the's posts with tag: my vanillasmile
one of my fave... thinking how it works so well...
Michell Gondry is insanely genious! :) Import.flv (9.4 MB)
LOVELY!!!
not the real music video though... but it's lovely :) Import.flv (2.1 MB)
 "jangan lupa tersenyum!" ujar ibu selalu kepada saya setiap kali sesi "pemotretan" pas photo untuk keperluan sekolah di SD dulu. kata ibu saya yang tercinta itu, wajah saya cenderung kaku dan galak karena bibir tipis ini hampir tidak pernah mengembangkan senyuman. mungkin saya memang terlahir sebagai anak yang murung? kalimat yang sama masih terlontar sampai saya kuliah tingkat ketiga. waktu itu ceritanya ibu saya sengaja ingin membuat foto keluarga. maka saya dan adik saya di daulat untuk memakai baju tradisional seperti kebanyakan "baju ideal" yang terpampang di foto-foto keluarga Indonesia ideal, walau kami tau keluarga kami sudah jauh dari ideal. saya memakai kebaya berwarna peach dan adik saya memakai baju batik. saya tidak suka warna peach, tapi ibu saya sudah keburu egois menunjuk warna itu sebagai dress code foto keluarga kami. walhasil saya yang hitam manis ini kehilangan manisnya karena tampak begitu kontras dengan keceriaan dan cerahnya warna kebaya yang saya kenakan. hingga berkali-kali ibu saya menyerukan kalimat yang sama di antara pose-pose andalannya. "jangan lupa senyum, May!" dan hasilnya... benar-benar tak ada senyum di wajah saya dari sekian banyak pengambilan gambar yang kami lakukan hari itu. sampai-sampai ibu saya membenci hasil foto keluarga tersebut. dan setiap kali melintas ruang tamu dan menatap foto itu beliau lantas masih tetap menggerutui wajah saya yang kaku. mungkin beliau diam-diam berharap bisa meng-crop saya yang berdiri di sisi kirinya dengan photoshop :) "senyum yang bener dong, May!" kali ini seruan itu seringkali saya dengar dari teman-teman saya sendiri. mereka bilang saya kerap kali enggan tersenyum kala kilatan kamera menjilati wajah narsis kami. padahal menurut saya, senyum ini sudah di "gas pol" supaya tertangkap kamera. kurang lebar. beberapa dari mereka berkata. kurang tulus. ujar yang lainnya. kurang ceria. protes beberapa yang gila kamera. lantas harus bagaimana? akhirnya saya bertanya. saya dan kamera sebetulnya bukan teman yang akur. selalu mati gaya bila lensa mulai mengintip dan menangkap gerak gerik saya. selalu berakhir kaku ketika kilatan kamera menyetubuhi saya. bagaimana mungkin? kalian pun bertanya karena melihat koleksi foto saya yang berhamburan tak karuan di multiply. mungkin. jawab saya yakin. karena semua foto yang terpampang tak karuan di multiply ini adalah hasil jepretan dan editan saya sendiri. oleh dan tentang saya sendiri. dan saya tidak pernah lupa tersenyum ketika melakukannya. "cheese...!" Jakarta, tentang memotret senyum vanilla
 waktu adalah ciptaan-Nya yang paling hebat. sebuah ciptaan yang paling individual bila tidak bisa dikatakan egois. ia bergerak terus ke depan. tidak pernah terlalu cepat. tidak ingin bergerak melambat. ketika 86.400 detik, 1.440 menit, 24 jam, apapun yang terjadi di dalamnya adalah mutlak. tidak bisa di ubah kecuali dengan proses menuju ke depan, bukan ke belakang seperti keinginan manusia kebanyakan. waktu tidak menunggu. ia bisa terlihat berjalan santai di mata orang yang hidupnya tidak banyak tantangan. dan ia terkesan berlari di lingkungan mereka yang kesibukannya menumpuk. hingga berkali-kali keluhan tentang tidak cukupnya 24 jam sehari menjadi makanan sehari-hari. dan waktu tentu saja hanya menuli. diam seperti ia tercipta. namun waktu mengetahui semuanya. tak ada yang terlewat darinya. menghentikan waktu adalah mimpi manusia. membekukan detik. menghalau menit bergerak lagi. mengendapkan jam sesaat untuk berbagi lebih banyak dengan mereka yang tercinta. seseorang, keluarga, pekerjaan, hobby, pemandangan, kenangan... nyatanya waktu memang egois. tak peduli kebutuhan deadline di setiap pekerjaan. tak peduli airmata yang mengalir atas harapan mengulang kenangan. tak peduli senyum yang terpudar karena penyesalan. tak peduli angan tentang momentum yang bisa terulang. tak peduli kesempatan yang terlewatkan. Tuhan menciptakan waktu untuk dinikmati. pun andai Tuhan menciptakan waktu yang bisa dimundurkan, apakah manusia benar-benar bisa menggunakan sebaik-baiknya? dan apakah dunia akan menjadi tempat yang lebih baik, atau justru hancur karena kerap bergerak ke belakang, bukan ke depan? karena setiap kita pasti lebih sibuk memperbaiki kesalahan daripada belajar dari kesalahan... Jakarta, tentang waktu yang egois
