar 17, '08 3:32 PM
for everyone
sebuah lagu dari Suede seketika mengingatkan saya pada sebuah pembicaraan panjang bersama seorang teman perempuan. pembicaraan yang masih berkutat seputar percintaan. tentang patah hatinya, tentang penantiannya, tentang penyepiannya dan tentang ekspektasi yang sekiranya terlalu berlebihan. sebuah pembicaraan yang mengacu pada 1 keinginan bernama obsesi.

setiap orang pasti pernah mempunyai obsesi, apapun objeknya. saya ingat dulu ada seorang teman yang mengira saya terobsesi dengan kematian, karena saya kerap membicarakan tentang keinginan untuk segera bertemu dengan Tuhan. ada juga yang menganggap saya terobsesi dengan Brett Anderson sang vokali Suede, hanya karena kala itu saya memotong rambut dengan model yang sama dengannya dan mengenakan pakaian hitam-hitam kemana-mana. beberapa bahkan menuduh saya terobsesi pada kebersihan, dikarenakan hobby saya membenarkan letak benda yang terlihat tidak teratur atau sekedar berlama-lama menyikat gigi di kamar mandi. dan kini mereka bilang saya terobsesi dengan dunia maya karena saya selalu terlihat begitu "autis" bila sedang terkoneksi dengan internet. tapi tak ada orang yang benar-benar tau apa obsesi saya yang sebenarnya.

ada orang yang terobsesi dengan agama, sehingga apapun yang sekiranya tidak sesuai dengan agamanya akan ia musuhi. tidak sedikit orang yang terobsesi dengan pernikahan, hingga tanpa sadar "menakuti" para lawan jenis yang tengah mendekati mereka dengan impian-impian muluk tentang pernikahan. atau mereka yang - seperti dalam sebuah iklan rokok - terobsesi menjadi sutradara lantas sibuk "mengarahkan" hidup orang lain, tentu akan sangat mengganggu. terobsesi dengan seseorang saat ini merupakan obsesi yang semakin banyak ditemui di dunia, baik terhadap selebritis atau seseorang yang pernah penting di masa lalu.

kembali ke teman perempuan yang bercerita tentang obsesinya terhadap seorang pria di masa lalu. segala hal ia lakukan untuk mendapatkan sang pria dan berhasil. pun berhasil akhirnya ia tetap kehilangan pria tersebut, ironisnya justru karena obsesinya itu.

"pada akhirnya loe harus bisa bedain antara obsesi dan rasa..." kata teman perempuan tersebut.

saya mengerti maksudnya. saya pernah ada di posisinya. menginginkan seseorang hingga begitu dalam. yang ada di kepala saya hanya satu, keinginan untuk selalu bersamanya. semua cara dilakukan untuk menarik (kembali) perhatiannya, semuanya pun tanpa hasil. rasanya hampir gila memikirkan cara apa lagi untuk mendapatkan sosok itu lagi. semuanya sudah saya beri untuk dia. sisi terbaik saya, momentum terindah, perlakuan manis, waktu, kehadiran, senyum, tawa, tangis, cinta... ya, saya memberi semuanya kecuali pengertian dan perhatian kecil. karena sebenarnya saya hanya terobsesi hingga tidak pernah menyadari bahwa selama ini sebenarnya dia sudah di sana dan selalu ada untuk saya. sampai mungkin lelah membawanya pergi dari saya.

di satu waktu sebuah pertanyaan besar mengaju. "apakah ini cinta atau hanya rasa ingin memiliki yang terlalu besar dan egois saja?". setelah sekian lama berkutat dengan obsesi dan ekspektasi akhirnya saya mendapat jawabannya. seharusnya cinta itu mengikhlas. cinta tidak memaksa untuk memiliki. cinta juga tidak menuntut untuk dimiliki. cinta itu memberi. cinta juga menerima apapun yang terjadi. dan mencintai adalah mengerti. sesederhana itu.

"jangan-jangan akhirnya kita jadi terobsesi cinta nih? apa-apa ujungnya cinta..."  lanjut teman perempuan saya sesaat setelah kami membahas tentang obsesi masing-masing.

"lho, bukannya hidup memang tentang cinta ya? bukannya cinta yang picisan ya... cinta seperti yang kita bahas tadi. kalaupun iya, gue ngga ada masalah dengan terobsesi cinta. dunia akan semakin indah dengan begitu banyak cinta yang mengisinya..." ujar saya sok puitis.

"hhhh.. dasar pujangga!" seru teman perempuan saya menyindir.

"ya, panggil saya pujangga kesiangan yang terobsesi cinta... saya bahagia mendengarnya!" balas saya sumringah.

