the's posts with tag: my melody
 "jika kehilanganmu bisa membuat aku lebih tenang, mungkin itu jalan yang terbaik..." Melody berbisik ditelinga Langit. Langit membuka matanya yang terpejam. Hari sudah mulai terang. Ia menatap mata Melody yang sedang menatapnya. Mereka bertatap-tatapan. Lama. Menghentikan waktu sejenak. Sunyi. Tanpa suara. Kosong. Tanpa rasa. "terbaik untuk siapa?" Langit bertanya. Datar. Sinis. Dingin. Melody tergetar walau enggan untuk gentar. Ia memandang Langit dengan mata lelahnya. Ia merekam Langit dengan mata sedihnya. Lelah. Sedih. Bahagianya memudar bersamaan dengan kalimat yang ia lontarkan dalam bisikan. "terbaik untuk ... kita." Sudah. Kembali meng-kita-kan yang bukan tentang kita lagi. Melody mengutuk dirinya sendiri. Langit tersenyum datar. Ia mencari kebenaran di mata Melody yang semakin sedih. Gelap. Hampa. Lelah. Langit bangun dari tidurnya dan menjauhi Melody. Tubuh telanjangnya tersiram sinar matahari. Indah. Laki-laki itu mengenakan pakaiannya membelakangi Melody. "tidak pernah ada kita, Melody..." Titik. Sudah sangat dimengerti. Sudah dipahami betul. Sudah sangat sadar. Sudah tau sekali. Melody ingin memaki. Tak perlu kalimat itu ia dengar sekali lagi. Walau ingin sekali kalimat itu tak pernah terdengar. Terutama dari bibir Langit yang seringkali berpagutan dengan bibirnya di malam-malam sepi. Melody hanya ingin henti. Tanpa harus memaki. Tanpa menjadi benci. "mau berhenti?" Hanya itu yang terucap oleh Melody. Menahan maki yang siap muntah dari mulutnya. Langit mendekati raga mungil Melody. Menatap mata perempuan itu sekali lagi. Tak ada sinar lagi di sana. Gelap kembali menguasai. Hitam kembali mewarnai. Langit menghela napas. Mengecup pipi Melody. Beranjak pergi. "itu pertanyaan atau pernyataan?" Satu pertanyaan dari Langit mendobrak hati Melody. Hancur. Kembali terkeping. Kembali tersepih. Terserak dalam gelap. Melody terluka. "itu permintaan..." Melody tidak menangis. Terlalu getir. Terlalu sinis. Terlalu lelah. Terlalu hancur. "dikabulkan..." Langit menjawab tegas. Laki-laki itu pergi. Melody diam. Mengumpulkan kepingan dan serpihan hatinya yang tersisa dan menyimpannya kembali di dalam peti es yang terkunci rapat lalu menyembunyikannya di pojok gelap rahasianya. Jakarta, Melody berhenti
 Melody memungut bunga kamboja yang tergeletak sendirian di aspal hitam dalam temaram lampu teras. Ia menengadah menangkap pohon kamboja yang menjulang di atasnya menutupi langit malam yang kelam. Segerombolan bunga putih menyambut mata sedihnya. Dari begitu banyak bunga yang menggantung nyaman di dahan-dahan itu, kenapa hanya 1 yang terjatuh di malam yang agak berangin ini. Melody membathin. Melody termenung. Melody melamun sambil membawa bunga yang terlantar kesepian itu bersamanya. Melody berhenti di satu trotoar jalan. Jauh dari pantai yang selalu menjadi tempat persembunyiannya. Ia kini berada di antara gedung pencakar langit. Langit. Selalu ada langit di manapun kaki letihnya berpijak. Mungkin itu yang membuat ia akhirnya berani sedikit “keluar jalur” dan meninggalkan pojok gelapnya yang nyaman. Di trotoar yang tak rata itu Melody berdiri. Menggenggam bunga kamboja dan memandangi lalu lintas yang sepi. Kemudian dalam kebisuan menatap langit gelap dengan sedikit kemilau bintang. Begitu romantis. Begitu sendu. Begitulah langit yang ia tau. Melody menyusuri kota yang tiba-tiba tidur membawa hampanya. Malam ini terlalu sunyi untuk sebuah kota yang dijuluki metropolitan. Malam ini terlalu dingin satu bagian kota yang disebut-sebut sebagai pusat keriaan. Malam ini terlalu bersahabat bagi Melody yang membenci keramaian. Melody masih terdiam di trotoar yang sama. Tak ada yang lewat kecuali kenangan. Tak ada yang terlihat kecuali kosong. Tak ada yang terasa kecuali rindu. Walau rindu akan apa ia tak pernah tau. Mungkin rindu satu rasa kehilangan atas sesuatu yang sudah lama hilang. Melody berpaling menjauhkan wajahnya dari jalanan kota yang menerpanya dengan cerita lama. Dan ia mulai ingat mengapa ia memilih untuk menciptakan sebuah kenyamanan di antara pasir dan matahari terbenam. Ia kini mengerti mengapa ia meninggalkan sebuah realita dan bersembunyi di antara mimpi-mimpi buruk orang-orang. Kota selalu penasaran dengan jiwanya. Kota selalu mencari tau tentang isi hatinya. Kota selalu mengejarnya dengan penuh cinta. Tiba-tiba Melody merasa tergeletak sendirian seperti bunga kamboja yang ia temukan di depan teras rumah. Jakarta, bunga kamboja Melody
 Melody: "...don't worry, my love. you're unbreakable, coz you have nothing left to break..."
