the's posts with tag: my life
 pernikahan adik saya sebentar lagi akan dilangsungkan. kemarin saya dan ibu sudah disibukan dengan pemilihan kain untuk membuat kebaya keluarga. ditengah kesibukan kami saya bertanya-tanya dalam hati. apakah melangsungkan pernikahan memang selalu sesibuk ini? apakah perayaan penyatuan 2 cinta harus dilaksanakan dengan pesta seperti ini? saya tergelitik dengan pertanyaan saya sendiri. lalu timbul 1 pertanyaan untuk adik laki-laki saya yang sedang berbahagia itu. apa yang membuat dia yakin bahwa perempuan yang akan mendampinginya di pelaminan nanti adalah perempuan terakhir dan terbaik untuk dia? saya belum pernah bertanya seperti ini, namun mungkin nanti beberapa hari sebelum pernikahannya saya ingin meluangkan waktu untuk mendengar jawabnya - semoga tidak membuat dia berubah pikiran tiba-tiba setelahnya :) rasa sayang. jika ditanyakan kepada ibu saya pertanyaan yang sama maka jawabnya demikian. bukan cinta? saya ingat ibu terdiam sejenak. rasa peduli. lantas ia menjawab. rasa sayang dan kepedulian. bukan cinta. titik. saya kini yang terdiam. mencerna ujaran ibu yang kala itu masih asing terdengar oleh saya yang duduk di bangku kelas 2 SMU. saya memang selalu awam bila bicara soal cinta. tapi saya yakin, ibu DULU cinta kepada ayah saya hingga memutuskan untuk menikahinya. mungkin juga sampai sekarang - hanya saja teredam oleh luka lamanya. rasa sayang. rasa peduli. setelah besar saya baru pahami. setelah menemukan seseorang saya baru mengerti. apa arti sayang. apa arti peduli. kepada mereka. terutama mereka yang saya cintai. toh tidak saya cintaipun saya tetap sayang dan peduli. semuanya adalah tentang berbagi. dulu saya berpikir bahwa jika menikah nanti saya harus bisa menjadi orang bertoleransi tinggi. karena saya akan menghabiskan sisa hidup berdua saja dengan si dia yang saya cintai. yaitu hidup berbagi. berbagi tempat tinggal. berbagi kamar. berbagi ranjang. berbagi selimut. berbagi segelas kopi di pagi hari. berbagi kamar mandi. berbagi channel TV. berbagi hati. berbagi masalah. berbagi tangis. berbagi tawa. berbagi ciuman sebelum tidur. berbagi orgasme. dan banyak lagi berbagi yang lainnya yang membutuhkan toleransi tinggi. saya yang egois ini akhirnya berpikir berulang kali dan menunda untuk menikah. rasa sayang. rasa peduli. sekali lagi saya kembali merasakan itu kepada dia yang saya cintai dan mereka yang berada di sekitar saya. berpikir tentang rasa sayang. berpikir tentang rasa peduli. berpikir tentang berbagi. saya melakukan itu kepada mereka semua. saya melakukan itu kepada dia yang saya cinta. dan untuk berbagi saya tidak butuh menikah... tapi saya butuh lebih dari rasa sayang dan kepedulian untuk berbagi atas nama cinta dalam pernikahan. saya butuh cinta itu sendiri... cinta. mungkin itu yang adik saya rasakan kepada calon istrinya. semoga... jakarta, menikah karena cinta
|  | production : TVC AXE "KRAKATOA" 4 version location : Jakarta, Indonesia
another fun production |
 I don't wanna be adored Don't wanna be first in line Or make myself heard I'd like to bring a little light To shine a light on your life To make you feel loved No, don't wanna be the only one you know I wanna be the place you call home I lay myself down To make it so, but you don't want to know I give much more Than I'd ever ask for Will you see me in the end Or is it just a waste of time Trying to be your friend Just shine, shine, shine Shine a little light Shine a light on my life Warm me up again Fool, I wonder if you know yourself at all You know that it could be so simple I lay myself down To make it so, but you don't want to know You take much more Than I'd ever ask for Say a word or two to brighten my day Do you think that you could see your way To lay yourself down And make it so, but you don't want to know You take much more Than I'd ever ask for Hamburg Song by. Keane **Maya is writing down her thoughts listening to this lovable song...
 Ketika kita belum tiba di sekarang. Siapa kamu. Siapa aku. Kita asing. Kamu tidak kenal aku. Aku tidak kenal kamu. Kita bahkan tidak pernah bertemu. Kita bahkan belum pernah berpapasan di jalan. Kita mungkin tetap asing jika tidak ada satu waktu itu. Waktu yang hanya beberapa menit itu. Waktu yang tergulir tanpa rencana untuk mengenalmu. Waktu yang digulirkan tanpa ada yang tau kita akan bertemu. Kemudian kenal. Dan sampai di sekarang yang rancu. Ketika kita belum ada di sekarang. Dimana kamu. Dimana aku. Kita asing. Kamu dengan sibukmu. Aku dengan sibukku. Kita bahkan tidak pernah bertatap muka. Kita bahkan belum pernah tau bahwa kita saling ada. Mungkin kita akan tetap begitu. Bila tidak ada satu waktu itu. Waktu yang berjalan tak sesuai inginku. Waktu yang terbuang tak seperti rencanamu. Kemudian bertemu. Lantas kenal. Dan tiba di sekarang yang masih mengabur. Ketika kita belum tiba di sekarang. Kemana kamu. Kemana aku. Kita yang asing. Kamu tak tau aku. Aku tak tau kamu. Kita bahkan tak pernah tau akan bertemu. Kita bahkan tak pernah mengira mendapati mata beradu. Kita mungkin tidak di sini jika tak ada satu waktu itu. Waktu yang singkat. Waktu yang memikat. Kemudian kata saling menyapa. Kemudian angan saling berpelukan. Lalu berbagi nyamannya pagutan. Dan tiba di sekarang yang tak juga terjelaskan. Jakarta, ketika kita belum tiba di sekarang