 Sore. Gerimis. Jalan tol. 100km/jam menuju Jakarta dari Bekasi. Titik-titik air memberikan aksen di kaca jendela mobil. Semakin lama titiknya semakin mengecil lalu hilang karena mongering terkena angin. Jakarta di pukul 5.30 sore. Saya memandangi langit bercakrawala jingga. Awan-awan menggumpal menyerupai ice cream dan kapas putih. Saya mengeluarkan kamera digital dari tas dan mencoba mengabadikan pemandangan favorit saya itu. Saya ingat perjalanan menuju Bali di bulan Oktober lalu. 1 penerbangan di jam yang sama seperti sekarang. Suguhan Maha Indah berupa matahari terbenam di antara awan-awan dengan semburat jingga, nila dan ungu. Seperti ice cream vanilla dengan siraman karamel jingga yang creamy dan saus blueberry… Nyam! Pesawat saya melayang tenang melewati awan yang menggumpal memberi kesan bahwa kami sedang melintasi surga. Di luar jendela warna-warni yang terlukis semakin memudar dan menggelap. Tapi “gambar” yang terekam sempurna lewat mata saya itu tidak akan pernah saya lupa sampai kapanpun Saya dan matahari terbenam. Takjub. Entah mengapa setiap kali bertemu dengan “scene” itu saya selalu merasa ingin menangis. Begitu kagum. Begitu sakral. Begitu sempurna suasana yang diciptakan-Nya waktu itu. Tak pernah sama suasana yang terekam ketika matahari terbenam. Tak pernah sama bentuk yang tercipta warna yang bersemburat di antara awan. Tapi selalu sama desir di dada yang terasa ketika menikmati keindahannya. Selalu sama senyum yang beraksara. Ketika cakrawala jingga tertangkap mata dan terekam sempurna. Jakarta, menangkap Cakrawala Jingga
 mungkin aku tak banyak waktu perhatikanmu seperti dia perhatikanmu mungkin aku tak bisa habiskan waktu bersamamu sesering dia bersamamu mungkin aku tidak selalu bisa memelukmu seerat dia memelukmu mungkin aku tidak pernah menciummu semesra dirinya menciummu mungkin aku tak mampu miliki dirimu seperti dirinya memilikimu mungkin aku tak akan bisa dicintaimu selayaknya dia dicintaimu tapi aku tau hanya aku yang selalu bisa membuatmu tersenyum seperti itu jakarta, hanya aku yang bisa begitu
 vanilla smile terinspirasi dari lagu karangan Robert Smith. saya menemukan kata-kata ini ketika masih "membetot" bas gitar dan tergabung dalam sebuah band yang memainkan lagu-lagu dari band Inggris, salah satunya The Cure. karena saya senang wangi Vanilla dan senang senyum-senyum sendiri, saya merasa kata-kata itu sangat cocok untuk saya - walau banyak teman saya yang kurang setujua karena saya justru terkenal jutek saat itu. saya ingat betapa dulu banyak sekali orang datang kepada saya hanya karena mereka mengira saya mengenal mereka karena tersenyum kepada mereka. belum lagi pernah ada seorang pencari bakat menghampiri saya dan menawari saya untuk casting iklan sebuah produk pasta gigi - dan tidak saya terima karena saya pemalu - dulu. saya ingat seorang mantan pacar berkeinginan untuk mengenal saya lebih jauh hanya karena sebuah foto yang terpajang di dunia maya. sebuah foto dipinggir pantai dengan saya yang berambut sangat pendek tersenyum lebar kearah kamera sambil memegangi topi yang tertiup angin. begitu dasyatnya kah sebuah senyuman? dan nyatanya si mantan pacar memang selalu mengagumi senyum saya kala kami masih bersama. sayapun semakin sering tersenyum karena dia. hingga ketika dia tak lagi bersama saya, saya ingin melupakan senyum yang pernah saya punya itu. sebegitu dasyatnya cinta... tapi seorang mantan pacar dan cinta juga yang membuat saya semakin berkembang di dunia maya dengan Vanilla Smile. keinginan untuk melupakan sebuah senyuman yang menjadi-jadi adalah niat pertama. selanjutnya yang terjadi justru saya membuat orang lain semakin ingin tau soal sebuah senyum vanilla yang pernah saya punya. mungkin memang akan jauh lebih menyenangkan mengenal sosok saya yang lampau. seorang perempuan penuh cinta yang menjalankan setiap langkah di hidupnya atas nama cinta. jakarta, tentang senyum vanilla