**inspired by Mandy
 melody membuka matanya. silau menyergap. langit biru menyapa dengan luasnya. ombak kecil menjilati kaki kecilnya. butiran pasir menyetubuhi kulitnya. melody terdampar. kembali di pantai kesukaannya. dalam keterbaringannya ia mencoba mengingat semua yang terjadi. mengingat ingatan. mengingat kenangan. mengingat pelariannya. mengingat "kematiannya". mengingat pelangi. mengingat senja. mengingat langit. langit yang bukan sekedar cakrawala biru di atas sana. langit yang tak pernah bisa diraihnya. melody mencoba berdiri di pasir yang basah. angin laut menerpa tubuh mungilnya. ia tak sekuat dulu. belum sekuat yang lalu. banyak yang berkecamuk di kepalanya. tentang mengapa ia masih di sini. tentang lelah yang ingin ia tinggalkan di belakang. tentang kenangan yang harusnya pudar bersamaan dengan rasa. tentang hidup yang harus terus ia jalani. tentang pelariannya yang nyata belum bisa terhenti. tentang senja yang masih sama. tentang hatinya yang belum tercairkan. tentang asa yang terus saja ada. tentang harapan yang ingin ia hilangkan. tentang mati yang tak tercapai. tentang cinta yang tak pernah ia mengerti. tentang langit yang tak pernah ingin teraih. melody merenung menunggu senja menila. desir dingin mulai menghampiri setiap jengkal kulitnya. ia tak peduli. ia ingin tetap di sini. menunggu malam. merindui gelap. menanti sepi. melody masih tidak bisa mengerti kenapa ia masih di sini. ketika keinginannya sudah hilang. ketika ajal pernah memeluknya mesra. ketika ia sudah terlatih untuk menjadi begitu kosong dan pesimis kepada hidup. melody tersenyum sinis pada pemikirannya sendiri. enggan mencari jawaban pasti hingga kelak nanti semuanya akan indah pada waktunya. dan melody pun kini tertawa semakin sinis. Jakarta, melody tak mati
 Melody memang (masih) ada. Begitu setidaknya yang saya tangkap dari penjelasan seorang teman baru yang saya temui di Citos semalam. Entah mengapa tiba-tiba laki-laki gondrong itu berkata bahwa ada seorang perempuan berdiri di sebelah saya dan terus-terusan menatapnya tajam sejak awal kedatangan saya. "itu perempuan ngeliatin gue melulu dari tadi..." ungkap teman baru tersebut sambil sesekali terlihat bergidik dan tak berani melihat ke sisi kiri saya. Saya hanya tersenyum dan mencoba membayangkan wajah perempuan yang saya sebut sebagai Melody tersebut. Tak pernah bisa terbayangkan kecuali wajah datar yang dingin dengan mata gelap yang memandang tajam. "kayak apa dia? bisa kasih tau gue?" tanya saya mencoba menyamakan pandangan sang teman baru dengan 7 orang sebelumnya yang pernah melihat Melody. "pokoknya perempuan. ngga ada senyumnya. cenderung cemberut. matanya nakutin. rambutnya panjang dan bajunya agak lusuh... rautnya sebetulnya mirip loe." jawabnya sambil memperhatikan saya. "kata orang-orang cantik. tapi memang ga pernah senyum. dia cuma ngelihatin orang yang bisa lihat dia... ga tau kenapa. bener kan dia ada di kiri gue..." kata saya menjelaskan sebagaimana mereka yang pernah melihat perempuan ini sebelumnya. "iya dia di sisi kiri loe. kayaknya udah ikut loe sejak loe masih kecil ya? kalo marah badannya jadi tinggi, rambutnya kayak medusa dan kuku-kukunya keluar... nakutin banget! walau sebetulnya dia ga jahat dan ga ganggu, dia cuma lindungin loe kok. loe pernah bicara sama dia?" tanya teman saya lagi. "ngga. gue ngga tau caranya gimana... gue juga baru 4 tahun terakhir tau dia ada." aku saya apa adanya. "dia masih ngeliatin gue. serem... kapan-kapan kita bahas ini lagi deh, gue harus balik." ujar teman baru tersebut kembali terlihat bergidik tak berani memalingkan wajah ke arah saya. dan dia pun berpamitan lalu bergegas pulang bersama teman-temannya yang lain. tinggal saya dan seorang teman perempuan yang tengah menatap saya penuh tanda tanya. "loe inget kan cewe yang gue ceritain jaman kita di kost dulu?" tanya saya kepada si teman perempuan itu. "iya lah... si muka Sadako... kenapa?" teman saya balik bertanya dengan wajah sedikit memucat. "ternyata dia memang dan masih ada di sisi kiri gue... sekarang ini ada!" jawab saya sambil menyeringai. "cakkkeeeeeeeeppppp.... pulang ah!" kata teman perempuan itu sambil berlalu cepat-cepat saya hanya tertawa kecil mengikutinya dari belakang. sekarang saya pasti pulang! Jakarta, tentang orang ke 8