 Sejak kecil saya sudah hobby sekali mendengarkan musik. Mempunyai pojok khusus di ruang tengah dengan alat pemutar musik dan headphone kebesaran bertengger di kepala. Mendengarkan Chica Koeswoyo atau Yoan Tanamal di sore hari, kadang Soundtrack film The Sound of Music, kadang tembang lawas dari penyanyi-penyanyi cilik yang kurang terkenal. Sedikit menggoyangkan kepala sambil mengamati Ibu tercinta membuatkan makan malam atau membaca majalah. Mengundang senyum beliau yang jarang. Kemudian sore hari setelah mandi itu selalu menjadi sore yang membahagiakan bagi si kecil Maya yang berumur 3 tahun. Kesukaan saya akan musik di masa kecil mungkin menjadi salah satu yang membentuk pribadi saya saat ini – setidaknya itu pernah saya baca di majalah tentang efek musik klasik terhadap bayi dalam kandungan. Entah mengapa setiap malam sebelum tidur lelap saya meminta Ibu untuk memutarkan lagu-lagu klasik dari tape di kamarnya yang bersebelahan dengan kamar saya. Hanya sayup-sayup saja. Denting piano klasik dari Richard Clayderman. Dari Pour Ellise sampai Love Story. Dengan volume tepat. Dalam ketenangan yang berpendar tiba-tiba. Si kecil Maya yang berusia 5 tahun berkhayal memainkan pianonya sendiri setiap malam. Hingga terlelap. Suatu waktu di ruang keluarga saudara sepupu. Saya menemukan piano sungguhan. Suaranya benar-benar berdenting. Begitu klasik. Seklasik wangi kayu yang khas. Tuts hitam putih yang begitu anggun tertata. Saya tergoda untuk menyentuhnya. Saya ingin memilikinya. Begitu saya ternganga menatap benda yang suaranya setiap malam mengiringi tidur saya. Ibu pun bertanya, “kamu benar-benar ingin belajar main piano?”. Mata saya berbinar. Saya menganggukan kepala kencang-kencang. Saya ingin memainkan Pour Ellise saya sendiri. Saya ingin mendentingkan nada-nada Love Story saya sendiri. Saya ingin jari-jari mungil ini berloncatan lincah seperti jari-jari Richard Clayderman yang saya lihat di TV memainkan karya-karya Bethoven, “Tapi kamu masih umur 5 tahun, masih terlalu kecil… nanti tulang jari kamu tumbuh bengkok!” kata Ibu lagi. Tapi saya memaksa. Tapi saya bersikeras. Tapi saya tak peduli jari-jari ini kelak tumbuh bengkok. Saya hanya ingin main piano. Pojok dengan alat pemutar musik dan headphone besar sore itu digeser ke ruang bermain. Kini menjadi singgasana piano saya. Piano berukuran sedang berwarna coklat. Begitu klasik. Seklasik wangi kayunya yang khas. Tuts hitam putihnya juga begitu anggun tertata. Piano yang mirip dengan kepunyaan sepupu saya. Yang ini punya saya. Punya saya sendiri. Seperti pojok musik yang dulu, ini pun milik saya khusus! Ibu juga memanggil guru les piano privat yang datang setiap hari Senin dan Rabu. Lalu setiap habis makan malam ibu akan duduk manis mendengarkan saya berlatih penuh semangat. Betapa saya cinta kepada Ibu dan sebaliknya. 10 tahun kemudian. Maya kecil kini sudah berumur 16 tahun. Saya tumbuh menjadi gadis pembangkang penyuka musik berdistorsi. Berbekal gitar kopong milik adik laki-laki dan buku cara belajar bermain gitar, saya sempat fasih “menggenjrengkan” alat musik tersebut. Latihan di studio musik dan bergabung dengan band sekolah. Belagak keren. Karena trend anak band. Perempuan bergitar terdengar mentereng. Sempat membuat Ibu jengkel karena acara belajar main gitar selalu saya lakukan di malam hari. Malam-malam yang biasanya Ibu luangkan untuk mendengarkan saya bermain piano. Ibu protes. Ibu mengancam menjual piano. Saya diam. Saya tak ingin kehilangan alat musik yang anggun itu. Tapi saya sedang senang main gitar. Toh setelah 10 tahun belajar saya sudah apal luar kepala cara memainkan Pour Ellise dan Love Story. Sekarang saya ingin memainkan lagu-lagu The Cure; Letter to Ellise dan Love Song salah satunya. Toh judul keduanya terdengar sama… 13 tahun kemudian. Maya remaja kini sudah berusia 29 tahun. Saya tumbuh menjadi perempuan lajang idealis dan romantis. Penat oleh pekerjaan dan kemacetan lalu lintas. Menulis prosa dan puisi tentang cinta, hidup atau luka. Berhenti bermain gitar dan merindukan piano tua yang terpajang kaku di rumah Ibu. Saya pun kangen Ibu, juga kegiatan bermain piano setelah makan malam. Ketika pulang ke rumah beberapa waktu lalu saya membuka tutup piano dan menyentuh tuts hitam putih yang masih anggun dan kokoh itu. Suaranya memang tidak senyaring dentingnya yang dulu. Butuh service sana sini. “Terlalu lama tidak dimainkan…” kata Ibu sambil duduk di samping saya, di bangku piano yang warna joknya sudah diganti. Jari-jari bengkok saya kaku memainkan Pour Ellise. Saya bahkan tidak bisa memainkan Love Story sampai habis. Ternyata saya tidak lagi se-apal dulu, setidaknya 5 tahun lalu ketika terakhir kali saya menyentuh alat musik klasik itu. Tiba-tiba saya ingin belajar main piano lagi. Seperti halnya belajar mencintai Ibu saya kembali, setelah perbedaan pendapat yang berkepanjangan kemarin. Jakarta, tentang efek musik dan ibu
 Baby, I can't figure it out Your kisses taste like honey Sweet lies don't gimme no rise up Fool, what you're trying to do Livin' on your cheatin' and the pain grows inside me It's enough to leave me crying in the rain Love you forever but you're driving me insane And I'm hanging on Oh, oh, oh, oh I'll wait, I'll never give in Our love has got the power Too many lovers in one lifetime Ain't good for you You treat me like a vision in the night Someone there to stand behind you When your world ain't working right I ain't no vision, I'm the girl who loves you inside and out Backwards and forwards with my heart hanging out I love no other way What are we gonna do if we lose that fire? Wrap myself up and take me home again Too many heartaches in one lifetime ain't good for me You figure it's the love that keeps you warm Let this moment be forever We won't ever feel the storm I ain't no vision, I'm the girl Who loves you inside and out Backwards and forwards with my heart hanging out I love no other way What are we gonna do if we lose that fire? Don't try to tell me that it's over I can't hear a word I can't hear a line No girl could love you more And that's what I'm cryin' for You can't change the way I feel inside You're the reason for my laughter and my sorrow Blow out the candle I will burn again tomorrow No man on earth can stand between my loving arms And no matter how you hurt me, I will love you till I die I ain't no vision, I'm the girl Who loves you inside and out Backwards and forwards with my heart hanging out I love no other way What are we gonna do if we lose that fire? Loves you inside and out Backwards and forwards with my heart hanging out I love no other way What are we gonna do if we lose that fire inside and out by.feist / beegees **maya is singing along whilst working at 1am, thinking about you :)