 Aku menjadi buta aksara Ketika menemukan matamu. Begitu indah hingga tak terjemahkan Begitu gelap tak ada yang terjamahkan Aku tersesat dalam kata Ketika coba jelaskan rasa dimatamu Begitu kelam hingga maknanya bungkam Begitu hangat tak pernah ingin kutinggalkan Aku tak bisa membacamu Dalam setiap tatapan gelap dan kosong itu Pada sesaat rasa terkesiap yang semerta tercipta Pada suatu ketika aku menemukan aku di matamu Jakarta, aku tak bisa membaca(mu) **Maya is reminiscing every single moment together with Silverchair singing "the greatest view" and somehow still feel like it...
 di situ tubuh kita tidur telanjang lekuk demi lekuk terjangkau jengkalan di tiap pori terjejak sidik jari persetubuhan tubuhmu tubuhku tubuh kita pernah menyatu kembali hilang dalam rancu pada setiap inci kulit yang tersentuh ketika yang tak mampu teredam tak juga diingini untuk terpadam walau tau akan selalu dipendam jakarta, jejak bersetubuhan
 “one day I will be able to love again…” It’s not a wish. It’s not really a hope. But it’s definitely a will. Today I went to a coffee shop all by my self. Thinking about my life and my surroundings. Spotting people around. Realizing how beautiful they are with those laughter and smiling faces. I almost forgot how to enjoy every single scene like this, and even sometimes sharing a quite smile too. I remember how I used to share laughter with some friends. How I love to put smiles on their faces and brighten their days. And I recall every beautiful moment I made just to see those colorful happy faces. I almost forgot that I was once that person. Beautiful. That’s what they thought about me. And now I often disagree. I’m not that beautiful. I’m too painful to feel like one. Though I know, I was once a beautiful mind. Wondering how I lost it. Remembering how I’m fading and being somebody else. Reminiscing how beautiful I am in the past. It’s the love that you lost. Not “the you” that you lost. A friend told me one day. Logically I would disagree, because I know that I am lost. Loosing a beloved one doesn’t mean you have to loosing your self too. Yet I know I’m lost without my beloved one. You’re a great person. You’re tough hunter. You’re a good tracker. You always know what you want and where you’re going. It’s hard to accept that you’re lost just because you’re loosing a guy. Some of my friends said. Really? Am I that person all these times? If I am “that person” I would’ve know and I wouldn’t want to be lost forever. Being naïve. I would just say that I’m being one. You’re not that naïve; you’re too smart to be one. Once again they confront me. Am I being someone that I don’t? I remember how lovable, how irresistable and unbelievably fun i was in the past. Sensing life in a positive ways. Celebrating life and love moment by moment with cheerful smiles. Facing problems with jokes and joy. Seeing broken hearted as one of God’s gift to appreciate every love-full treatments I get from others. And realized that one day I will be loved again. It was then, but I’m willing to give my self one more try. Jakarta, in love again
|  | BBB = balada becak bondan
model : bondan & a cat props : becak & a smile location : one Senopati corner @ 5pm storyline : bondan rindu job lama, hahahaha... camera : casio exilim 7.2 megapixel edit : photoshop
photos by. maya & shinto
|
 | M | Feb 17, '08 4:29 PM for everyone |
 Does your name begin with: M(arina) You may appear innocent, unassuming and shy; but we know that Appearances can lie. When it comes to sex, you are no novice but something of a skilled technician. You can easily go to extremes, though, running the gamut from insatiability to boredom with the whole idea of love. You can be highly critical of you mate, seeking perfection in both of you. It is not easy to find someone who can meet your standards. You have difficulty expressing emotions and drawing close to lovers. You are often selfish, thinking you are always right no matter what. You never give in. Winning is your prime desire- at any cost. You often forget friends and family and you live for the moment.