 "kamu tau Melody, kamu terlalu berwarna untuk menjadi abu-abu." Langit menatap wajah Melody yang beku. matanya terkatup dalam tidur panjang. bibirnya membiru dalam dingin tak terbatas. Melody benar-benar sudah beku. "kamu ingat Melody, kamu selalu bilang kalau kamu adalah gelap. bagiku kamu tidak pernah demikian... gelapmu hanya di luar, di dalam sana kamu adalah sumber cahaya bagi mereka." tubuh Melody kaku. jari-jarinya kurusnya terkatup di dada. Langit menggenggam jemari dingin itu sambil tersenyum dan menciumnya. "kamu harus tau Melody, kamu adalah matahari. kamu adalah pelangi. kamu adalah bintang. kamu adalah bulan. seharusnya kamu selalu tau itu, karena aku adalah Langit-mu..." Langit memeluk Melody erat-erat untuk terakhir kalinya. Laki-laki itu ingin menangis, tapi tak bisa. Airmatanya juga tak akan pernah bisa lagi meluluhkan Melody. Melody benar-benar sudah beku. Tiba-tiba langit menggelap. Lalu hujan turun terlalu deras. Terlalu deras hingga rasanya sakit... Saatnya Melody untuk pergi melarung... jakarta, Melody yang beku **Maya is watching the rain pouring down out side the window, on the parking lot, making noises and breaking trees... feels the sky glooming day by day, and the world seems falling down so easily...
 Setengah berlari Melody menarik Langit masuk ke dalam sebuah ruang gelap tak berujung. Sejauh mata memandang hanya hitam yang tertangkap. Seperti sebuah lorong tua tak berpenghuni namun jauh dari rasa asing. "Kita mau kemana, Melody?" tanya Langit sambil berusaha menangkap sesuatu selain hitam di matanya. "Ke tempatku. Kamu bilang kamu ingin tau tentang semua gelapku." jawab Melody lirih Langit menghentikan langkah Melody. Ia meraba wajah Melody. Dingin. Bahkan dalam ketidak-terlihatan pun Langit masih sanggup merasakan bekunya ekspresi Melody. Dalam terbutakan oleh gelap pun Langit masih dapat melihat kegalauan di mata gadis itu. "Kenapa kamu selalu kembali lagi ke sini?" tanya Langit lagi Melody sepi. Melody sunyi. Aksaranya terbungkam. Ia bergerak menjauhi Langit. Pelan-pelan. Lalu mulai cepat. Melody berlari menjauhi Langit. "Aku ingin ditemukan lagi ..." kata Melody dengan suara makin menjauh. "Jangan lari lagi, Melody!" teriak Langit seraya mulai mengejar ke arah suara Melody yang menghilang dalam hampa ruang. Suara Melody hilang ditelan sunyi. Langkah Langit melambat, ia mulai lelah dengan permainan Melody yang kelam. Ia merasa tersesat, namun di sisi lain ia juga tak ingin keluar dari sana. Satu-satunya yang pasti adalah ia harus menemukan tempat persembunyian Melody. Sekali lagi. Lalu apa? Menyelesaikan satu permainan yang ia buat bersama Melody. Menemukan kembali Melody. Meraih kemenangan sepihak. Pihaknya. Langit berjalan cepat menerobos hitam. Tak jauh darinya Melody diam-diam memperhatikan. Hatinya sudah hancur. Lebih hancur dari sebelum ia membuat permainan itu bersama Langit. Melody berbalik arah. Berlari ke arah yang lain. Ada banyak sudut di sana. Dan ia akan memilih sudut yang lain kali ini. Melody tidak akan membiarkan Langit menemukannya lagi. Jakarta, persembunyian Melody