 saya: saya ga peduli mereka yg ga suka gelap... saya bukan matahari dia: kamu bukan matahari, tapi kamu bisa menjadi bintang buat seseorang (alah)... jadi inget lagu sting! saya: saya suka hidup di gelap ini. setidaknya saya ga pura2 jadi orang lain yg ngaku bahagia dia: itu yg saya bilang... sebenernya kamu tuh ga gelap, kamu tuh terang. terang benderang. u know... bukan nya ngeremehin lho, malah saya pikir itu bagus. cuma ada yang lebih gelap dari kamu. berbahagialah anda yang terang benderang wahai teman ku! saya: semoga. tapi saya bukan matahari dia: seperti bintang di malam hari, itu yg saya maksud. lingkungan kamu yg gelap. bukan kamu nya. kamu nya mah terang benderang, seperti bintang saya: mereka bilang saya gelap dia: ya bebas lah saya: walau katanya kalo ketemu aslinya sih saya terang... kayak petromak, heuheuheuheu.. malah ada yg bilang saya kayak setan dia: hahahahahaha... kenapa kayak setan? jangan mau atuh saya: ga tau. aneh bgt ga sih dia: emang ortu kamu setan? bukan kan? saya yakin ortumu manusia... saya yakin saya: ya iya lah! dia: masalah nya kalo setan, saya pasti udah nge blank kalo ngobrol ama kamu... heuehuehuehuehu... saya: garink ih! jakarta, obrolan kurang penting tapi penting - 2
 dia: kamu tuh sebenrnya orang yang hangat, yang menghargai nilai nilai sosial. kalo saya baca. tulisan2 mu saya: emang...... terlihat gimana? dia: nilai2 intim yang muncul dari hubungan antar manusia. bukan nya nge judge lho.... saya: nilai intim? dia: bagus... udah jarang orang yg kayak beginian. sekarang semua nya udah berdasarkan untung rugi saya: masa? bukannya byk? dia: menyamaratakan hubungan sosial seperti sebuah komoditas... makanya kamu bilang kamu pengen bercinta... kamu rindu rasa sepi sebenernya mungkin kamu rindu ama hubungan antar manusia yang pure, yg jujur... tanpa aling aling, atau tedeng apapun.. saya: bener tuh... dia: saya mengerti kamu may... mari kita pacaran, heuheuehueheuheueheuehu saya: huhhhh akhirnya kamu jg pake aling2 jakarta, obrolan kurang penting tapi penting 1
 "jangan lupa tersenyum!" akhirnya setelah sekian lama saya harus kembali mendengar kalimat itu dari ibu saya. hari ini saya memperpanjang KTP yang masa berlakunya sudah habis sejak 3 bulan lalu. karena tidak punya banyak waktu tersisa untuk sekedar mengingat kewajiban yang satu itu - akibat terlalu senang memikirkan reference dan booklet atau presentasi. maka untuk keperluan membuat KTP baru itu saya harus memberikan pas foto terbaru. padahal pas foto yang saya punya selain - menampilkan sosok saya 5 tahun yang lalu - sudah hilang semua! hehehe... dan gara-gara tidak punya KTP, sampai hari ini saya belum juga bisa mengurus tabungan dan ATM yang terblokir. untungnya setiap kali meeting dan harus meninggalkan pengenal di gedung client atau agency mereka tidak pernah memperhatikan masa berlaku KTP saya. "jangan lupa tersenyum pokoknya!" ujar ibu lagi ketika saya sudah memasuki ruang untuk foto. saya tersenyum geli. bahkan di usia saya yang mau kepala 3 ini pun ibu masih menegur saya untuk masalah yang sama. tapi ya sudah lah. di mata orang tua seorang anak tetaplah seorang anak... anak-anak! :) dan hari ini saya berhasil mempunyai pas foto yang lumayan "menyenangkan" untuk dipajang di KTP hingga 4 tahun ke depan. thanx to my Mom! Jakarta, pas foto maya
|  | where i grew up, my Mom's house... |
13 Juni 2008 jam 00.01 1 kue tart “Opera” favorite. 2 lilin kecil. 1 bungkus kado berukuran sedang. Dan 2 orang yang berjingkat-jingkat masuk ke dalam kamar. Saya dan adik laki-laki. Kamar yang gelap kontras dengan sinar redup yang terbentuk dari lilin kecil. Ibu membalikan badan dari posisi tidurnya. Beliau terkejut kemudian tertawa. Wajah tirusnya bersinar-sinar. “ya ampun… jam berapa ini? Ada-ada aja…” kalimat itu terlontar disela tawa kecilnya. “happy birthday yang ke 60 ya Maa… tiup lilinnya!” ucap saya dan adik laki-laki saya satu persatu. Lantas ibu meniup 2 buah lilin yang menyala di kegelapan kamar. Kamar kembali gelap. Kami berdua mencium ibu bergantian. Adik saya menyerahkan kado ulangtahun yang ia beli bersama calon istrinya. Saya membangunkan keponakan yang sedang tidur untuk ikut serta dalam “keriaan” kecil ini. Dengan mata mengantuk anak berusia 7 tahun itu memeluk ibu saya erat-erat tanpa mengucapkan sepatah katapun. Tapi ibu saya mengerti dan mengucapkan terima kasih sambil mencium laki-laki kecil itu. “ayo makan kue!” seru keponakan saya sambil mengucek-ucek matanya yang masih berat. Kami hanya tertawa dan memintanya kembali tidur. Adik saya juga kembali ke kamarnya. Dan saya? Saya tidur di samping ibu. Rasanya sudah lama sekali saya tidak tidur dekat ibu, apalagi di sampingnya. Karena semenjak usia 5 tahun saya sudah punya kamar sendiri dan ibu tidak pernah menemani lagi. Sepi. Dalam gelap ibu mengajak berbincang-bincang. Tentang kabar. Tentang hidup. Tentang pertemanan. Tentang pacar. Tentang pernikahan adik saya. Tentang umur saya yang masih melajang. Tentang umurnya yang makin menua. Tentang pekerjaan. Tentang kendaraan. Tentang ayah. Tentang sakit. Tentang Keinginan. Tentang rumah kontrakan. Tentang mobil idaman. Tentang masa depan keponakan. Tentang warisan. Tentang kematian. Dan masih juga tentang sekolah dan cita-cita. Tapi kali ini nadanya tidak lagi tinggi. Hanya berupa ungkapan. Hanya berupa nasihat dan rasa sayang. Begitu ringan. Begitu benar. Saya hanya diam dan mendengarkan. Kini rasanya lebih mudah mendengarkan ibu yang bersikap demikian. Hingga jam menunjukan pukul 02.40 kami berdua pun tertidur dengan tenang. Tidak seperti dulu. Yang masing-masing. Yang beku dan terkaku karena perbedaan pendapat. 