"ah... itu sih narsis!" kata teman saya kali ini seraya pergi menjauh.






Jakarta, terobsesi cinta




**maya is still trying to get some sleep, mind numbing listening to Yovie & Nuno "sempat memiliki" tonight... pathetically...


Blog Entrysaatnya bercerminMar 15, '08 4:09 AM
for everyone

membicarakan orang lain
terus dan terus
tak ada habis
tak lekang topik
begitu ringan
begitu cermat
yang baik jadi buruk
yang jelas jadi bias
yang nyata jadi maya
yang benar jadi salah
terus dan terus
tak juga lelah
tak kunjung reda
begitu lugas
begitu seru
membicarakan orang lain
yang mengingatkan kita
tentang bercermin



jakarta, membicarakan orang

Blog Entrymenjadi pengeluhMar 15, '08 3:46 AM
for everyone
Beberapa hari terakhir jam kerja saya sedang berlangsung selama 2x24jam alias sampai sama sekali tidak tidur. Bukan insomnia atau tidak bisa menutup mata. Tapi otak yang diharuskan untuk terus-terusan bekerja dan rasanya tidak memungkinkan diperintah untuk tidur. Kantuk dan lelah sempat terasa tapi tidak dirasa karena tim saya pun melakukan hal yang sama. Beberapa orang yang menemukan keadaan saya yang demikian menyuruh saya untuk istirahat. Dan teman-teman chatting memaksa saya untuk pulang karena khawatir saya sakit. Tapi saya hanya tersenyum dan meneruskan untuk bekerja. Saya cinta pekerjaan ini, dan apapun yang saya lakukan karena cinta pasti tidak akan terasa melelahan.

Saya ingat seringkali mendengar keluhan teman-teman saya tentang pekerjaan mereka. Tentang Boss yang “bossy” (namanya juga Boss, layak bossy!), tentang partner kerja yang lelet, tentang client yang tidak jelas apa maunya, tentang presentasi yang tak lancar karena ide-ide ditolak mentah, tentang job yang di cancel semena-mena, tentang tim kerja yang tidak koorperatif, tentang benci begadang karena deadline, juga tentang kantor yang memasung kreatifitas. Mendengar semuanya, saya menghela napas dan berkata “masih mending masih punya pekerjaan… coba deh pikirin orang yang nganggur!” dan teman-teman saya kemudian kebanyakan lantas tersinggung. Lho kok?!

Mengeluh. Siapapun pasti pernah melakukannya. Manusiawi. Walau sudah tidak manusiawi lagi rasanya apabila mengeluhkan semua hal yang terjadi di dunia. Sudah tidak sehat lagi jika segala hal yang kita jalani dalam hidup selalu dikeluhkan. Dari mulai soal jari kaki yang ukuran kiri kanannya tak sama sampai matahari yang bersinar terlalu terik dan menghitamkan kulit. Dari mulai makanan yang kurang garam sampai pesawat terbang yang terlambat landing. Dari mulai pacar yang lupa sms sampai calon suami yang ternyata sudah menikah. Mengeluh. Apakah hanya itu yang bisa kita lakukan?

Nikmatin aja! Hidup memang tidak selalu indah, itu realitanya... tapi toh tidak selalu buruk juga bukan?

Dulu saya pernah menjadi pengeluh sejati. Mengeluh tentang betapa galaknya ibu saya, tentang sakit menahun yang saya derita, tentang bosan sekolah, tentang Jakarta yang semakin padat, sampai tentang dunia yang seakan memusuhi saya. Hingga suatu hari saya seperti ditampar keras kala menemukan realita bahwa selama ini hidup yang saya jalani sebenarnya masih jauh lebih sempurna daripada hidup mereka yang : tidak punya orangtua, tidak sanggup ke dokter karena terlalu sakit, tidak bisa sekolah karena tidak punya biaya, harus tidur di tengah padatnya Jakarta karena tidak punya rumah, dan mereka yang setiap harinya memusuhi dunia. Sejak itu saya memilih untuk mencoba mencintai segala yang terjadi dalam hidup, berhenti mengeluh dan menjadi pendengar.