 saya selalu tiba pada fase ini. tak tentu waktu berlalu dan membentang malam. sama seperti malam-malam yang dulu. pada kesendirian yang kelam berharap waktu bergerak lebih cepat menuju fajar. dan saya tidak harus bertemu dengan dia. dalam segala kehampaan yang sama, dikelilingi gelap yang serupa tanpa ada perubahan. berakhir dengan kehancuran yang sama, walau tak pernah ingin demikian. saya tidak pernah ingin merasakan ini. tidak ingin terhenti pada sesuatu yg tidak pernah akan berakhir. tidak ada perubahan karena kejadiannya selalu sama. perempuan itu datang pada malam saya memejamkan mata utk sekedar melepas lelah. hadir dalam gelap yang di sorot sinar dari layar televisi yang tidak menayangkan siaran apapun. hanya secercah sinar putih pudar dari layar digital yang kosong. sekosong jiwa saya malam ini. pada kemunculannya yang seperti biasa, jujur saya berkata bahwa saya sudah MUAK dan LELAH! jika dia ingin tampil dan merebut posisi saya, saya akan memberikan cuma-cuma. asal dia tidak selalu hadir tiba-tiba dan menyusup diam-diam seperti sekarang. bicara soal ketegaran, mengolok kehampaan hidup saya, mencela harapan yang saya bangun. lalu mentertawakan penantian sejati yang saya lakukan. dan dia bertanya tentang cinta dan penyesalan. sayapun menutup mulut rapa-rapat. memejamkan mata saya dan bersatu dengan gulita. suaranya menyusup ke dalam telinga dan menggema di sana: "do you still missing him?" saya tutup telinga saya dengan bantal. dia tertawa, nadanya mengejek kerapuhan yang kuasai raga saya, mengolok kekosongan hidup yang saya jalani. pertahanan yang saya bangun runtuh dan meninggalkan airmata juga perasaan bersalah yang mengganggu. seperti biasa. apa maunya? dia duduk di samping saya. memandang tubuh saya yang terbaring dengan wajah tertutup bantal. sambil tertawa dia memeluk dengan hangat, mencoba menghibur hati saya yang lara. memberi saya kekuatan utk sekedar mengakui perasaan bersalah ini, juga kerinduan yang masih mengikuti. membantu saya menopang kenangan-kenangan yang sekejap berbaris membayangi dalam tiap mimpi, melelahkan! perempuan itu menggenggam tangan saya, dingin yang sejuk meresap. jiwanya bergejolak dengan hati yang dingin. mungkin karena beku? bukankah hatinya adalah hati saya juga? jakarta, dia masih sama beku
 Melody berlari. Kaki kecilnya menapak cepat pada pasir yang basah di pantai itu. Riak-riak ombak menjilati kaki yang letih. Ia ingin berhenti sejenak dan bermain bersama ombak. Tapi Melody tak bisa. Ia hanya harus terus berlari. Langiti berlari. Langkahnya yang lebar membelah sepanjang garis pantai. Ia mengejar Melody. Meneriakan namanya. Mengikuti jejak kaki mungilnya. Dan mengenali harumnya yang terbawa angin laut sore itu. Ia ingin berhenti sejenak untuk menikmati matahari terbenam. Bersama Melody. Seperti yang lalu. Sebelum Melody kembali berlari. “kenapa kamu lari, Melody?” tanya Langit dalam hati, terus mengejar jejak Melody Melody mempercepat langkahnya. Ia menyeka airmata yang mulai mengaburkan pandangannya. Pantai mulai gelap dengan angin yang semakin kencang. Ia hanya mempunyai satu tujuan. Kembali ke tempat persembunyiannya. Sebuah tempat yang jauh dari keramaian, dimana awal ia ditemukan. Di mana ia selalu mengagumi langit sore. “aku ingin sendiri…” bisik Melody dalam hatinya yang kembali teriris. Langit menghentikan langkahnya. Mata elangnya menyusuri pantai yang semakin gelap. “aku akan menemukanmu Melody…”ujar Langit dalam hati Melody berhenti di satu sisi pantai. Ia mengamati jejak langkahnya sendiri. “aku tidak ingin ditemukan… lagi!” jerit Melody tanpa suara. Langit mengikuti jejak kaki Melody yang mulai tersapu air laut. “aku ingin menemukanmu lagi…” kata Langit membantah suara hati Melody Melody kembali berlari. Ia tak peduli lelahnya. Ia hanya peduli pada sakit hatinya. Ia hanya ingin pulih di tempat ia terbiasa. Gelap itu. Dingin itu. Bekukan hatinya yang kembali berdarah. Sembuhkan luka yang kembali tertoreh di sana. “aku hanya ingin sendiri. Bersama orang lain hanya akan