13 Juni 2008 jam 07:05 Saya dibangunkan oleh keponakan yang berteriak-teriak ditelinga. “ayo! Bangun! Katanya mau makan kue? Trus nanti anterin ke sekolah yaa…” serunya lantang dengan suara yang lucu. Sayapun keluar kamar dan menemukan kue tart favorite ibu saya sudah terpajang di atas meja makan dan sudah terpotong beberapa. 2 cangkir coffee mix panas juga tersedia di sana. Satu untuk adik dan satu untuk saya. Sarapan. Kata ibu saya. Hari ini sarapan kue tart coklat dan coffee mix panas di pukul 7 pagi. Ini yang membedakan rumah sendiri dengan rumah kost. Tiba-tiba saya begitu rindu suasana seperti ini dan berpikir untuk lebih sering pulang. Tidak hanya karena hari special seperti hari ini. Tapi setiap hari. Seperti dulu. Ketika segalanya masih begitu sederhana dan saya belum begitu keras kepala. Jakarta, Happy Birthday Mom!
 34. 3+4 = 7. Buat saya itu adalah angka bagus. Hari ini kakak perempuan saya genap berusia 34 tahun. Saya dan dia sudah hampir 1 tahun tidak bertemu. Dia dan dunianya. Saya dengan dunia saya. Jadi hari ini saya cuma bisa mengucapkan Selamat Ulang Tahun lewat sms. Sebuah rutinitas tahunan yang sudah terjadi selama 4 tahun terakhir. Entah saya yang memang tidak terlalu peduli pada hari ulang tahun – baik untuk saya pribadi ataupun orang lain – atau memang kami sudah kelewatan sibuknya hingga tidak pernah bisa punya waktu berbagi lagi seperti saat kecil dulu. Saya ingat kakak saya yang usianya terpaut 5 tahun dari usia saya itu dulu selalu merayakan hari ulang tahunnya dengan pesta-pesta meriah. Mungkin dia yang mau atau ibu saya tercinta yang membuatkannya. Kakak saya yang cantik itu dikenal sebagai perempuan supel yang senang berteman, bergaul dan seringkali menjadi pusat perhatian. Mungkin karena selain ramah dia juga cantik. Makanya ia punya banyak sekali teman yang selalu datang bila diundang ke pesta ulangtahunnya. Ini berbeda dengan saya yang selalu menolak dibuatkan acara ulang tahun apapun bentuknya. Bukan karena saya tidak suka atau tidak punya teman. Semata karena saya merasa hari kelahiran adalah sesuatu yang harus direnungkan setiap tahunnya, bukan dirayakan. Setiap kali kakak saya ultah ibu pasti membawa kami ke plaza untuk membeli kado untuk kakak. Biasanya budgetnya tak terbatas, asalkan berguna dan tidak lekang masa. Dan entah kenapa saya selalu merasa kado-kado yang saya berikan dulu untuk dia tidak sesuai dengan kepribadiannya. Kalau saya memilih untuk membelikan buku, dia lebih senang menerima boneka dari pacarnya. Kalau saya membelikan baju biasanya bukan model yang dia suka. Kalau saya memberikan ucapkan selamat dengan kaku dia lebih suka diberikan pelukan hangat dan ciuman selamat. Saya dan kakak perempuan saya memang perbedaannya sangat menyolok. Selain dari segi selera makan, belanja dan hobby, secara fisik kami pun bertolak belakang. Kakak saya kulitnya putih sekali seperti model-model di iklan pemutih wajah di tv. Kulit saya hitam (manis) sejak lahir. Kakak saya tinggi dengan tulang besar. Saya begitu “petite” hingga selalu dikira masih kecil. Kakak saya senang menceritakan hal-hal bahagia yang terjadi dalam hidupnya. Saya lebih senang menceritakan yang tragis-tragis. Kakak saya memilih untuk menikah muda di usia 23. Saya hingga di usia 29 belum juga serius tertarik ke arah sana. Tapi dari begitu banyak perbedaan kami, hingga hari ini kami belum pernah sama sekali bertengkar – mulut maupun fisik. Bicara soal ketegaran, bagi saya kakak adalah sosok yang sangat kuat. Di usia 27 tahun dia sudah harus menghadapi kenyataan bercerai dari suaminya. Di usia yang sama saya malah masih sibuk menata hidup sendiri. Lantas kakak saya pun harus memikirkan bagaimana cara membesarkan anak semata wayangnya sendirian. Untung kami mempunyai ibu yang Wonder Woman yang sejak kecil selalu mengajarkan kami untuk bisa hidup mandiri. Kakak saya berhasil mengikuti jejaknya. Saya? Saya masih terlalu manja, untuk sekedar pulang malam tanpa naik taxi saja saya belum bisa. 34 tahun kini usianya. Semoga hidup banyak memberinya pelajaran dan kekuatan dalam menjalani setiap kejadian yang terjadi. Happy Birthday, dear Sister! Jakarta, 8 Juni 2008
 beberapa hari terakhir ini beberapa teman sekerja saya sedang sibuk-sibuknya meng-upload foto-foto liburan Bali mereka ke facebook, flicker, friendster, dan beberapa image hosting lainnya di dunia maya. lantas berkali-kali pun mereka mencoba memancing saya untuk merasa menyesal karena tidak bisa ikut bergabung bersama mereka ke Pulau Dewata yang selalu mampu membuat saya menangis karena kenangan-kenangan lama, dengan cerita-cerita heboh seputar liburan mereka. 