it is sound like me, oh well... not bad! hhihihihih...
**taken from Kaisar Badut's multiply
 mari berciuman berbagi mulut dan kecupan mengalami nyaman mengumbar keinginan lalu rasakan rancunya pelukan saat mata bertatapan ketika bibir berpagutan dan semuanya berpaduan dengan perasaan jakarta, mari berciuman!
 | Category: | Movies | | Genre: | Romantic Comedy |
another cheesy love story... but i like Hugh Grant and Drew Barrymore, so i don't really care! :)
awalnya nonton film ini agak geli lihat Hugh nyanyi dan joged-joged ala 80s. karena terbiasa dengan perannya sebagai laki-laki Inggris yang terkesan dingin dan charming di film-film terdahulunya. tapi ini hiburan tersendiri.
ceritanya sih betul-betul standard. cowo ketemu cewe tanpa sengaja. si cowo kesepian, si cewe rapuh karena cinta lama. keduanya dipertemukan oleh ketidaksengajaan dan "keterpepetan" (maafkan bahasa saya). Alex (Hugh Grant) diminta untuk menulis lagu untuk seorang penyanyi muda yang sedang naik daun, Cora Corman, yang sepintas terlihat seperti gabungan Britney Spears, Christina Aguilera dan Shakira. dengan deadline yang singkat, Alex harus bisa menggambarkan "kesepian" Cora yang baru patah hati lewat musik dan lirik. sedang bingung-bingungnya tiba-tiba datang Sophie (Drew Barrymore) yang ternyata cukup baik bertata bahasa dan berpujangga. di satu sisi Sophie memang jago menulis namun karena sebuah kejadian (yang tentunya berhubungan dengan cinta lama) ia memutuskan untuk tidak menulis lagi.
dan begitulah, seperti kebanyakan cerita cinta lainnya yang happy ending, Alex berhasil membuat lagu untuk Cora atas bantuan Sophie. dan Sophie mendapatkan kepercayaan dirinya (dan cinta Alex, really...) everbody happy!
tapi soundtrack film ini lumayan bagus-bagus, terutama lagu yang "dibuat" Alex dan Sophie : Way back into love. Liriknya emang bagus banget...