menyakitiku…” bisik Melody menepis kata hati Langit Langit menghentikan langkahnya. Jejak kaki Melody sudah hilang terjilat ombak. “aku Langit… aku bukan orang lain.” ujar Langit menentang suara hati Melody Melody tiba di tempat ia biasa mengagumi langit sore. Ia menangis. Ia marah. Ia tertawa. Ia terdiam. “karena kamu Langit… aku tidak bisa milikimu.” bisik Melody. Sunyi. Langit duduk di pantai yang kini sudah gulita. Ia marah. Ia tertawa. Ia menangis. Ia terdiam. “kamu tau itu, Melody… kamu selalu tau itu…” bisik Langit. Sepi. Melody merebahkan kepalanya menantang gulita. Tak ada lagi langit sore yang bisa ia lihat mulai saat ini. Ia kembali ke sudut dingin yang kelam dengan segala asing yang membuatnya nyaman. “karena aku tau, Langit… aku selalu tau itu… “ lirih Melody mengalun. Lalu senyap. Jakarta, Melody kembali ke gelap
 jari Melody menari-nari di atas keyboard laptopnya. berbincang dengan Mentari, seorang teman lama yang sudah lama tak ia jumpai dalam kelam hari-harinya. selama ini mereka hanya berhubungan lewat dunia maya. mentari: aku kesepian di atas sini. kamu beruntung punya seseorang yg selalu menemani kamu... melody: not really... ada tapi tidak bisa jadi punyaku, istilahnya kayak di kasih pinjam ipod sama kamu, buat menemani aktifitas sehari-hari, menemani tidur, menemani kemanapun aku mau pergi... tapi tetap saja ipod itu bukan punya aku... itu ipod kamu. mentari: kamu boleh pinjem ipod itu kapan pun kamu mau kok... melody: tapi suatu hari aku harus rela balikin ipod itu ke kamu dengan keadaan utuh kan mentari: i know it's kinda sad... but that's the consequences melody: yup. seperti halnya dipinjamkan ipod... cuma di pakai, tidak ditambahkan lagu, dan tidak boleh mengurangi juga. PURE hanya untuk di pakai saja! aku tau seharusnya begitu... tapi aku menambah lagu-lagu favorite-ku di dalam ipod itu, jadi aku semakin ingin memilikinya sendiri. mentari: you can't have it, you have to buy it yourself melody: aku memang butuh ipod untuk menghibur di hari-hari sepi... mentari: bukan untuk mengiringi setiap hal yang terjadi dalam hidupmu dengan musik yang tersimpan di dalamnya? kamu yakin? melody: i'm not sure... munkin aku memang butuh ipod ku sendiri. bukan ipod kamu. bukan ipod orang lain. Melody mematikan ipod dalam genggaman tangannya. melepas earphone. kemudian menyimpannya di dalam kotak dan membungkusnya dengan kertas hitam. setelah memandangi bungkusan hitam itu beberapa saat, Melody menelphon petugas FedEx untuk mengambil dan mengirimkannya sesuai dengan yang sudah ia tulis di atas secarik kertas yang tertempel di atas kotak itu: to: Langit
jakarta, Mentari
 Melody merebahkan kepalanya di samping kepala Langit, seorang laki-laki yang entah bagaimana masuk ke dalam hidupnya tiba-tiba. “Kita dipertemukan oleh kosong…” bisik Langit di telinga Melody malam itu. Melody menyentuh wajah Langit yang lelah. Hidung mereka bertemu. Langit tersenyum. Melody mematung. Ia kelu. Ia tidak ingin berada di situ. Ia terlalu takut dengan nyaman itu. Takut suatu hari semua tak lagi begitu. Ketakutan yang beralasan ketika kehilangan selalu menjadi bagian hidupnya. Langit memeluk Melody erat-erat dalam tidurnya. Melody diam. Menikmati hangat yang sudah lama hampir ia lupa. Memandangi Langit dalam tidur damainya. Mengingatkan Melody tentang satu masa, dimana ia tak ingin kembali ke sana. “Kenapa kamu tidak tidur?” tanya Langit membuka matanya. Melody hanya tersenyum dan mempererat pelukannya. Langit membelai rambut Melody yang gelap. Memandangi mata Melody yang gulita. Dan mengecup bibir bekunya. Bias. Semu. Kosong. “Karena kita memang dipertemukan oleh kosong…” kata Langit memecah sunyi. Untuk apa? Untuk saling mengisi? Atau sekedar berbagi hampa? Melody melepaskan pandangannya dari Langit. Laki-laki itu terlalu jauh untuk diraih, walau tersentuh dalam jarak. “Untuk membunuh sepi…” gumam Langit sambil mengecup pipi Melody. Wajah Melody menghangat. Memang seharusnya ini membuatnya tersipu. Tapi mengapa rasanya sakit? Melody meringis menahan sakit di dadanya. Ia juga punya sepi yang ingin ia bunuh. Ia juga punya beku yang ingin dicairkan. Tapi bukan yang seperti ini yang ia cari. Melody memejamkan matanya rapat-rapat. Berharap ketika ia terbangun besok Langit sudah kembali ke tempatnya berada. Sebuah tempat yang tak terpikirkan oleh Melody untuk mengejarnya ke sana. Jakarta, Langit