2 hari setelah kepergian mereka saya memang sempat menyesal. karena ketika mereka tengah menghitamkan kulit di pantai Kuta, saya sedang menghitamkan kulit karena cek lokasi shooting di Jakarta. ketika mereka sedang menikmati sunset di Tanah Lot, saya sedang "menikmati" sunset dari dalam ruangan kantor yang dingin. ketika mereka sedang asyik minum anggur merah di muka horizon jingga, saya justru menenggak air putih hangat akibat flu berat yang melanda. sebersit ada penyesalan yang menghantui hari-hari kerja saya dan berharap pintu kamar mandi kantor berubah menjadi pintu Doraemon yang bisa langsung mengantar saya ke Hotel Harris Bali, tempat mereka menginap. tapi beberapa hari terakhir menjelang shooting penyesalan itu hilang. tim produksi saya kali ini benar-benar baru. maksudnya semua yang terlibat dalam shooting kali ini belum pernah bekerja dengan PH tempat saya bekerja. maka itu saya di daulat untuk menjadi "penjembatan" antara budaya kerja di PH ini dengan mereka, agar pekerjaan bisa lancar. bertemu orang-orang baru dengan kepribadian-kepribadian yang seru dan menyenangkan. dari mulai menghadapi cara kerja mereka yang agak berbeda hingga mempelajari sifat-sifat mereka semua. sangat menarik. karena di antara keasingan kami, ternyata saya menemukan betapa sebetulnya kami semua sejenis. manusia-manusia idealis dan romantis yang terperangkap dalam rutinitas publik dan realita sinis. dari 2 minggu kebersamaan siang dan malam, dalam suka dan duka dunia pre produksi, saya mendapat banyak cerita dan pengalaman hidup yang sangat menarik dari setiap mereka. dari mulai cerita tentang kost yang kebanjiran, sampai perjalanan spiritual seorang location manager. mereka pun ternyata diam-diam mengamati saya. kebiasaan saya menulis di multiply ternyata menarik perhatian mereka. membaca "maya". katanya. lantas berpendapat tentang maya dan dunianya. "maya" yang dalam dunia nyata tidak segitu maya-nya. "maya" yang suram dalam dunia maya, tapi dalam dunia nyata terlalu cerah untuk terlihat sebagai seseorang yang kerap menulis tentang kegelapan. "maya" yang sedih dalam dunia maya, nyatanya begitu penuh tawa di dunia nyata. "maya" yang pesimis romantis di dunia maya, ternyata terlalu realistis sehari-harinya. "maya" yang begitu maya di dunia maya. dan saya ternganga mendengarnya. sebuah tawaran membuat skrip film membuat hati saya berbunga-bunga. bahkan lebih berbunga-bunga daripada ketika saya jatuh cinta. menulis skrip film dengan bahasa saya. bahasa maya. bahasa maya dengan dunia suramnya. bahasa suram dari journal multiply seorang maya. dan saya masih ternganga saat mendengar tawarannya. tidak menyesal tidak pergi ke Bali sekarang. tidak menyesal tidak bisa menikmati matahari tenggelam di pantai Kuta. tidak menyesal tidak membenamkan kaki di pasir basah sambil minum anggur merah. tidak menyesal tidak jalan-jalan di Legian untuk menyusuri jejak kenangan. tidak menyesal tidak bisa membuat kenangan baru di indahnya Nusa Dua. tidak menyesal karena tidak ada yang sia-sia di dunia, ketika pilihan demi pilihan terpampang untuk di jalankan salah satunya. lalu konsekwensinya adalah menjadi sesuatu yang bukan untuk disesali, tetapi dinikmati. maka di titik inilah saya kini. menikmati dan menunggu konsekwensi yang indah karena tidak jadi pergi ke Bali. jakarta, konsekwensi pekerjaan yang indah
 "7" atau "tujuh" kenapa angka itu? entahlah. bentuknya sederhana. dan dalam pengucapan pun bisa mengandung makna yang cukup berarti : tu-ju-(h)-an... tujuan dan Tuhan. walau yang terakhir agak dipaksakan, tapi benar saya membacanya demikian. "7" atau "tujuh" ada apa dengan angka tersebut? ada banyak hal di dunia yang hanya terhitung hingga angka itu. 7 hari dalam seminggu. 7 warna pelangi. 7 benua. 7 bidadari. 7 keajaiban dunia. 7 kurcaci dan putri salju. 7 planet di luar Bumi. walau yang terakhir masih juga agak dipaksakan, tapi benar saya selalu berpikir demikian. "7" atau "tujuh" tanggal lahir saya. angka sederhana yang menurut saya menyenangkan untuk dibaca atau sekedar diperhatikan. dia memang bukan teratas seperti angka 1. dia bukan juga favorite seperti angka 9. dia pun bukan angka yang "mematikan" seperti 4. dia bukan pula "mengalir" seperti angka 8. setidaknya itu menurut saya selama ini. toh setiap orang punya angka favorite yang berbeda dengan segala macam penjelasannya yang terkadang sama tak masuk akalnya dengan saya. ibu saya misalnya, beliau menyukai angka 13. sebuah angka ganjil yang banyak dihindari orang-orang karena dianggap sebagai angka sial atau keramat. sampai-sampai banyak gedung tinggi di dunia tidak mencantumkan angka tersebut di lantai yang semestinya. itu tidak berlaku bagi ibu saya yang justru memilih membeli rumah bernomor 13, memesan plat nomor mobil yang memuat angka 13 atau setidaknya jika dijumlah total angkanya menjadi 13. begitu pula dengan nomor handphone, beliau senang dengan 0813 ... karena ada angka 13nya. hingga yang paling tidak masuk akal adalah ketika beliau menjadi 1-1nya perempuan dari total 13 orang yang lolos dalam sebuah ujian kenaikan pangkat di kantornya. alasan utamanya hampir sama dengan saya, karena itu adalah tanggal lahirnya. bagaimana dengan kalian? jakarta, tentang angka keberuntungan
 ini sabtu malam. kelakar demi kelakar terlontar di antara riuh rendahnya Kemang Food Fest yang padat. angin malam mendesir-desir menerpa badan ringkih ini. rapatkan jaket. lilitkan syal di leher. tak juga mempan ternyata. cairan mengalir dari hidung. bukan. bukan darah. hanya cairan flu yang sudah 3 hari terakhir mengganggu. makan bubur seafood ternyata tak membantu meredakan gangguan itu. lalu seperti ada yang menekan di dada. lalu seperti ada yang menutup saluran pernapasan. tenang. mungkin hanya tertekan karena di keramaian. tapi tidak. 3 menit sudah sesak melanda. ambil napas perlahan-lahan. dari panjang-panjang hingga terpaksa pendek-pendek. terduduk lemas. terdiam. menenangkan semua orang yang memandang khawatir. ini saatnya kembali ke Unit Gawat Darurat. sekedar mencari "udara segar" untuk bertahan hidup. di sabtu malam.