Jakarta, tentang mengeluh


Blog Entryperempuan itu lari telanjangMar 13, '08 5:31 AM
for everyone
perempuan itu lari telanjang. tubuh kurusnya terpampang vulgar di depan orang-orang. tak ada sehelai benangpun di sana. matahari membakar sekujur kulitnya yang sudah legam. ia tertawa. entah mentertawai apa. ia bicara. entah bicara tentang apa. ia mengoceh. dalam ocehannya yang kosong ia pun hampa. matanya menusuk orang-orang yang menatapi tubuh telanjangnya dengan liar. ia kembali berlari. entah mengejar atau dikejar apa. tak ada yang berani mendekat.  bahkan tidak untuk sekedar menutupi tubuh telanjangnya. lebih banyak yang bersembunyi untuk menghindar. perempuan itu lari telanjang. tak ada segan. hanya ada senang, begitu bebas. walau senang dan bebas dikepalanya mungkin hanya semu.



jakarta, perempuan itu lari telanjang

Blog Entrytentang ulang tahunMar 6, '08 12:43 PM
for everyone
7 maret 2008 jam 00:02

hari ini usia saya mengganjil jadi 29 tahun. termasuk angka yang cukup banyak terbuang mengingat pengalaman hidup saya yang rasanya tidak sepadan dengan angka tersebut. saya memutuskan untuk "merayakan" ulangtahun saya kali ini dengan menyendiri. kebetulan di hari yang sama umat Hindu juga sedang merayakan hari Nyepi. dan karena itu buat saya ulangtahun kali ini sangat istimewa.

karena "merayakannya" sendiri rasanya tidak banyak yang bisa saya ceritakan. karena yang saya lakukan pada dasarnya hanya duduk diam, memikirkan hidup, memikirkan masa lalu, masa kini dan masa depan saya tanpa ada "gangguan". sendirian. banyak orang di sini. hanya saja mereka tidak tau bahwa hari ini saya berulangtahun. itu menyenangkan karena saya tidak perlu "terganggu" dengan pernyataan Happy Birthday dari orang-orang. bukan, bukannya saya tidak suka diberi ucapan selamat. saya hanya sedang ingin sendiri dan melupakan sejenak bahwa umur saya sesungguhnya tengah berkurang 1 tahun lagi. buat saya detik pertama memasuki pertambahan umur merupakan sebuah suasana berkabung.

saya ingat dulu ibu saya selalu merayakan hari ulangtahun anak-anaknya - semenjak tahun pertama kami mengarungi hidup - dengan meriah. kue ulang tahun warna-warni, balon di setiap pojok ruangan, nyanyian Happy Birthday dari kaset yang diputar di satu sudut ruang, eyang-eyang, tante-tante, oom-oom, sepupu, teman-teman sebaya semua tampak ikut senang merayakan ulangtahun saya. dan saya pun tampak sumringah di tengah tumpukan kado yang terbungkus indah, tak sabar ingin membongkar lantas menemukan kejutan-kejutan yang menyenangkan.

tapi itu semua hanya berlangsung hingga usia saya 5 tahun. masuk tahun ke 6 saya mulai merasa bahwa hari ulangtahun hanyalah hari saya menyenangkan orang lain dengan mengadakan pesta, bukan untuk menyenangkan saya. entah apa yang ada dibenak saya kala itu. ketika teman-teman sekelas berlomba-lomba merayakan ulangtahun mereka besar-besaran di sekolah, saya memilih untuk minta dibuatkan makanan kesukaan di rumah dan memakannya bersama ibu serta kakak dan adik saya, hanya mereka b3, tak mau ada yang lain. dan itu terus berlanjut hingga menjelang saya masuk sekolah menengah pertama.

ulangtahun saya yang ke 14 harus saya lewatkan di rumah sakit dengan keadaan sangat tidak sehat. tapi hampir seluruh keluarga besar saya ada, mereka semua berdoa untuk kesembuhan saya. tahun berikutnya saya memilih untuk pulang terlambat ke rumah dan menikmati kota Jakarta di sore hari sendirian. menaiki bis kota sambil memikirkan tentang masa depan juga melakukan apa yang saya mau : jalan-jalan sendirian. sampai di rumah ibu memarahi saya karena membuatnya khawatir.

ketika teman-teman saya membuat pesta-pesta seru untuk merayakan hari ulangtahun ke 17, saya menolak usul ibu saya yang hendak merayakan sweet seventeen saya di sebuah restoran mahal. kami sampai beragumen keras dan membuat saya tidak ditegur ibu selama 3 hari. tapi saya tidak menyerah. saya bersikeras untuk tidak merayakan berkurangnya umur saya. seorang mantan pacar di masa itu sangat mengerti kebiasaan saya, hingga yang ia lakukan hanyalah mengantar 1 slice blackforest untuk saya lengkap dengan lilinnya, agar saya bisa merayakan ulangtahun sendirian dan meniup lilin di manapun saya memilih untuk menyendiri.