"apakah berteriak sanggup melegakan dada yang terhimpit beban waktu yang membatu?" ada kesedihan di mata Melody kala ia bertanya. jawabnya mudah bagi orang-orang. jawaban sederhana berupa anggukan atau sekedar mengangkat bahu tanda tak (pernah) tau. Melody masih memandang laki-laki di sampingnya. menanti satu jawaban pasti. satu jawaban yang mungkin sanggup menghiburnya. "pernahkah kamu merasakan dada yang terhimpit beban waktu yang membatu?" Melody kembali bertanya seiring dengan semakin kosong tatap matanya. semakin abu-abu dunianya. semakin lumpuh langkahnya. ia terduduk dalam diam. masih menanti jawaban. menunggu satu saja jalan keluar yang terus buntu. membenci harapan yang semakin memudar. laki-laki di sampingnya masih tak memberi jawaban. tak lagi bisa diandalkan. Melody membuang pandangannya jauh-jauh ke arah lain. "adakah cara yang lebih rasional untuk melegakan dada yang terhimpit beban waktu yang membatu?" udara sore yang sejuk menjinakkan kekesalan Melody. laki-laki itu masih saja diam. dalam bimbang Melody semakin tenggelam. ingin enyah. ingin berserapah. tapi tak ada kata yang mendesak keluar dari mulut kecilnya. hanya udara yang dihirup dalam-dalam dan dikeluarkan perlahan-lahan. aneh. tiba-tiba Melody merasa lega. ia pun beranjak pergi. meninggalkan laki-laki disampingnya dengan ringan. laki-laki itu masih terdiam. tak berbuat apa-apa. jakarta, himpitan beban waktu

"ini sendiriku..." Melody kembali melamun kepada senja merah yang menelan mataharinya hidup-hidup. taatapannya nanar seperti menyesali semua yang baru terjadi. namun mencoba menyelamatkan mataharinya pun ia tak mampu. karena ketika sudah terbenam, adalah alam yang berkemauan. "aku ingin matahariku..." ujar Melody mencoba menangkap sisa sinar jingga disemburat cakrawala ungu. matanya berkaca-kaca. ada air yang menggenang di sudut pelupuk. jingga terseret lembayung menjadi gelap. ada air yang mengalir membuat jejak basah di pipi. "ini gelapku. abadi." Melody bersandar pada langit malam tak berbatas. jari-jarinya menggenggam sejumput bintang yang berkelip malu-malu di balik mendung. tak ada bulan. tak ada sinar. hanya hitam. pekat yang kini memeluk erat. Melody bersenandung. lagu cinta tentang terang yang hilang. tentang kekasih yang tak kunjung pulang. mataharinya memang sudah terbenam. abadi. Jakarta, matahari Melody sudah terbenam
JARI BAND dan RON_JI seharusnya bisa menjadi besar... i was their Road Manager back then :) | BELAHAN JIWA | | | | | | | FOREVER WITH YOU | | | | | |

Dia datang. Samar. Dalam lelah yang semakin melemah. Tatapnya nanar.
Jemarinya menjamah. Aku. Hindar aku berlari. Tak juga menjauh. Tak juga
tertinggal. Langkah mendekat. Raganya masih samar. Jengah. Gerakku melambat.
Tak sanggup berlalu. Tangisku meregang. Hampaku kembali. Dia datang dengan
senyuman. Masih sama seperti dulu. Samar seperti raganya. Indah. Aku tau dia indah. Namun terlalu menakutkan.
Takutku kembali bersamaan dengannya. Jemarinya meraihku. Dingin semerta peluk
ruangku. Kosong. Seperti matanya yang tersenyum. Kosong seperti yang selalu
kutau. Sepi seperti yang selalu kutemui. Dia kembali. Hindar aku berpaling. Tak
juga menghilang. Tak juga menjelas. Semu. Seperti semu yang selalu kumengerti.