jakarta, UGD lagi
 satu waktu sambil menyeruput vanilla latte dingin di sebuah tempat makan 24 jam yang lumayan cozy dan baru bersama beberapa orang teman di pukul 2 pagi, tiba-tiba terlintas sekelibat pemikiran tentang hidup saya. hidup saya, tanpa saya. berpikir tentang hidup saya, ketika kelak saya sudah tidak ada di dunia. mencoba membayangkan apa yang dirasakan oleh ibu saya tercinta, apakah beliau akan menangisi saya seperti kebanyakan orangtua lainnya. memikirkan ayah saya yang jarang saya temui, apakah beliau kemudian menyesal tidak pernah begitu mengenal saya selama ini. membayangkan kakak saya yang cepat terharu mungkin akan menangis meraung-raung, dan adik saya hanya terpaku kaku dengan wajah bekunya. atau mungkin adik laki-laki saya tersebut yang justru akan meraung-raung? membayangkan benda-benda milik saya yang kelak tak punya pemilik lagi. membayangkan sms yang terkumpul di handphone saya kemudian dibaca oleh mereka, hingga mungkin dari sana mereka menemukan banyak kejutan tentang saya, kegiatan dan orang-orang yang selama ini dekat dengan saya. membuka file yang tersimpan rapi di dalam laptop saya, dari mulai urusan kerja, tulisan tentang rasa hingga foto-foto yang sengaja tidak pernah saya perlihatkan kepada siapa-siapa. mungkinkah mereka justru akan lebih mengenal saya justru ketika hidup sudah berjalan tanpa sosok saya? memikirkan siapa yang akan membuka, meng-update atau menghapus profile Friendster saya. mencoba membayangkan siapa yang akan mengubah status di Facebook saya dari tentang kegiatan atau perasaan saya hari-hari lalu, menjadi hanya : "die romantic" ? memikirkan Yahoo Messenger yang tak akan pernah lagi aktif dengan puluhan daftar ID Yahoo yang menunggu sia-sia "teguran" saya yang biasanya cukup mengganggu aktifitas mereka. lantas memikirkan siapa orang yang paling tepat yang akan saya serahi password dan tulisan terakhir saya untuk di upload ke Multiply. berpikir tentang teman sekamar yang nantinya harus kembali terbiasa tidur sendiri dan mengatasi rasa kesepian juga ketakutannya pada alam gaib tanpa saya. berpikir tentang sahabat perempuan tempat curhat saya yang mungkin akan terlepas dari beban cerita-cerita rahasia atau justru akan kehilangan kecerewetan saya. berpikir tentang beberapa teman laki-laki yang biasa saya "culik" untuk menemani saya menyeruput kopi di tengah malam buta dan kemungkinan mereka bisa tidur pulas atau terjaga karena kangen ajakan saya yang tak akan ada lagi. berpikir tentang dia yang biasa memeluk dan dipeluk hingga kami tertidur pulas, yang mungkin dengan mudah akan mengganti pelukan-pelukan itu dengan pelukan orang lain atau justru merasa ada yang hilang dari malam-malam lelahnya. entahlah. dalam keramaian seperti semalam, saya justru mendapati diri saya membayangkan dan memikirkan tentang bagaimana nantinya hidup saya, tanpa saya. sebuah pemikiran yang tiba-tiba membuat saya berpikir tentang menjadi lebih hidup sebelum Tuhan meminta saya untuk hidup di alam yang lain. Jakarta, hidup (saya) tanpa saya
 hak sepatu bisa membunuh! ternyata sepatu perempuan dengan hak tinggi bisa membunuh. entah dengan cara diketokan ke kepala seseorang berkali-kali atau sekedar dikenakan seharian di lantai dansa. seperti yang saya lakukan semalam. semalam tinggi saya mencuat menjadi 165cm karena sepatu berhak yang saya kenakan. tubuh menjadi terlihat lebih ramping dengan kaki yang jenjang. cara berjalan menjadi lebih gemulai namun melambat. huah... saya takut jatuh! dan semua orang berkomentar seragam: saya tampak sangat "perempuan" semalam. tapi saya kan memang sudah perempuan, mengapa harus ada embel-embel SANGAT? jadi ceritanya tadi malam saya datang ke acara Ulang Tahun sekaligus perpisahan seorang Producer perempuan. setelah sebelumnya diwanti-wanti untuk mengenakan baju sesuai dress code, yaitu HITAM (yang mana adalah dress code saya sehari-hari juga) dan meminta bantuan seorang teman perempuan untuk mendandani saya. untuk membuat warna hitam yang dikenakan menjadi agak berbeda saya pun memutuskan untuk nekad memakai sepatu hak setinggi 7 cm yang seumur hidup baru saya gunakan 3 kali! sekali-sekali cantik dan dewasa di lantai dansa kan ngga apa-apa... itu celetukan teman saya ketika saya mengeluh tentang ketidaktertarikan saya dengan sepatu hak tinggi yang pasti membuat pegal kaki. saya terbiasa dengan sepatu converse atau sepatu datar ala balerina sehari-harinya. sepatu cantik atau yang katanya membuat kaki terlihat cantik menjadi tidak lagi penting dalam hidup saya dengan alasan tidak praktis dan kurang dinamis. kata teman saya lagi, sebagai perempuan "dewasa" saya harus punya setidaknya 1 pasang saja. akhirnya semalam saya mengenakan sepatu tersebut atas nama "kedewasaan". toh di depan pintu club sang petugas penjaga pintu tetap meminta saya menunjukan KTP untuk memastikan bahwa usia saya sudah di atas 21 