satu-satunya perayaan "terbesar" setelah belasan tahun adalah ketika saya menginjak umur 21 tahun. seorang mantan pacar mengadakan pesta kejutan untuk saya di rumahnya. ya, di rumahnya bukan di rumah saya, karena saat itu kami backstreet! ibunya memasak tumpeng lengkap dan acara itu dihadiri oleh keluarga besarnya. lantas sesampai saya di rumah, ibu ternyata memasak Lasagna kesukaan saya hingga 2 loyang besar seperti ketika saya masih di SD dulu! saya jadi merasa bersalah...

beberapa tahun berikutnya saya sempat "menyepi" bersama seorang mantan pacar (ini lain lagi lho!) ke Bandung. dan tahun depannya masih bersama dia dan seorang teman bergadang hingga besok paginya semalaman membicarakan tentang hidup dan keinginan-keinginan saya ke depan. mengucapkan harapan dengan cara meniup lilin hiasan di meja makan. menyenangkan. tahun berikutnya saya merayakannya nun jauh di satu tempat. makan sate ayam dengan seseorang sambil mengagumi langit malam. lalu bicara tentang Tuhan. tentang mengapa Dia membiarkan saya hidup hingga di usia 27 tahun. bicara tentang harapan yang terpupus dari tahun yang lampau. bicara tentang keinginan untuk berhenti menikmati indahnya dunia.

hari ini, lewat 20 menit dari tanggal 6 maret 2008, 5 orang teman memberi ucapan dengan caranya masing-masing. ada yang penuh canda, ada yang penuh tawa, ada yang ikut berbahagia, ada yang ramai di tengah pesta, sangat kontras dengan suasana hati saya saat ini. sepi. menunggu Tuhan untuk sekedar bercakap-cakap sejenak di satu tempat yang nyaman ini.



Jakarta, "happy" 29th  birthday

Blog Entryfilm hororMar 4, '08 12:37 AM
for everyone
beberapa waktu lalu seorang teman mengajak saya nonton film Indonesia yang katanya sedang "booming" karena melibatkan Suzana-ya, yang artis horor no 1 di Indonesia itu-sebagai salah satu pemainnya. alasannya karena saya pecinta film horor. iya sih, saya suka sekali nonton film horor, tapi bukan film horor Indonesia. sejak Suzana dan film-film seramnya merajalela di Indonesia dan menobatkannya sebagai "Ratu film horor" di negara ini, saya belum pernah sedikitpun tertarik untuk menikmati film-film semacam itu-walau kadang terpaksa karena acara TV sedang tidak ada yang menarik-lumayan untuk ketawa-ketawa.

tapi teman saya terus memaksa dengan alasan lain, yaitu karena saya adalah semacam manusia "horor" juga. katanya "sesama mahluk horor harus saling mendukung!" lalu dengan tidak sopan ia tertawa kencang-kencang sambil terus meminta saya untuk menemaninya menonton film tersebut. tentu saja saya tetap menolak mentah-mentah. bukan saya tidak menghargai karya bangsa dengan segala usaha mereka membangkitkan film Indonesia. saya hanya berharap usaha mereka seharusnya "hanya" sebatas membangkitkan semangat berfilm, bukan membangkitkan mahluk-mahluk dari alam kubur.

akhirnya teman saya menyerah dan memutuskan untuk ngupi-ngupi saja di rumah sambil membahas tentang film Indonesia. mempertanyakan film horor yang seperti apa yang saya suka-tentunya yang tanpa darah dan penampakan yang terjadi tidak tertebak juga tidak berlebihan serta nilai lebih berupa "hantu yang masuk akal". teman saya mengernyitkan dahinya. hantu yang seperti apa yang masuk akal? apakah ada hantu yang benar-benar masuk akal? entahlah... buat saya kebanyakan hantu di film Indonesia ketahuan bohongnya, tidak "senatural" hantu-hantu di film Jepang.

lagipula bagi saya film horor yang sebenarnya adalah film tentang cinta. lho kenapa? dengan begitu banyak romantisme, kebetulan, tangis, tawa, harapan dan cemburu, film tentang cinta terasa "menyeramkan" karena bisa membuat kita mengkhayal dan berharap terlalu tinggi hingga terbawa ke realita-yang nyatanya tidak demikian adanya. buat saya tidak ada yang lebih "horor" daripada rasa cemburu. dan dalam setiap film tentang percintaan biasanya rasa itu pasti ada dan terkadang di ekspose berlebihan. apalagi yang lebih menyeramkan daripada rasa keinginan memiliki yang berlebihan? jadi tidak salah kan kalo saya beranggapan bahwa film horor yang sebenarnya adalah film tentang cinta.

"kalo gitu kita nonton film percintaan aja yukkk..." ajak teman saya akhirnya.






Jakarta, film horor

Pages:123456
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help