Peluk dan dia mendekat. Rindu. Ada yang hilang saat
itu. Mungkin itu rinduku. Rinduku akan rasa takut yang lalu. Kangenku pada raga
samar yang pergi. Yang dulu berlalu saatku mulai tegar. Yang menghilang saatku
mulai menguat. Tanpa takut aku memeluknya. Dia kembali. Di saat yang tepat.
Jkt, my significant
others


"katanya kamu takut pantai"
laki-laki itu menatap Melody yang sedang memandangi laut dan berdiri
di sampingnya. angin laut menerpa rambut Melody dan menerbangkannya,
air laut menjilati telapak kaki mereka berdua. pemandangan yang indah.
walau langit sedikit mendung.
"aku tidak pernah takut pantai"
ujar Melody tanpa melepaskan pandangannya ke lautan. ada segaris
senyum di bibirnya kala matahari mulai terbenam di ujung sana. langit
memerah perlahan.
"lalu mengapa kamu berhenti ke pantai... hingga hari ini?"
tanya laki-laki itu sambil menikmati sinar merah yang menyapa di kejauhan.
"aku takut pada kenangan yang terbentuk... seperti hari ini"
jawab Melody singkat. wajahnya kembali muram. senyumnya hilang
Jakarta, Melody tidak takut

 nama? Melody. umur? 26 tahun. status? maksudnya... status pernikahan? oh, single. sex? straight. sex = gender? oh, maaf... perempuan. tanggal lahir? terlupakan. tempat lahir? tidak peduli. nama orangtua? tidak tahu. hobby? explorasi diri dan mengamati dunia. tujuan kesini? melarikan diri. sepi. angin sepoi-sepoi berhembus menerbangkan tirai tipis yang membatasi kamar dengan pemandangan indah yang terhampar di luar jendela. Melody duduk di atas tempat tidur beralas sprei putih yang bersih sambil menghela napas. berat. ada sedikit perasaan bersalah yang ia pendam. namun desir angin yang menerpa wajahnya memberikan sebersit kenyamanan yang menjanjikan. maka ia berharap semuanya akan baik-baik saja. Melody berbaring dan tertidur. masih sepi. pemandangan dari balik tirai tipis itu menggelap. hari sudah mulai malam. Melody membuka matanya perlahan. berusaha mengenali kamar putih itu, kemudian bernapas lega. masih ada sedikit rasa bersalah di sana. namun ketenangan ruangan itu memberikan rasa nyaman yang ia butuhkan. Melody bangkit dan berjalan menutup jendela kamar. matahari baru saja menghilang dan bulan mulai mengintip dari balik awan gelap. indah. iapun berharap keindahan itu tidak pernah pergi dari hidupnya. datang bersama siapa? sendiri. atas permintaan siapa? sendiri. sekolah atau kerja? bermimpi. tujuan hidup? mengakhiri. sudah mengerti perjanjiannya? sudah. berapa usianya? 2 bulan 3 hari. kemana ayahnya? ada. tidak bertanggung jawab? sangat bertanggung jawab. mengapa tidak menikah saja? saya tidak ingin membangun keluarga. mengapa? bumi sudah terlalu penuh dengan manusia. bagaimana dengan ayahnya? mencintai saya. dia setuju? dia tidak tau. tau resikonya? sangat tau. "seharusnya jangan berlari ke sini, Melody" ujar seorang perempuan tua dengan tatapan lembut pada Melody. "berlarilah ke arah yang lain, Melody..." lanjutnya kemana. Melody tidak tau. Melody tidak mempunyai tujuan lain. "berlarilah pada dia yang mencintaimu, Melody!" kata perempuan itu lagi Melody tau kemana seharusnya dia berlari. namun Melody tidak ingin berlari ke sana. Melody berlari ke arah yang ia mau. selain dari arah itu, ia tidak punya arah yang dituju. Jakarta, Melody salah arah 
 "people are strange..." Melody meredam kesinisannya dalam seringai aneh yang kaku. tidak mudah untuknya berjalan menjadi satu individu anti-sosial tanpa keinginan. tanpa ambisi. dan semua orang menatapnya dengan aneh. seperti menemukan sebuah kesalahan fatal dalam kesempurnaan semu. Melody hanya tersenyum tipis dan menepis pandangan orang-orang. tanpa kepedulian. tanpa keberatan. ia merasa tidak butuh untuk diperhatikan. "what's wrong about being stranger?" Melody meredam tanda tanya dalam kepalanya dengan senyum simpul yang rancu. tidak mudah untuknya untuk mengerti tentang kehidupan yang selalu tentang basa-basi. tentang menjadi orang lain. tentang memakai topeng kesempurnaan semu. kemudian semua orang