tahun! ironisnya 3 orang perempuan yang berbaris di depan yang justru terlihat lebih ABG daripada saya malah lewat tanpa pemeriksaan KTP. club yang padat memaksa saya untuk berjalan lebih gesit agar tidak tertinggal dari teman-teman. tapi sepatu yang haknya lancip ini seakan tersangkut-sangkut diantara goyangan kaki orang-orang. baru 30 menit di dalam club kaki saya sudah "berteriak-teriak" karena tersiksa pegal. Tequila dan Baileys menghangatkan - bukan memanaskan - suasana. seperti biasa saya lebih sibuk mengambil gambar orang-orang daripada menenggak minuman. karena saya tau dengan sepatu setinggi ini saya tidak bisa lari marathon seperti biasa kala saya mabuk. dan semalam memang bukan waktu yang tepat untuk "tak sadar" karena hari ini saya masih harus mengantor. walau begitu hari ini saya tetap bangun kesiangan akibat pulang jam 4 pagi ditambah kaki yang kelelahan dan pegal yang mendera-dera setengah mati hingga saya harus tidur dengan kaki diganjal bantal. sepatu hak tinggi benar-benar bisa membunuh! tiba-tiba saya kangen sekali dengan sepatu converse hitam yang butut tapi nyaman itu. Jakarta, sepatu hak bisa membunuh!
 Siang ini saya berangkat ke kantor dengan sedikit tergesa akibat mandi terlalu lama karena kelewat santai mendengarkan musik di kamar mandi. Setelah membereskan kamar seadanya sayapun setengah berlari keluar rumah dan mencari taxi. Tidak seperti biasa, di jam makan siang dengan cuaca Jakarta yang panas dan terik seperti tadi saya cepat mendapat taxi. Sesaat setelah saya berada di dalam taxi saya baru menyadari bahwa yang mengendarai mobil bercat biru muda itu adalah seorang perempuan lengkap dengan seragam armadanya. Ini kali pertama saya menaiki taxi dengan pengendara perempuan. Awalnya agak deg-degan, mungkin karena tidak terbiasa-bukan menyepelekan pengendara perempuan tersebut-katanya sih ini syndrom orang-orang yang biasa menyupiri bukan disupiri. Tapi ketika taxi mulai melaju menuju kantor yang jaraknya sebetulnya tidak terlalu jauh itu, saya mendapati perempuan tersebut menyetir dengan sangat baik. Tidak kalah lah dengan mayoritas pengendara taxi laki-laki. Hanya saja mungkin karena baru menjadi pengendara taxi, sepertinya ia belum begitu tau jalan hingga saya harus memberikan petunjuk ke arah mana ia bisa menemukan jalan utama dan keluar dari jalan Dharmawangsa ini. Setidaknya ini adalah sebuah pengalaman dan pemandangan baru bagi saya. Duduk manis di belakang dan disetiri oleh perempuan dalam taxi harus mulai dibiasakan. Kalau duduk manis di sebelah kiri dan disupiri oleh teman perempuan rasanya sudah cukup sering. Atau duduk manis menyupiri teman perempuan… rasanya lebih sering! Kalau duduk manis dan “menyetir” laki-laki? Uhhmmmm… harus dicoba! Hahahahahah… Jakarta, disetir perempuan
 Sore. Gerimis. Jalan tol. 100km/jam menuju Jakarta dari Bekasi. Titik-titik air memberikan aksen di kaca jendela mobil. Semakin lama titiknya semakin mengecil lalu hilang karena mongering terkena angin. Jakarta di pukul 5.30 sore. Saya memandangi langit bercakrawala jingga. Awan-awan menggumpal menyerupai ice cream dan kapas putih. Saya mengeluarkan kamera digital dari tas dan mencoba mengabadikan pemandangan favorit saya itu. Saya ingat perjalanan menuju Bali di bulan Oktober lalu. 1 penerbangan di jam yang sama seperti sekarang. Suguhan Maha Indah berupa matahari terbenam di antara awan-awan dengan semburat jingga, nila dan ungu. Seperti ice cream vanilla dengan siraman karamel jingga yang creamy dan saus blueberry… Nyam! Pesawat saya melayang tenang melewati awan yang menggumpal memberi kesan bahwa kami sedang melintasi surga. Di luar jendela warna-warni yang terlukis semakin memudar dan menggelap. Tapi “gambar” yang terekam sempurna lewat mata saya itu tidak akan pernah saya lupa sampai kapanpun Saya dan matahari terbenam. Takjub. Entah mengapa setiap kali bertemu dengan “scene” itu saya selalu merasa ingin menangis. Begitu kagum. Begitu sakral. Begitu sempurna suasana yang diciptakan-Nya waktu itu. Tak pernah sama suasana yang terekam ketika matahari terbenam. Tak pernah sama bentuk yang tercipta warna yang bersemburat di antara awan. Tapi selalu sama desir di dada yang terasa ketika menikmati keindahannya. Selalu sama senyum yang beraksara. Ketika cakrawala jingga tertangkap mata dan terekam sempurna. Jakarta, menangkap Cakrawala Jingga