overall... i love the music and the lyric, but not really the story :) 
 hari ini saya bertemu 3 malaikat. ketiganya sama kecil. yang 2 cantik, yang 1 lucu. entah kenapa Tuhan selalu mempertemukan saya dengan mereka di saat yang tak terduga. dan ini bukan yang pertama kali, mungkin yang ke dua ratus sembilan puluh satu kali :) hari ini saya di kantor sendirian. saya kira akan ada meeting produksi atau apalah intinya preparation for shooting. ternyata... sepi! yang membuat kantor ramai adalah antrian balita beserta orangtuanya (kebanyakan ibu atau baby sitter), saya serasa memasuki posyandu ketika pertama kali melangkahkan kaki ke dalam kantor yang ternyata lengang di dalam. sampai di ruang produksi saya mengeluarkan laptop dan membuka email, tidak ada kabar terbaru dari persiapan kali ini. saya pun memilih untuk mengerjakan Director's Description for Shooting Board. sebentar saja semua selesai. saya pun asyik-asyikan cek reply orang-orang di multiply, lalu mengintip friendster yang sepi, lantas berkutat dengan aplikasi-aplikasi baru di facebook dan akhirnya mulai bosan. untuk menepi kebosanan saya pun membuka beberapa website yang sudah ter-bookmark di laptop. namun bosan ini tak juga pergi. jakarta hujan lagi. ruangan terasa seperti kulkas, hingga saya pikir pasti aman jika menaruh es krim di ruangan ini. saya merapatkan jaket dan memakai syal di leher untuk menghalau dingin. celingak-celinguk sebentar ke ruangan sebelah yang orang-orangnya sedang autis, lalu kembali duduk malas di ruang produksi. akhirnya saya memilih untuk "terbang" ke http://gloomingcorner.blogspot.com dan mulai menulis di sana. yup! ini adalah tempat pelampiasan saya yang lain bersama seorang teman kala bosan melanda. sedang bosan-bosannya, tiba-tiba 2 orang anak perempuan berusia kira-kira 3 tahun berlari masuk ke dalam ruangan saya. setelah sebelumnya berhenti sebentar di depan pintu dan menatap saya dengan sepasang mata bulat yang begitu jernih, mereka lalu tersenyum lebar dan beranjak menghampiri saya. sayangnya ibu kedua anak tersebut keburu membawa mereka pergi sebelum mereka sempat menyapa saya. agak terpaksa mereka meninggalkan ruangan saya sambil mengintip dari pemisah ruangan yang terbuat dari kaca. keduanya masih tersenyum lebar kepada saya dengan sepasang mata "malaikat" yang mereka punya. sepergian mereka dari pandangan, saya malah mengurungkan niat menulis sejenak. mata jernih mereka menggugah saya untuk terus tersenyum. hampir selebar senyuman mereka yang begitu tulus dan bahagia. ah... mungkin saya terlalu berlebihan. tapi tidak. sampai detik saya menulis ini 8 jam kemudian pun saya masih terbayang senyum mereka dan kembali tersenyum. orang-orang di sini mungkin menganggap saya gila tersenyum-senyum kepada sebuah laptop. biarlah! di tempat ini pun saya bertemu 1 malaikat lagi. ya, saya sedang menyepi di sebuah tempat dengan koneksi internet cepat dan menyajikan blueberry cheesecake favorite saya. kali ini malaikat laki-laki kecil dengan rambut agak pirang - karena agaknya ia keturunan Belanda, saya tau dari bahasa sang ibu ketika berbicara dengannya - yang tiba-tiba muncul begitu saya di depan layar monitor laptop saya sambil tersenyum lebar-lebar. waks! awalnya saya agak kaget karena dengan telinga tersumpal lagu-lagu Mew kencang-kencang tentu saya tidak mendengarnya datang. berkali-kali ia menatap mata saya hampir tak berkedip. saya membuka earphone dan menyentuh lengannya. ia hanya tertawa sambil menunjuk-nunjuk saya dan layar monitor lantas kembali tersenyum dengan mata malaikat itu. saya ingin meraihnya dan mendudukannya di samping saya agar kami bisa browsing internet bersama. namun sang nenek keburu membawanya kembali ke tempat keluarga besarnya duduk makan malam. malaikat kecil itu meronta, minta dilepaskan, lalu kembali ke samping saya dan memperhatikan saya yang sedang serius mengedit photo seraya terus tersenyum lebar hingga saya balik tersenyum kepadanya, baru ia beranjak pergi menghampiri sang ibu. akhirnya saya berhenti mengedit photo dan memutuskan untuk menulis tentang 3 malaikat kecil yang saya temui hari ini. Terima kasih, Tuhan. Anda sudah berhasil membuat saya tersenyum hari ini. Jakarta, tersenyum bersama malaikat kecil.
 aku ingin mengingatmu seperti ini. senyum yang mengembang. mata yang terpejam. dan ketika terbuka ada sinar di sana. aku ingin mengingatmu yang seperti ini. begitu hidup. hingga hampir kulupa niatmu untuk sengaja mati. tapi tidak terjadi. aku akan selalu mengingatmu yang begini. seperti setiap kali kita selesai bercinta. jakarta, seperti setiap habis bercinta
|  | menunggu adalah pekerjaan yang paling membosankan, kecuali kalo ada yang nemenin! hahahaah...