menatapnya dengan aneh. seperti menemukan sebuah kelainan berbahaya yang teridap tanpa sengaja. Melody hanya tertawa sinis dan menatap miris orang-orang munafik itu. tanpa basa-basi. tanpa kesungkanan. ia merasa tidak butuh menjadi familiar. "people are strangers to each other..." Melody termenung dalam kamarnya yang tidak terlalu luas. berpikir tentang semua yang datang dan pergi dalam hidupnya. mengingat mereka yang ia kenal sekali, kenal sedikit dan tidak kenal sama sekali. ternyata mereka semua punya 1 persamaan... orang-orang itu TIDAK PERNAH benar-benar mengenal Melody. menghela napas berat, Melody membaringkan tubuh lelahnya sambil tertawa lepas. tidak lagi sinis. tidak lagi miris. hanya rasa lega yang menyenangkan. kali ini ia merasa butuh bertemu orang baru lagi. seperti rutinitas yang selalu ia kerjakan dalam dunianya... dunia maya. Jakarta, Melody yang asing 
 “Everything will be alright…” Laki-laki itu berujar dengan tulus seraya mengelus rambut Melody yang tebal. Melody tersenyum hampa. Segalanya kini nampak seperti sebuah kebohongan besar. Tidak tau lagi apa yang nyata, apa yang maya. Kalimat itu tidak memberikan solusi apa-apa. Kalimat itu kosong. Hanya barisan kata tanpa makna yang terkesan basa-basi. “Everybody can say that. But is everything really gonna be alright? You’ll never know!” Melody beranjak dari pojokan gelap yang lama melindunginya dari dunia luar. Bergerak keluar menuju peradaban yang belum tentu lebih beradab dari sebuah pojok dingin yang sepi. Tanpa teman… pun tanpa tanda kehidupan. Laki-laki yang sama menyambutnya di depan gerbang peradaban tersenyum lega. Melody menatap keluar dengan dingin. Ada sedikit ketakutan yang menyergap. Ada banyak keraguan yang menerpa. “You’ll be alright…” Laki-laki itu berkata seraya menggandeng tangan kurus Melody yang dingin. Melody tersenyum hampa. Segalanya nampak semakin absurd. Kebohongan tentang “rasa baik-baik saja” yang tiba-tiba menamparnya. Kekosongan harapan akan “rasa baik-baik saja” kemudian bagai momok yang mengejarnya. Harapan. Apa itu harapan? Melody sudah lupa bagaimana caranya berharap. Dan sudah tidak mau tau apa gunanya berharap. “How can you be sure that I’ll be alright? You have no idea!” Melody mundur selangkah dari gerbang peradaban yang penuh kepalsuan. Hangat yang menyapa seakan siap menerkamnya dengan topeng kenyamanan. Laki-laki itu memeluk Melody dengan erat. Begitu besar rasa cintanya. Begitu indah hal yang ingin dibaginya. Melody terpaku dalam pelukan. Dingin. Pojokan gelap yang lama memberikan rasa aman dari dunia luar seakan memanggilnya penuh kesedihan. Melody membeku. Tidak akan pernah ada lagi “rasa baik-baik saja” dalam dirinya. Tidak akan terbentuk lagi “rasa baik-baik saja” dalam kehidupannya. “I’ll be alright if I stay…” Melody melepaskan pelukan laki-laki itu kemudian beranjak menghampiri pojok gelap yang lama memberinya rasa nyaman. Sebuah rasa yang disinyalir tidak akan ia dapatkan di peradaban yang belum tentu lebih beradab dari sebuah pojok gelap yang dingin dan sepi tanpa teman. Laki-laki itu tampak putus asa. Sia-sia usahanya selama ini. Letih menyergapnya dengan sempurna. Sejauh itu perjalanannya menemukan Melody dalam sebuah kegelapan tanpa ujung. Dan kesabarannya hanya mampu membawa Melody ke mulut peradaban tanpa berhasil melewatinya. Putus asa. Kecewa. Redam semua amarah lewat senyuman. Melody membeku disebuah pojok gelap yang selalu melindunginya dari dunia luar. Seperti saat ia belum ditemukan. Jakarta, Melody tidak baik-baik saja

 strange as angel is just a personality no body knows if she does exist
she's alive although invisible she's an angel with tears as power
strange as angel not quit friendly her appearances may not look happy
but surely she's open minded a little bit ignorance and deviously funny
jkt, S-A 2005 "You Soft and only You Lost and lonely... You, Strange as angels Dancing in the deepest oceans Twisting in the water You're just like a dream..." the cure 
| |