 Pernahkah merasa sangat hidup padahal realitanya sedang berada di ambang mati? Saya pernah. Satu waktu saya harus masuk rumah sakit karena selama 3 hari berturut-turut suhu tubuh saya meninggi hingga kelewat tinggi mencapai 42 derajat celcius. Entah kenapa dengan panas setinggi itu saya tidak mengalami kejang ataupun pingsan seperti normalnya orang-orang. Saya hanya merasa lemas dan membutuhkan istirahat panjang karena kepala yang terasa begitu berat. Ibu membawa saya ke rumah sakit pukul 5 pagi, langsung ditangani oleh dokter dan suster di UGD. Seorang dokter berkata bahwa terlambat beberapa jam saja saya bisa “lewat” dengan suhu badan setinggi itu. Di tengah bisik-bisik yang terjadi antara ibu dan dokter, saya menangkap diagnosa sementara: saya terkena typus komplikasi, kemudian harus segera diopname. Ibu dan 2 orang suster membawa saya yang sudah terkapar ke dalam sebuah kamar dengan tergesa-gesa. Lantas hal terakhir yang saya ingat adalah mereka memasukan beberapa selang kecil ke hidung, dan mulut juga menusukan jarum infus ke lengan saya. Kemudian semuanya menjadi gelap. Hal pertama yang saya temui ketika membuka mata adalah seorang suster yang sedang mengambil sample darah dari ujung jari saya yang kurus. Di sisi sebelah yang lain ibu sedang memandangi saya dengan wajah sedih. Di kaki tempat tidur seorang anak perempuan botak kira-kira berumur 8 tahun tersenyum kepada saya. Saya mengenali ruangan putih ini dari aroma rumah sakit yang khas, ternyata benar saya diopname. Anak perempuan botak itu mungkin pasien juga, karena ia mengenakan piyama rumah sakit yang sama seperti saya. Tapi beberapa hari ke depan banyak kejanggalan yang saya temui. Selain saya tidak bisa berkomunikasi dengan orang-orang yang menemani dan mengunjungi, saya juga tidak sanggup memerintah otak saya untuk sekedar tersenyum apalagi tertawa ketika beberapa orang sepupu melontarkan candaan dalam bisik-bisiknya di samping saya. Saya tidak bisa menggerakan tubuh saya untuk meraih coklat kesukaan yang ditunjukan seorang tante di depan wajah saya. Saya bahkan tidak bisa bertanya “kenapa” ketika beberapa orang teman kerja ibu menangis sesungukan kala melihat kondisi saya. Apa yang terjadi dengan saya sebenarnya? Dan anak perempuan botak itu setiap pagi masih mengunjungi saya dengan senyumnya. Hingga beberapa malam berikutnya saya mendengar ibu “melantunkan” ayat-ayat kursi ditelinga saya. Membisikan doa-doa sambil menangis dan memandangi saya dengan sedihnya. Saya ingin bisa berkata kepada beliau bahwa saya akan baik-baik saja, saya kan hanya sakit typus komplikasi! Mengapa beliau bersikap seolah saya sekarat? Sampai 1 malam ibu bilang “May, kalo udah cape Mama udah rela kok… lepasin aja.” setelah beliau membaca ayat kursi. Saya ingin bangun dan memberitahu ibu bahwa saya baik-baik saja, saya hanya sakit typus komplikasi, dan saya tidak lelah, saya tidak sekarat! Tapi entah mengapa menggerakan jari tangan saja saya tak mampu. “Yuk, kita keluar!” ujar si anak perempuan botak sambil menarik saya keluar dari tempat tidur. Ibu saya sedang tidak ada di kamar. Saya sendirian. Sambil mendorong tiang infus saya pun keluar kamar bersama anak botak yang namanya saya lupa. “Sakit apa kamu?” tanya saya sambil menyusuri lorong rumah sakit “Leukimia…” ia menjawab singkat. tangannya masih menggenggam tangan saya. “kita mau kemana? Aku ga bisa jauh-jauh… nanti Mama-ku nyariin” kata saya celingukan. Saya dan si anak kecil botak berhenti di depan sebuah ruangan berkaca. Beberapa bayi tidur di sana. Bayi-bayi sakit yang lucu. Kami tidak berkomunikasi hanya diam memandangi bayi-bayi itu. Lalu tiba-tiba gelap. Ketika saya membuka mata rasa dingin langsung menyerang. Ada beberapa suster dan dokter di sekitar saya semuanya berwajah panik. Ibu saya berdoa sambil menangis. Saya bingung. Saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Saya ingin berteriak kepada mereka semua, saya ingin tau apa yang terjadi dengan saya. Hingga tengah malam saya terbangun dan mendengar ibu berdoa kepada Tuhan, dan meminta-Nya untuk mengambil saya apabila hal itu memang yang terbaik. Dan sekali lagi saya tidak bisa menunjukan kepada beliau bahwa saya sesungguhnya masih sanggup menjalani hidup. Saya hanya sakit typus! Hingga satu malam ibu meminta saya untuk menelan 1 sendok teh air zam-zam sambil berdoa. Sesaat setelah air tersebut masuk di antara selang yang menyumbat mulut saya, ada rasa dingin yang mengalir di tenggorokan. Semalaman ibu berdoa hingga saya tertidur. Pagi-pagi seperti biasa seorang suster datang mengukur suhu tubuh saya lalu mengambil sample darah. Tapi kali ini si anak kecil botak tidak muncul di kaki tempat tidur saya. Saya dengar suster tersebut bilang bahwa suhu tubuh saya 37 derajat celcius. Suhu tubuh normal manusia. Saya memandangi ibu yang sedang memandang saya sambil tersenyum lallu bertanya: “si botak mana?” untuk pertama kalinya saya bisa kembali berkomunikasi dengan Ibu yang kemudian bingung karena tidak mengerti pertanyaan saya. Ternyata beliau tidak pernah melihat seorang anak perempuan botak yang setiap pagi mengunjungi saya. “Kamu kan koma… emang bisa lihat? Secara udah satu setengah bulan ga bangun-bangun!” ujar kakak saya mengomentari pertanyaan saya hari itu. Jakarta, tentang koma 15 tahun lalu **Maya is now listening to The Next Life - Suede and breathing the toxicated air of Jakarta...
| |