location : perpustakaan gedung arsip nasional, jl. ampera raya - jakarta |
 Gedung Arsip Nasional Di sinilah saya berada sekarang. Mencari beberapa foto lama tentang Jakarta dan segala kegiatannya di tahun 1930-1950. Entah mengapa tempat yang seharusnya menjadi pusat informasi ini terkesan dingin dan kaku. Tidak seperti layaknya pusat informasi yang seharusnya mengajak orang untuk mau datang dan bertanya. Tempat ini terlalu asing karena memang tidak bisa dikatakan bersahabat. Tempat yang sebetulnya cukup menyenangkan untuk didatangi sendiri-tentu bila tanpa tatapan dan sapaan yang kurang bersahabat orang-orangnya-karena di sini terdapat ruangan baca yang sepi pengunjung. Mungkin mereka harusnya menambah pekerja yang usianya lebih muda, seperti anak-anak muda yang bekerja di A.K.Sara atau Starbucks Coffee. Belum lagi birokrasi pencarian informasi dan meminjaman yang cukup rumit juga lamban hingga cukup menghambat dan membuang waktu. Sekarang ini saya pun sedang terhambat karena para pekerja di sini sedang makan siang hingga tidak ada yang melayani. Padahal saya harus cepat-cepat mendapatkan foto lama tersebut. Ah… Cukup lah dengan keluhan saya, akhirnya supaya tidak jenuh dan tetap sabar, saya memilih untuk menyumbat telinga dengan lagu-lagu Muse dan menulis di laptop yang saya bawa. Anyway… di sini tidak ada fasilitias wi-fi. Entah mengapa. Karena sebagai pusat informasi seharusnya internet menjadi salah satu bagian penting. Atau mungkin ada tapi bukan wi-fi karena saya melihat ada beberapa komputer di sebuah ruangan tertutup. Andai saja ada, tentu dengan senang hati saya akan memasukan tempat ini dalam daftar “tempat menyepi” saya. Supaya saya bisa tetap meninggalkan hiruk pikuk Jakarta dan menjadi lebih pintar dengan banyak membaca tentang wacana baru atau informasi sejarah yang bisa saya temukan di sini. Setelah menunggu selama 1 jam akhirnya saya “berhasil” meminta mereka untuk mengambilkan foto-foto yang ingin saya lihat. Saya kira tidak akan menemukan birokrasi lagi, tapi saya salah. Karena 1 jam kemudian – ini juga setelah saya menunggu 1 jam sebelumnya – foto saya tidak juga hadir di depan mata. Para pegawai di sini sibuk bercanda-canda dan mondar-mandir keluar-masuk ruangan tanpa jelas sedang mengurus apa. Saya mulai bersin-bersin karena buku lama di ruangan ini memang sangat berdebu. Tak heran karena tidak sedikit buku berasal dari abad 17-19. Dengan sampul buku lapuk dan kertas yang mulai menghancur. Buku memang salah satu musuh asma saya, karena mereka kerap berdebu. Dan debu sanggup membuat paru-paru saya terhalang asupan oksigen. Tapi saya tidak bisa hidup tanpa membaca buku. Ironis. Hwaahh… saya menguap. Kantuk menyerang tak sopan. Duduk saya mulai tak tenang. Saya lapar dan sekarang sudah pukul 2 tepat! Saya mulai bermain-main dengan kursi yang saya duduki. Penglihatan saya sudah mulai hilang-hilangan karena mata yang sekali-sekali terpejam tanpa dugaan. Mana foto yang saya mintaaaaaaa… wahai para penjaga Arsip Nasional? Keluh. Sekali lagi saya mengeluh. Padahal seharusnya hari ini adalah hari yang indah, karena saya menemukan banyak buku dalam 1 ruang sepi. Mungkin hari ini Arsip Nasional bukan tempat yang sempurna untuk saya. Sekarang saya hanya ingin cepat-cepat makan, memposting tulisan ini, lalu ke kantor menghadiri internal meeting produksi dengan Director, atau sekedar mengedit foto-foto yang saya ambil untuk mengusir bosan dan membagi “kreativitas dadakan” tersebut kepada kalian. enjoy!Jakarta, Gedung Arsip Nasional
| |